Iklan

Lima tokoh yang akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun 2022/Direktorat SMP

Pahlawan Nasional merupakan gelar yang diberikan kepada seseorang yang berjuang melawan penjajahan yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara.

Pahlawan Nasional adalah orang yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

Menurut  Nur Fatin, (2018), jenis gelar Pahlawan Nasional dibagi menjadi empat jenis yakni Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Pahlawan Proklamator, Pahlawan Kebangkitan Nasional, dan Pahlawan Revolusi. 

Pahlawan Kemerdekaan Nasional adalah seseorang yang semasa hidupnya telah berjasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Pahlawan Proklamator adalah Pahlawan yang telah berjuang hingga titik darah penghabisan dan hingga akhirnya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Pahlawan Kebangkitan Nasional adalah seseorang yang telah berjasa dalam membangkitkan rasa cinta tanah air, semangat persatuan, dan kesatuan, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Contoh tokoh pendiri Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928).

Adapun Pahlawan Revolusi adalah gelar yang diberikan kepada sejumlah perwira militer yang gugur dalam tragedi G30S yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta pada tanggal 30 September 1965. 

Sejak berlakunya UndangUndang Nomor 20 Tahun 2009, gelar ini telah diakui juga sebagai Pahlawan Nasional.

Sementara itu, Menteri Kordinator Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia (Menkopolhukam) Mahfud MD menyebutkan 5 tokoh yang dianugrahi Pahlawan Nasional di tahun 2022.

Dalam unggahan di akun Instagramnya @mohmahfudmd, merilis tokoh-tokoh yang akan dianugrahi Pahlawan Nasional. Adapun 5 tokoh tersebut, yaitu Dr. dr. H. R. Soeharto, KGPAA Paku Alam VIII, Haji Salahudin Bin Talabuddin, dr. Raden Rubini Natawisastra dan K.H Ahmad Sanusi.

  • Dr. dr. H. R. Soeharto (Jawa Tengah)
Dr. dr. H. R. Soeharto berperan dalam menyelamatkan bendera Pusaka Merah Putih, pendiri Organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Pendidikan Organisasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Pembangunan Proyek Mecusuar dan Objek Vital masa Presiden Soekarno (Pembangunan Departement Sarinah, Pembangunan Monumen Nasional, dan Pembangunan Mesjid Istiqlal, Pembangunan Rumah Sakit Jakarta dan Pendirian Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia. 

Namanya diabadikan sebagai nama gedung di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia, salah satunya jalan di Kabupaten Klaten memiliki ruang koleksi khusus memorabilia di museum Joeang 45. 
  • KGPAA Paku Alam VIII (D Yogyakarta)
Source: Tribun Jogja

Paku Alam VIII adalah raja dari Kadipaten Pakulaman tahun 1937-1989. Sebagai raja, perjalanan hidup Palu Alam tentunya penuh dengan kegiatan politik dan pemerintahan, tetapi juga bergerak dibidang olahraga. 

Kabupaten yang strategis Paku Alam VIII adalah ketika ia menyatakan bersekutu dengan Sultan Hamengkubuwono IX. Peristiwa yang terjadi masa pemerintahan kolonial Belanda mempunyai makna yang sangat strategis dalam perjalanan NKRI.
  • Haji Salahudin Bin Talabuddin (Maluku Utara)
Haji Salahudin Bin Talabudin telah mengabdi selama 32 tahun (1916-1948) melalui organisasi perjuangan SJI dengan semboyan perjuangan "Hidup Islam, Hidup Sarekat Islam, Hidup RI, Allahu Akbar,". 

Semboyan tersebutditebusnya melalui pembuangan ke Sawahlunto tahun 1918-1923, pembuangan Nusa Kambangan tahun 1941 dan dipindahkan ke Boven Digul tahun 1942. 

Namanya diabadikan sebagai nama Kelurahan di Kota Ternate, Markas Kompi D Raider 732, salah satu jalan di Kota Weda, dan nama Yayasan Pendidikan Haji di Kec. Patani. 
  • dr. Raden Rubini Natawisastra (Kalimantan Barat)
Ikhtisar perjuangan: menjalankan misi kemanusiaan sebagai Dokter Keliling di daerah terpencil dan pedalaman Kalbar, tugas ini dilakukan dengan melayani penduduk tanpa membeda-bedakan status baik orang kaya maupun orang miskin. 

Memasuki bidang politik sejak masuk sebagai aggota Parindra pada tahun 1930-an dan terus berkembang gagasannya dan tindakan melawan penjajah baik terhadap Belanda, maupun Jepang. 

Sikap gigih melawan penjajah tersebut tak pernah goyah sampai ajal merenggut bersama sang isteri Ny. Amelia Rubini karena dihukum mati oleh Jepang. 

Namanya sekarang diabadikan sebagai salah satu jalan dan rumah sakit di Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat. 
  • K.H Ahmad Sanusi (Jawa Barat)
K.H Ahmad Sanusi adalah salah satu tokoh pendidikan yang secara tidak langsung melibatkan dirinya kepada politik kebangsaan. Namanya mulai menjadi perhatian penguasa kolonial ketika ia membela nama baik Sarekat Islam (SI) pada tahun 1913 ketika masih berada di Mekah, dalam tulisannya Nahratut I dharam. 

K.H. Ahmad Sanusi pernah masuk menjadi salah satu anggota BPUPKI yang memasukan konsep imanat (demokrasi) sebagai landasan bentuk pemerintahan Indonesia yang akan dimerdekakan. 

Sumbangan penting Ahmad Sanusi selama perang kemerdekaan, adalah fatwanya yang menyebutkan bahwa DI/TII pimpinan Kartosuwiryo tidak islami dan mengajak kaum Islam di Jawa Barat untuk tetap berdiri dibelakang kaum NKRI, yang kemudian diikuti oleh sebagian besar Kiai dan pengikutnya di wilayah Priangan, termasuk di wilayah Garut yang menjadi sarang DI/TII. 

Demikian, selamat menjelang Hari Pahlawan Nasional .... 10 November 2022

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama