![]() |
| Ilustrasi/pixabay.com |
Saladin dilahirkan di Kurdisk, Tikrit. Oleh ayahnya, ia kemudian dikirim ke Damsyik untuk belajar ilmu pengetahuan. Selama sepuluh tahun ia tinggal di Damsyik di kawasan istana milik Nur ad Din. Ayah Saladin, Najm ad-Din Ayyub, seorang Gubernur Baalbek.
Pendidikan militer didapatkan Saladin dari saudara ayahnya, Shirkuh yang pada waktu itu merupakan panglima perang Nur al Din, dan sering mewakili Nur al Din dalam kampanye melawan Kerajaan Fatimiyyah di Mesir. Tugas untuk melawan Kerajaan Fatimiyah kemudian diserahkan kepada Saladin. Berkat keberhasilannya, dia diangkat jadi panglima perang pada tahun 1169 M.
Sewaktu masih menjadi panglima perang di Mesir, wilayah ini merupakan salah satu benteng umat Islam, dari gempuran pasukan Salib. Awalnya, Saladin diragukan bisa bertahan dari gempuran Kerajaan Latin Baitulmaqddis pimpinan Almaric I. Akan tetapi, setelah ia berhasil menunjukan kepiawaiannya di medan perang sedikit demi sedikit orang-orang yang meragukan Saladin mulai luruh.
Setelah Numuddin wafat, Saladin langsung mengambil alih posisi panglima perang. Langkah pertama yang dilakukan Saladin untuk mengalahkan pasukan Salib ialah dengan mengorganisasikan kekuatan. Ia mengumpulkan kekuatan di Siria yang awalnya terpecah belah.
Saladin beberapa kali melakukan serangan-serangan terhadap pasukan Salib. Pada 25 November 1177 M, Saladin bertempur dengan pasukan Salib dalam Perang Montgisard. Pada waktu itu pasukan Salib dipimpin oleh Raynald dan Ksatria Templar dan pada peperangan ini Saladin mengalami kekalahan.
Usai kekalahan tersebut, Saladin tidak mundur. Justeru ia bergerak maju kembali sehingga bisa mengusir pasukan Salib. Selama pada masa perang ketegangan diantara kedua kubu semakin memanas ketika Raynald mengganggu para pedagang dan orang-orang yang berangkat haji di Laut Merah.
Reynald juga mengancam akan menyerang Mekkah dan Madinah. Terhadap tindakan tersebut Saladin menyerang kubu Raynald di Kerak pada tahun 1183 M dan 1184 M. Sebagai balasan terhadap serangan Saladin, pada tahun 1185 M Reynald membunuh kabilah yang akan menunaikan ibadah haji.
Tindakan tersebut, tentu membuat umat Islam marah. Sebagai pimpinan pasukan Islam, Saladin segera melancarkan serangan besar-besaran. Pada 4 Juli 1187 M, pecahlah Perang Hittin. Dalam peperangan ini pasukan Sladin memperoleh kemenangan besar dan berhasil menanngkap Reynald. Saladin kemudian memancung kepala Reynald di depan pasukannya.
Kemenangan dalam Perang Hittin menambah semangat kaum Islam. Bersama pasukannya, Sladin terus bergerak dan merebut kota-kota yang dikuasai Pasukan Salib. Puncaknya, pada 2 Oktober 1187 M, Saladi berhasil merebut kembalin Yerussalem.
Berbeda ketika pasukan Salib merebut kota ini dengan membantai seluruh umat Islam, Saladin membiarkan umat Kristen aman di dalamnya. Mereka diberikan jaminan untuk menjalankan ibadah. Berita bahwa Saladin tidak melukai satupun umat Kristen. Membuat Paus di Roma mati mendadak karena terkejut ada manusia semulia itu.
Keberhasilan Saladin ini terus dikenang sepanjang masa. Sikap ksatrianya membuat dirinya dihormati oleh lawan maupun kawannya. Orang-orang Eropa yang biasanya menganggap sebelah mata pahlawan-pahlawan Islam begitu menghormati Saladin. Sastrawan Eropa, Dante dalam Limbo dan Sir Walter Scott dan The Talisman, menjadikan Saladin sebagai tokohnya. Sementara itu, Raja Richard memuji Saladin sebagai seorang putera agung dan merupakan pemimpin paling hebat dalam dunia Islam.
Akhirnya, Saladin, Sang Penakluk Yerussalem, wafat pada 4 Maret 1993 M, di Damsyik, tidak lama setelah kematian Raja Richard. Ketika umat Islam membuka peti milik Saladin guna membiayai penguburan, mereka hanya mendapatkan sekeping uang emas dan empat uang perak. Selama hidupnya, Saladin memang telah memberikan haratanya untuk fakir miskin.
Kini, Saladin terbaring dengan tenang di pusaranya yang berada di dekat Masjid Umayyah, Suriah.***
Bahan Bacaan: Hyphatia Cneajna, Dracula: Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib,
