![]() |
| ilustrasi/pixabay.com |
Sebagai negara dunia ketiga, Indonesia merupakan salah satu negara yang tingkat ekonomi digitalnya sangat tinggi. Nomura Research (2016) melaporkan bahwa Indonesia memiliki transaksi e-commerce hingga mencapai 1,2 persen dari nilai transaksi ritel di tahun 2016, yang mencapai 65 triliun rupiah.
Data tersebut memberikan bukti bahwa Indonesia merupakan negara yang cukup terbuka dengan modernisasi terutama dalam hal ekonomi digital. Maraknya pemberitaan melalui media massa dan media sosial mengenai mudahnya penggunaan transaksi e-commerce dengan berbagai macam keuntungan lainnya juga turut mempengaruhi peningkatan transaksi -commerce.
Mengutip Sumiati (2018) peningatan e-commerce misalnya dalam situs Tokopedia dari data yang dirilis di tahun 2014 melaporkan bahwa produk yang paling banyak dibeli konsumen di Tokopedia adalah produk kecantikan dan produk kesehatan, lalu diikuti dengan pakaian, fashion, aksesoris dan gadget. Produk-produk ini merupakan produk yang kebanyakan diminati oleh perempuan.
'Aku Belanja Maka Aku Ada'
Jika seorang filsuf Rene Decrates menggambarkan keberadaan manusia adalah bagian dari proses berpikir yang disebut "Cogito Ergo Sum" yang artinya "Aku Berikir Maka Aku Ada", maka untuk menggambarkan tingginnya tingkat konsumsi perempuan, Jean Bourdrillar mengungkapkan "Aku belanja maka aku ada" "I shop therefore I am". Teori konsumerisme Bourdrillar mengungkapkan konusmerisme merupakan bentuk usaha agar kaum perempuan diakui oleh masyarakat dimana mereka berada.
Manusia sejatinya tidak akan pernah merasa puas dengan kebutuhan-kebutuhannya. Mereka lebih cenderung melakukan perilaku konsumsi bukan karena kebutuhan (need) tapi hanya sebatas memenuhi hasrat (desire). Konsumsi yang dilakukan oleh kaum perempuan, seringkali lebih mempertimbangkan perihal bagaimana pandangan masyarakat di lingkungan sosialnya daripada mengedepankan fungsi.
Label atau brand, jauh menjadi lebih berharga dibandingkan seberapa tinggi kualitas barang. Perilaku konsumerisme dan keinginan untuk diakui inilah yang pada akhirnya menjadikan kaum perempuan memerlukan banyak varian barang, walaupun dengan fungsi yang sama.
Penyebab Tingginya e-commerce
Tingginya transaksi e-commerce disebabkan oleh banyak kemungkinan, salah satunya adalah dijadikannya perempuan sebagai objek komonditi dan eksploitasi. Dijadikannya perempuan sebagai model pemasaran sebuah produk, misalnya, ini sangat mempengaruhi pemaknaan terhadap perempuan oleh masyarakat dan kaum perempuan itu sendiri.
![]() |
| ilustrasi/pixabay.com |
Pencitraan "perempuan sempurna" oleh beberapa iklan produk menjadikan mereka harus mengkonsumsi produk-produk tertentu agar diakui sebagai bagian dari kesempurnaan tersebut. Belum lagi tuntutan publik, yang lahir akibat pencitraan itu sendiri bahwa wanita harus selalu tampil indah dan sempurna.
Pencitraan ini semakin diperkuat dengan luasnya jaringan ekonomi era digital. Sebagaimana dikatakan oleh Joseph Turow (2014), bahwa sentralitas kekuatan perusahaan adalah kenyataan langsung di jantung era digital, dan perempuan adalah aktor dominan dalam perdagangan berbasis daring tersebut.
Perilaku konsumerisme perempuan melalui perdagangan secara daring memunculkan dua dampak yaitu positif dan negatif. Dampak positifnya, mudahnya menggunakan transaksi e-commerce bagi perempuan selaku pengguna. Sedangkan dampak negatifnya transaksi dengan menggunakan e-commerce dapat merugikan pelaku ekonomi konvensional, seperti pemilik ruko, toko kelontong, pedagang di pasar tradisional dan lain sebagainya.
Dengan demikian, perlu kiranya perilaku konsumerisme perempuan diseimbangkan. Penyeimbangan ini dapat dilakukan dengan menggunakan transaksi konvensional dan dan e-commerce secara seimbang, sehingga tidak hanya melulu melakukan transaksi e-commerce namun juga transaksi secara konvensional.***

