Iklan

 

Filsafat Ilmu Pengetahuan/pixabay.com

Pada suatu hari saya mendapatkan pertanyaan dari seorang mahasiswa mengenai ilmu dan pengetahuan. Dia mahasiswa baru dan orangnya memang kritis. Pada saat itu kebetulan saya sedang berada di kosannya untuk sekedar diskusi tentang seputar ilmu pengetahuan. Dan dengan penuh penasaran mahasiswa itu bertanya .... Apakah pengetahuan itu? Apakah ilmu itu? Apakah perbedaan antara ilmu dan pengetahuan itu? 

Mempertanyakan ilmu dan pengetahuan, sesungguhnya adalah pertanyaan yang sangat mendasar, dan ini berkaitan dengan asal mula dari ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dulu ketika saya kuliah semester satu saya pernah dihadapkan pada satu mata kuliah bernama filsafat ilmu. Dosen saya waktu itu bertanya sama persis seperti pertanyaan mahasiswa tadi. Artinya kita punya PR yang sama .. dan saya kita membahasnya bersama ...

Tapi sebelum kita membahasnya lebih jauh, yang harus kita pahami terlebih dahulu adalah kita harus bisa merefleksikan pengalaman-pengalaman kita kedalam pembahasan ini. Hal ini agar pembahasan kita tidak monoton dan mudah dimengerti. Kita akan membahasnya dari teori ke realita (kenyataan) atau dari kenyataan ke teori. Dua-duanya mungkin sama saja ...

Waktu kecil saya pernah penasaran pada kawat bekas kembang api, sebenarnya saya tahu kalau kawat itu panas tapi saya ingin mencobanya, dan saat saya memegangnya ternyata panas, seketika itu saya menangis kesakitan, dan saya dimarahi orang tua saya ... kita tahu bagaimana marahnya orang tua saat anaknya nakal pada sesuatu yang dapat membahayakan diri kita. Saya hanya ingin membuktikan benarkah kawat itu panas ... ini pengalaman konyol memang.

Kalian pernah mengalami hal yang serupa? Mungkin tidak, tapi saya yakin sekecil apapun itu, masing-masing dari kita punya pengalaman meskipun pengalaman itu berbeda. Sejak kecil kita sudah belajar, kita diajari oleh orang tua kita, atau kerabat kita atau yang punya kakak mungkin oleh kakak, teteh atau orang lain seperti tetangga, atau siapa pun itu, yang pasti kita pernah diajari mengenai banyak hal. 

Salah satu hal yang paling mendasar saat kecil, kita diajarkan untuk tahu! agar kita punya pengetahuan. Ya, kita sebetulnya sudah diajarkan pengetahuan dengan cara diberitahu, kita diperkenalkan kemudian kita mengingatnya. Contoh sederhananya saat kita berusia 3 sampai 5 tahun, bahkan  di usia 1 dan 2 tahun kita sudah diajari untuk tahu. Dan itu terus berlanjut hingga kita tumbuh remaja dan hingga sekarang terus sampai dewasa ...

Kita sudah mengenal pengetahuan sejak kita kecil dari hal-hal yang sederhana. Kita tahu sesuatu itu dari orang terdekat kita. Kita tahu Bapak, Ibu, Kakak, dan lain sebagainya. Tapi kita mengetahui itu dari pengalaman, yang dibantu oleh orang-orang terdekat kita. Akhirnya kita mulai mengetahui banyak hal, kita mulai tahu nama-nama mainan dan lain sebagainya. 

Lingkungan sangat berperan penting dalam memberikan kita pengetahuan, apalagi di era teknologi seperti sekarang ini. Anak kecil memiliki akses informasi melalui internet dan media sosial. Anak kecil zaman sekarang sudah diperkenalkan teknologi sejak dini oleh orang tuanya dan itu menambah pengetahuannya. Berbeda dengan dulu, kita hanya diperkenalkan kepada hal-hal yang nyata di lingkungan kita, pun halnya saat kita memasuki kehidupan bermain. 

Berkat upaya kolektif (bersama) manusia selama berabad-abad, manusia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luas tentang dunia. Informasi yang kita dapat kemudian dihimpun dan dikembangkan. Setelah melalui proses dan sistematisasi, informasi ini kemudian menjadi dikenal sebagai "ilmu" dalam arti yang lebih luas, jumlah seluruh gagasan manusia tentang kosmos (alam semesta). Di dalamnya tercakup juga filsafat, sebuah produk dari upaya kolektif manusia yang diberi bentuk logika yang khusus (Murtadha Muthahari). 

Untuk membedah ilmu dan pengetahuan kita memerlukan filsafat. Kita sebetulnya sudah diajari filsafat itu, sebagai contoh saat sedang banyak orang di rumah kita kemudian kita lewat ketengah, kita harus membongkokan badan dengan mengatakan permisi, atau punten (bahasa sunda). Itu adalah filsafat, masyarakat kita menganggap bahwa apabila kita nyelonong tanpa permisi itu sesuatu yang buruk, tidak  punya sopan santun dan tata krama. Dalam filsafat apa yang dianggap baik dan mana yang buruk disebut (etika). 

Tak hanya itu kita juga diperkenalkan pada logika dan estetika. Orang tua zaman dulu selalu melarang kita banyak hal, yaitu apa yang kita kenal dengan pamali. Pamali adalah kata larangan dari orang tua kita dulu. Dulu, mungkin sekarang tidak, sebagai contoh, kita tidak boleh duduk di pintu masuk, katanya pamali. Atau kita juga tidak boleh makan sambil berdiri, nanti kita bisa jadi kuda. 

Bukan tentang buktinya saya tidak jadi kuda, bukan! Sesungguhnya itu adalah logika, meskipun tidak semuanya bisa diaknai logika. Larangan atau pamali kalau kita duduk dijalan pintu masuk memang hal itu dapat mengahalangi orang masuk. Kemudian larangan untuk tidak makan sambil berdiri memang makan itu harus sembari duduk, karena tidak baik bagi kesehatan. 

Seorang spesialis Saraf RS PKU Muhammadiyah Bantul dr Ana Budi Rahayu, Sp.S mengatakan, bila seseorang makan sambil berdiri, maka akan terjadi reflux asam lambung (rsinamira.com). Kita sekarang tahu, kalau hal tersebut tidak dibenarkan baik secara agama maupun secara medis. Maka dalam filsafat apa yang benar dan apa yang disebut salah adalah logika. 

Selanjutnya dalam tradisi zaman dulu, orang tua kita juga pernah mengajarkan untuk menjaga kebersihan, terutama kebersihan tubuh kita, misalnya kita harus menggosok gigi sebelum tidur. Sekarang saya yakin semua orang sudah memakai sikat gigi pepsodent, kalau enggak berarti jorok, tapi mari kita lihat orang tua jaman dulu mereka menggunakan apa? 

Orang tua saya dulu untuk membersihkan gigi mereka menggunakan serabut kelapa, dan agar gigi mereka kuat mereka pake mengunyah daun sirih. Kita sekarang tahu bahwa orang tua kita zaman dulu memanfaatkan berbagai hal untuk kebutuhan mereka. Mereka menyadari bahwa pengetahuan hidup bersih itu sangat penting, terutama menjaga kebersihan gigi agar tidak sakit gigi, gigi kuning atau item. Dalam filsafat apa yang disebut indah dan jelek maka disebut (estetika). 

Perbedaan ilmu dan Pengetahuan

Perbedaan ilmu dan pengetahuan/pixabay.com

Sampai disini saya yakin pembaca pasti masih bingung! Maafkan saya, karena belum bisa menjadi penulis yang baik. Pembaca mungkin bertanya, kenapa tidak menjelaskan dari asal usul katanya? Ini rumit, tapi baiklah akan coba saya akan jelaskan. Semoga maklum, karena apa yang saya jelaskan diatas itu hanyalah refleksi saja.  Kita akan memulainya dari perbedaan ilmu dan pengetahuan. Saya pernah ditanya lagi, masih oleh dosen yang sama, ia bertanya "Wardi, apakah perbedaan ilmu dan pengetahuan itu?, duluan ilmu atau pengetahuan?" tanya dosen saya.

Dalam paragraf kesembilan diatas sudah saya singgung. Saya mengutip Murtadha Muthahari, bahwa setelah melalui proses dan sistematisasi, informasi ini kemudian menjadi dikenal sebagai "ilmu" dalam arti yang lebih luas, jumlah seluruh gagasan manusia tentang kosmos (alam semesta)". Maksudnya adalah ilmu itu pengetahuan-pengetahuan yang sudah tersistematis. Sistematis artinya sudah melalui tahapan pengujian kebenaran, dalam ilmu fiqih kita mengenalnya tartib. Apa itu tartib,? tartib itu artinya berurutan, "Nu paneuri dipaneurikeun, nu heula diheulakeun," begitu dalam Bahasa Sundanya. Dalam hukum fiqih contoh saat berwudhu kita tidak boleh membasuh kaki terlebih dahulu, tapi harus berurutan. Begitu maksudnya ...

Apakah pengetahuan itu? menurut hemat saya pengetahuan adalah kumpulan dari berbagai informasi mengenai segala hal, baik yang nampak (nyata) maupun tak nampak (abstrak). Sedangkan ilmu adalah kumpulan dari pengetahuan yang sudah terverifikasi kebenarannya secara logis, rasional, etis, estetis dan sistematis. Dalam filsafat ia memenuhi aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Lalu bagaimana jika digabung menjadi ilmu Pengetahuan? Ilmu Pengetahuan adalah pengetahuan yang diatur secara sistematis dan langkah-langkah pencapaian dipertanggungjawabkan secara teoritis. 

Suatu itu bisa dikatakan ilmu jika memenuhi ciri-ciri berikut ini; pertama, bersifat rasional (masuk akal); kedua, didukung berdasarkan fakta emipiris; ketiga, bersifat objektif bukan subjektif. Saya contohkan, apakah kamu tahu roti? saya yakin semua orang tahu, bahkan anak sekolah SD pun tahu apa itu roti, paling tidak mereka akan menunjukan ini adalah roti.  Semua orang tahu, tapi belum tentu bisa membuatnya, karena dalam membuatnya harus ada upaya sistematis (ilmu). 

Contoh sedehana lain umpamanya, Apakah kamu tahu bakwan? Saya yakin semua orang tahu bakwan, dan setidaknya kita akan menjawab bakwan itu makanan, tidak mungkin kita mengatakan bakwan itu peralatan, atau bakwan itu tepung yang dicampur sayuran kol, wortel, terigu, dan lain sebagainya. Jawaban yang paling tepat adalah bakwan itu adalah salah satu jenis makanan yang digoreng. Tapi bagaimana cara membuat bakwan itu? nah, ini tidak semua orang bisa, karena ada upaya sistematis dalam membuatnya. Upaya sistematis ini adalah salah satu ciri dari ilmu tadi. 

Itu hanyalah salah contoh sederhana saja, ada banyak contoh rumit yang dalam mempelajarinya kita membutuhkan belajar. Misalnya kita tahu pesawat, tapi kita tidak tahu bagaimana cara membuat pesawat. Tapi sebelum kita mengetahui bagaimana cara membuat pesawat, kita tentu harus tahu, kita harus kuliah dimana, kemudian jurusan apa, dan lain sebagainya. Tidak mungkin kita ingin bisa membuat pesawat tapi mengambil jurusan kedokteran. Ini logika yang salah ....

Filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah). Dan ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu (seperti yang disebutkan sebelumnya diatas). Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan-permasalahan teknis yang bersifat khas, maka filsafat ilmu ini sering dibagi menjadi filsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial (Lihat, Jujun, S, 2010). 

Sumber-Sumber untuk Mendapatkan Pengetahuan 

"Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan ragu-ragu, dan filsafat dimulai dengan keduanya, (Jujun S, 2010). 

Sumber-sumber untuk mendapatkan ilmu pengetahuan/pixabay.com

Setelah kita memahami perbedaan ilmu dan pengetahuan, agar menambah pemahaman kita soal itu, saya akan mengajak pembaca untuk mencari tahu bagaimana cara mendapatkan pengetahuan atau metode apa saja yang bisa kita dijadikan untuk mendapatkan pengetahuan (sumber pengetahuan)? Contoh, darimana kita bisa tahu roti? darimana kita bisa tahu bakwan,? atau darimana kita bisa tahu kalau itu pesawat? dan lain sebagainya. Itu hanya salah satu pertanyaan dari kelompok-kelompok pertanyaan yang ada. 

Pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan ini dikelompokan menjadi tiga jenis yaitu ontologis, epistemologis, dan askiologis. Yang dimaksud ontologis, yaitu apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut, contoh objeknya tadi bakwan. Yang dimaksud dengan epistemologis yaitu berkaitan dengan bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tersebut? Contoh bagaimana cara membuat bakwan, nah ini bisa kita ketahui melalui empiris (pengalaman atau pengamatan oleh pancaindera). Sedangkan aksiologis yaitu berkaitan dengan, untuk apa pengetahuan termaksud dipergunakan. Contoh untuk apa pembuatan bakwan tersebut,? ya tentu untuk dikonsumsi. 

Membahas metode berarti mempertanyakan bagaimana kita memperoleh pengetahuan? Nah berarti berkaitan dengan epistemologi. Ingat, jika pertanyaannya, mempertanyakan cara maka berarti epistemologi. Sebagai contoh kita memiliki pengetahuan tentang cara membuat bakwan, pertanyaannya darimana kita mendapatkan pengetahuan tersebut? Kata orang lain? dari buku? dari internet atau darimana? Pengetahuan kita itu harus benar, jangan sampai hanya sebatas menduga-duga, kita harus bisa mempertanggungjawabkannya. 

Mengenai hal ini, Louis O. Katsoff dalam bukunya "Pengantar Filsafat" menyebutkan metode-metode dalam mendapatkan ilmu pengetahuan, yaitu empirisme, rasionalisme, fenomenalisme, dan metode ilmiah. Ini adalah metode juga sumber-sumber pengetahuan kita. Saya tidak akan menjelaskan semuanya, sebagai contoh saja saya akan menjelaskan empirisme yang menjadi sumber pengetahuan kita. 

Empirisme artinya pengalaman berarti pengalaman itu berkaitan dengan pancaindera seperti melihat, merasa, meraba, mencium bau. Penggunaannya tergantung apa yang menjadi objek kajiannya. Contoh darimana kita bisa tahu kalau makanan itu sudah busuk, kita jawab "dari warnanya, atau dari aromanya sudah bau busuk". Nah, kita mendapatkan pengetahuan itu dari pengalaman yang disebut empirisme. 

Untuk sumber-sumber pengetahuan lainnya ... silahkan komentar jika ingin mendapatkan pembahasan lebih lanjut guna membangun blog ini .... semoga bermanfaat ... 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama