![]() |
| Pengalaman Awal Belajar Menulis |
Semoga menginspirasi teruntuk buat diri saya sendiri. Ini adalah kisah pengalaman saya pada saat awal belajar menulis. Menulis itu susah kalau gampang mungkin sudah banyak penulis. Menulis itu seni, ya seni berbahasa dan hanya orang-orang yang memiliki senilah yang bisa menulis ...
Tak cukup hanya sekedar memiliki pengalaman, tak sekedar memiliki banyak pengetahuan, menulis itu berbeda dari belajar untuk belajar tahu, kalau kita ingin banyak tahu ya kita tinggal membaca, tapi menulis tidak sesederhana itu, kita tahu banyak hal tapi belum tentu kita bisa menuliskannya.
Meskipun banyak orang yang mengatakan menulis itu gampang. Tapi, tidak segampang mengucapkannya. Menurut saya menulis itu sulit karena bukan soal intelektual tapi juga soal mental. Menulis itu seperti pematung yang mengukir kayu, ia membutuhkan kreativitas ....
Saya masih ingat betul, saat pertama kali saya belajar menulis, tidak pernah diajari, saya belajar sendiri. Awalnya saya tidak ada niat untuk menjadi seorang penulis, saya hanya membaca dan membaca. Pada waktu itu saya hanya ingin tahu dan mengerti banyak hal, kemudian saya ungkapkan melalui forum diskusi.
Saya hanya ingin seperti senior-senior saya di organisasi pandai public speaking, bisa menyampaikan ide dan gagasannya kepada orang lain. Saya hanya ingin lantang berbicara, saya hanya ingin pintar berdialektika dan beretorika. Saya hanya belajar keterampilan berbicara agar bicara saya berisi dan penuh makna ...
Tapi saat ini, saya sadar bahwa berbicara tidak selamanya didengarkan, terlebih apa yang kita bicarakan soal ilmu pengetahuan, sedikit sekali orang yang menyukainya, berbeda dengan ghibah, sepontan orang lancar berbicara kalau sudah membicarakan orang lain. Saya sadar, bahwa hanya dengan menulislah kita bisa menyampaikan ide gagasan kita, dan ide gagasan kita itu abadi ...
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” demikian kata Pramoedya Ananta Toer.
Dari situlah saya mulai belajar sungguh-sungguh agar bisa menulis. Ingat bukan menjadi seorang penulis ya, tapi ingin bisa menulis. Penulis itu profesi, tapi kalau bisa menulis itu keterampilan. Keterampilan berbahasa dengan baik dan benar, juga keterampilan berimajinasi menembus ruang waktu yang membangkitkan emosi.
Satu-satunya cara agar kita bisa menulis bagi saya adalah dengan membiasakan. Kebiasaan itu artinya kita konsisten terus menulis meskipun tidak berurutan apa sebenarnya yang ingin kita sampaikan. Awal-awal menulis kita jangan berpikir bagus dulu, karena memang sudah pasti jelek tapi nanti juga bagus kok, yakin ajh, yang penting kita evaluasi setiap tulisan-tulisan kita terdahulu.
Saya belajar menulis dengan pembiasaan, setiap hari saya menulis, meskipun tulisan saya itu kadang hasil copy paste yang saya klaim jadi tulisan saya. Tapi sekarang tidak, meskipun demikian tak apa, asalkan kita mengetik ulangnya dari buku.
Kita memang kadang-kadang perlu mengapresiasi diri kita, agar kita tetap terbiasa untuk menulis. Maka, tetaplah semngat bagi yang sekarang berusaha agar bisa menulis. Semoga memiliki mental tangguh, jangan ingin mendapat pujian dari orang lain, teman, senior, dan yang lainnya, tetaplah belajar smeskipun menemui ungkapan-ungkapan yang kadang menyakitkan.
Pernah suatu ketika saya, saya terus menulis kemduian saya bagikan tulisan saya itu ke grup-grup yang disana ada senior kita. Semua orang ketika membuat tulisan kemudian di sebar link tulsianya, saya yakin bukan untuk nyari keuntungan, tapi hanya ingin diapresiasi, seperti bagus! keren! atau kalau tidak komentar memberikan kritik yang membangun.
Tapi lagi-lagi kita jangan harap demikian, tetap menulislah untuk diri kamu sendiri, jangan ada harapan ingin dipuji, atau apalah itu. Kita menulis untuk diri kita, mengasah pengetahuan kita, memperdalam pemahaman kita. Pokonya jangan sampai kalian mengalami seperti yang pernah saya alami. Saya dulu pernah berharap belajar dari orang-orang yang katanya sudah punya pengalaman di dunia tulis menulis ...
Tapi apa yang saya dapat, bukannya ilmu yang saya dapatkan, tulisan saya itu bukan sekedar di kritik, bukan dikasih masukan, tapi apa dia bilang? Saya dihina, dicaci dimaki! betapa menyakitaknnya, apalagi yang mengatakannya itu katanya sudah keren-keren tulisannya, sudah tembus ke berbagai media nasional.
Dalam hati saya berbicara, dia mungkin pintar menulis, tapi dia tidak pandai berbicara, bicaranya bau busuk seperti sampah!, dalam hati jelek saya. Tapi saya langsung istighfar, dan mencoba muhasabah diri, mungkin memang tulisan saya itu jelek, kalau kata dia tidak mengalir ,,, meskipun saya sendiri tidak tahu apa maksud mengalir yang dikatakannya.
Tulisan saya katanya tidak bermanfaat, tapi kata saya dalam hati manfaat atau tidaknya kan tergantung kebutuhan pembaca. Kalau pembaca mencarinya hanya sekedar pengertian suatu ilmu contoh pengertian politik, bagi dia tulisan pengertian politik lebih bermanfaat daripada tulisan analisis yang tidak kita pahami.
Saya sempat down, saat dicaci oleh senior saya sendiri. Meski demikian, hal itu tidak membuat saya berhenti untuk belajar menulis, bahkan hingga sekarang. Saya mencoba bertanya kepada teman, senior yang lain soal tulisan saya itu. Menang mungin tidak bagus, tapi katanya tidak buruk-buruk amat.
Lama kelamaan menulis menjadi hoby saya, saya setiap hari membaca kemudian menuliskannya kembali. Untuk mengembangkan hobi saya ini saya mengikuti berbagai pelatihan tentang menulis. Pada waktu itu saya belajar menulis dari hal yang sederhana seperti membuat berita peristiwa atau seputar kegiatan saya diorganisasi.
Terkahir saya ikut pelatihan menulis atau dalam bahasa sekarangnya conten creator di Pikiran Rakyat Media Network (PRMN). Saya diajak oleh senior saya, dan setelah itu saya bergabung dengan media Referensi Berita.com bersama senior saya itu. Lalu apakah saya sekarang sudah menajadi penulis? Ya tetap belum sih, wkwk ... judulnya kan hanya pengalaman awal belajar menulis, bukan menjadi penulis hebat atau profesional ...
Jadi cukup sekian .... tetap belajar menulis. Menulislah bukan untuk mencari prestise, tapi menulislah karena ingin beramal dan berbagai pengetahuan. Niatkan aktivitas kita ini sebagai ibadah, jika tidak mendapat kebaikan di dunia pun, semoga Allah SWT limpahkan kebaikan berlipat ganda kepada kita kelak ...
