![]() |
| ilustrasi/pixabay.com |
Untuk apa belajar filsafat,? pertanyaan itu sering ditanyakan oleh orang awam yang penasaran untuk mempelajari filsafat.
Apakah yang akan kita dapatkan setelah kita mempelajari filsafat? jawabannya menurut saya kita akan memiliki pondasi berpikir.
Ada banyak orang atau mahasiswa yang belajar namun karena pondasi berpikirnya belum kokoh, apa yang dipelajarinya sulit untuk dipahaminya.
Pondasi berpikir ibatakan pondasi rumah, apabila pondasinya belum kuat maka sebagus apapun bata dan genting yang ia pasang maka akan runtuh.
Sama halnya dalam belajar, apabila kita belum memiliki pondasi seperti memahami dasar-dasar ilmu pengetahuan, maka kita akan kesulitan untuk mengembangkan bidang keilmuan kita.
Banyak mahasiswa yang saat ini mungkin semester akhir dan sebentar lagi akan menyusun skripsi, karena tidak memiliki pondasi berpikir, ia kebingungan apa masalahnya, bagaimana cara menyelesaikan masalahnya dan apa mafaatnya.
Sesungguhnya pembuatan karya ilmiah itu membutuhkan metode kefilsafatan, perenungan dan konsep yang logis, terukur dan sistematis.
Didalam karya ilmiah ada latar belakang, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat.
Maka dalam filsafat mempertanyakan apa berarti "ontologi", mempertanyakan bagaimana berarti "epistemologi" dan mempertanyakan apa manfaatnya berarti "aksiologi". (Lihat Jujun. S Suriasumantri).
Pondasi berpikir ini sangat penting sebelum kita mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Kita mungkin sering mendengar berkali-kali bahwa filsafat itu adalah induknya ilmu pengetahuan.
Jadi sebelum membicarakan cabang-cabang ilmu lain kita harus menguasai induknya dulu baru ke cabang-cabangnya. Kita masih kekurangan kosa kata sehingga kita sulit untuk berlogika.
Manfaat belajar filsafat akan kita rasakan setelah kita benar-benar memahami dasar-dasar filsafat itu sendiri.
Dasar-dasar filsafat itu seperti ciri-ciri pemikiran kefilsafatan, cabang-cabang ilmu filsafat dan istilah-stilah penting dalam ilmu filsafat.
Ciri-ciri berpikir kefilsafatan yang umum seperti berpikir rasional, kritis, radikal, universal, sistematis, analitis dan lain sebagainya.
Sedangkan cabang-cabang dasar dalam ilmu filsafat seperti kita memahami apa itu logika, etika, dan estetika.
Kemudian kita juga memahami apa itu ontologi, epistemologi dan aksiologi, kemudian bagaimana cara penggunannnya.
Pertanyaannya apakah kita sudah memahami itu semua?
Jika belum maka kita akan mengatakan belajar filsafat itu percuma, hanya akan membuat kitas pusing. Belajar filsafat itu muter-muter disitu saja.
Nah, jangan sampai kita beranggapan seperti itu, maka apabila kita menemukan mahasiswa mengatakan demikian maka dia belum mendapatkan manfaat dari belajar filsafat itu sendiri.
Menurut saya filsafat memberikan dasar-dasar baik untuk hidup kita sendiri terutama dalam hal etika maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan lainnya seperti sejarah, sosiologi, ilmu jiwa, ilmu pendidikan dan sebagainnya.
Filsafat memberikan pandangan yang luas kepada kita, hal ini untuk menghindari dari akuisme atau aku sentrisme artinya untuk menghindari dari segala hal yang melihat dan mementingkan kepentingan serta kesenangan diri sendiri.
Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri. Kita tidak hanya ikut-ikutan saja tetapi secara kritis kita menyelidiki apa yang dikemukakan orang. Kita mempunyai pendapat sendiri, berdiri sendiri dengan cita-cita mencari kebenaran.
Filsafat menolong, mendidik dan membangun diri kita sendiri. Dengan berpikir lebih mendalam, kita menyadari dan mengalami tentang kerihanian kita.
Rahasia hidup yang kita selidiki justeru memaksa kita berpikir, untuk hidup dengan sesadar-sadarnya dan memberikan isi kepada hidup kita sendiri.
Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari.
Dalam filsafat, kita dilatih melihat dulu apa yang menjadi persoalan dan ini merupakan syarat untuk memecahkannya. ***
