![]() |
| Kota Serang/serangkaian.go.id |
Sejak abad ke-16, Serang adalah pusat pemerintahan, pusat perdagangan dan pusat kebudayaan.
Letaknya yang strategis menjadikan Kota Serang sebagai jalur utama penghubung lintas Jawa-Sumatera.
Pembentukan Kota Serang tidak lepas dari amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2000 tentang Pembentukan Provinsi Banten.
Kemudian Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2007 (yang disahkan pada tanggal 10 Agustus 2007) tentang pembentukan Kota Serang dari Kabupaten Serang.
Kota Serang lahir pada 10 Agustus 2007, yang terdiri atas enam Kecamatan yakni Kecamatan Serang, Kecamatan Kasemen, Kecamatan Walantaka, Kecamatan Curug, Kecamatan Cipocok Jaya dan Kecamatan Taktakan.
Asal Usul Nama Serang
Ada dua pendapat tentang asal kata nama “serang”. Pendapat pertama menyatakan bahwa kata “serang” berasal dari bahasa Sunda yang berarti sawah.
Pada masa Kesultanan Banten, ibukota pemerintahan berada di Banten Lama, tepatnya di Teluk Banten, di pesisir pantai Laut Jawa.
Kota Serang saat itu merupakan wilayah persawahan yang dikembangkan oleh Maulana Yusuf, beliau adalah Sultan Banten yang kedua (1570–1580).
Kegiatan pengembangan area persawahan oleh Maulana Yusuf dilakukan dengan mendorong masyarakat Banten membuka daerah baru untuk persawahan.
Pembukaan area persawahan itu disertai dengan pembuatan saluran irigasi dan bendungan untuk memenuhi kebutuhan air bagi sawah-sawah yang baru dibuka tersebut.
Untuk persawahan yang dekat dengan ibukota Kesultanan, Maulana Yusuf membangun danau buatan yang dinamakan Tasik Ardi.
Air danau Tasik Ardi berasal dari sungai Cibanten melalui saluran khusus ke danau, kemudian airnya dialirkan ke daerah-daerah persawahan di sekitar danau.
Adapun pendapat yang kedua soal asal nama “serang” yaitu berasal dari bahasa Jawa Banten, yakni “se-erang” yang berarti sekelompok atau seikat.
Kata “se-erang” dilatarbelakangi oleh pemukiman awal di kota Serang yang mengelompok. Satu pemukiman dengan pemukiman lainnya saling mengelompok yang masing-masing terdiri dari puluhan rumah.
Awal mula pemukiman di kota Serang adalah Kampung Sayabulu yang terletak di sisi selatan kampung Kaujon, yang dahulu dikenal sebagai pusat pemukiman di kota Serang.
Kota Serang merupakan kota tempat peradaban tiga zaman, yaitu zaman Kerajaan Hindu, Kesultanan Banten dan Kolonial Belanda.
Zaman Kerajaan Hindu yang merupakan bagian dari Kerajaan Padjadjaran dengan Rajanya bernama Prabu Pucuk Umun lokasinya berada di Banten Girang, sekitar Sempu.
Pada zaman Kesultanan Banten yaitu Maulana Hasanuddin sebagai Sultan Banten pertama membangun pusat Kesultanannya di sekitar Muara Cibanten pesisir Teluk Banten yang sekarang selalu disebut Banten Lama.
Sementara itu pada zaman Kolonial Belanda, Belanda membangun pusat kotanya diantara Banten Girang dan Muara Cibanten, sekarang masuk dalam wilayah Kelurahan Kota Baru Kecamatan Serang.
Dari ketiga babak peradaban tersebut, kota serang meninggalkan beberapa warisan budaya, diantaranya 12 cagar budaya, 3 museum, 3 warisan budaya takbenda, dan bahasa yang sampai dengan saat ini masih terjaga kelestariannya.
.jpeg)