![]() |
| Menafsir ulang pengertian kurikulum/gambar:pixabay.com |
Tentu kurikulum bukan sesuatu hal yang asing ditelinga kita, apalagi bagi seorang guru, kurikulum sudah menjadi makanan pokok, karena bagi guru pemahaman terhadap kurikulum adalah wajib. Tapi kadang banyak guru yang merasa dilema, karena kurikulum kita terus berganti-ganti.
Jika kita menilik kembali sejarah kurikulum hingga sekarang, kurikulum pendidikan di Indonesia sudah 11 kali mengalami pergantian. Lalu kenapa kurikulum kita berganti-ganti? Apakah dengan bergantinya kurikulum dapat meningkatkan kualitas pendidikan?
Nah, inilah pentingnya memahami kembali kurikulum, baik secara filosofis, teori, maupun konsep. Banyak guru yang memahami kurikulum hanya pada sudut pandang tertentu saja, ketika ia ditanya apakah kurikulum? jawabannya datar, tidak sampai pada hal yang esensial.
Menurut kebanyakan orang adanya kebijakan pergantian kurikukum dikarenakan alasan-alasan tertentu diantaranya perlu adanya penyesuaian antara kurikulum dengan perkembangan zaman pada saat ini.
Pada saat saya kuliah, saya diajarkan tentang Mata Kuliah Perkembangan Kurikulum. Tapi saya mendapatkan penjelasan yang komprehensif bukan dari dosen pengampu mata kuliah, melainkan dari dosen yang sudah saya anggap orang tua saya sendiri. Ia bernama Neli Wachyoudin.
Beliau seorang dosen senior lulusan Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung, mahasiswa terbaik dari seorang sejarawan perempuan Nina Herlina Lubis penulis buku Sejarah Kabupaten Lebak dan Sejarah Banten. Karena keluasan ilmu beliau, hampir semua dosen dan mahasiswa meminta saran kepada murid sejarawan Nina Herlina Lubis itu.
Namun, ketika ide gagasan beliau banyak dibutuhkan, tuhan justeru berkehendak lain. Beliau meninggal dunia, dan sekarang pengalaman belajar dengan beliau hanya menyisahkan kenangan. Kita doakan semoga beliau ditempatkan ditempat yang terbaik disisi Allah SWT. Amiin ...
Ada istilah gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Tapi tidak dengan almarhum, beliau telah meninggalkan ilmu yang tertanam pada murid-muridnya. Beberapa dari mahasiswanya sudah menjadi dosen, dan mengabdi untuk negara.
Saya adalah salah satu mahasiswa terakhir yang sering berdikusi dengannya. Kadang saya sering diajak menginap dirumahnya. Di detik-detik terkahir hidupnya, saya masih ingat betul pada waktu itu saya menemani ayah beliau yang sedang sakit. Tapi umur tidak ada yang tahu, sakit bukanlah pertanda ajal, ia jatuh kemudian dibawa ke rumah sakit dan tak lama waktu berselang ia meninggal.
Pada tulisan kali ini, saya akan menjelaskan ulang tentang kurikulum pendidikan sesuai dengan alur pengalaman saya selama belajar dan mengajar. Saya akan menjelaskan kurikulum berdasarkan refleksi pengalaman saya dengan almarhum Neli Wachyoudin. sebuah pengalaman yang menurut saya harus dicatat agar tidak hilang ditelan zaman.
Dosen yang Berwawasan Luas
Pada tulisan kali ini saya tidak akan banyak membahas tentang biodata Neli Wachyoudin, karena keterbatasan. Saya memanggil beliau dengan sebutan Pak Neli, ketika itu. Gaya mengajarnya yang khas membuat ia berbeda dari dosen yang lainnya. Ditambah lagi pemahamannya bukan sekedar dari hasil bacaan saja, tetapi pengalamannya yang luas menjadikan teori yang dikemukakan nampak nyata.
Ini hanyalah salah satu dari sekian ilmu yang saya dapatkan dari beliau. Saya diajari banyak hal terutama berpikir logis dan benar, salah satu kata yang pernah diucapkan beliau adalah "Baca saja dulu jangan dulu ngomong, tulis saja apa yang ada dalam isi kepalamu baru nanti kamu perbaiki kesalahannya," pesannya.
Kalimat ini adalah pesan, pada saat saya dipanggil untuk menemani beliau di ruang PPMA STKIP Setiabudhi Rangkasbitung. Pada waktu itu saya membantu beliau mendownload buku digital. Buku itu disimpan kedalam satu file dengan berbagai judul. Buku itu nantinya akan ia buat perpustakaan digital di musholah dekat rumahnya di Pandeglang. Katanya.
Pikirannya jauh kedepan, seolah ia tahu bahwa nanti bakal berbeda dari sekarang, dan akhirnya sekarang terbukti, memasuki era digital. Buku digital bisa kita dapatkan di Internet dan berbagai aplikasi. Meskipun pemikiran ini bukan sesuatu yang baru, tapi ada pembelajaran penting didalamnya, bahwa simpanlah buku digital itu, kelak akan kamu hutuhkan. Faktanya pembuatan daftar pustaka pada karya ilmiah sebagian kampus mewajibkan menggunakan aplikasi mandeley.
Apliaksi mandeley merupakan aplikasi untuk diekstop atau laptop yang dapat membantu kita untuk membuat daftar pustaka secara otomatis. Jika kita menggunakan aplikasi ini kita tidak mesti mengetik daftar pustaka satu persatu, kita hanya perlu mengaitkan mandeley ke ebook pdf maka ia akan muncul sendiri daftar pustakanya secara lengkap.
Terinspirasi dari kata-kata Pak Neli, saya pun mengikutinya. Saya mendownload berbagai jenis buku yang saya kumpulkan dalam satu file. Sebagian saya unggah ke Google drive, sebagian tersimpan di hardisk eksternal, dan sebagiannya lagi saya publikasikan di blog pribadi saya, agar orang lain turut mendapatkan manfaat dari buku itu.
Benar kata beliau, meskipun sekarang zamannya digital dan segala file tersimpan di big data Internet, tapi kalau bukan kita yang mengelolanya data itu akan hilang. Ini nyata, jadi saya hingga sekarang sering mendownload berbagai buku pdf di internet, dan ada satu situs yang menyediakan berbagai jenis buku secara gratis.
Tapi, tak lama, tepatnya hari ini, situs itu diblokir karena katanya ilegal. Memang situs ini sangat lengkap jika kita mencari ebook digital dengan berbagai jenis cabang ilmu pengetahuan. Namanya Z Library sebuah situs data base yang menyediakan kumpulan ebook yang dapat diakses secara gratis.
Z Library memiliki 8,970,386 buku dan 48,837,646 artikel dalam format pdf yang bisa kita unduh secara gratis. Situs ini berisi berbagai ebook, mulai dari sastra, seni, astronomi, biografi, bisnis, kimia, pendidikan, sejarah, filsafat, dan lain sebagainya.
Pada Sabtu, 5 November 2022 situs itu tidak tahu kenapa tidak bisa dibuka lagi. Mengutip dari Fortune (2019), Z Library ternyata merupakan situs bajakan dan melanggar hak cipta dengan mendistribusikan buku tanpa izin. Akhirnya situs itu diblokir dan kita tidak bisa mendapatkan buku yang bagus.
"Bisa2nya Z-Library udah gak bisa dibuka lagi, bakalan donwload buku dimana lagi nih woii," tulis salah satu akun di Twitternya @tanyakanri dengan nada sedih dan kesal.
Tapi atas pesan Pak Neli saya bisa menyimpan sebagian buku yang saya donwload dari situs itu. Kurang lebih ada ratusan buku yang sudah tersimpan di hardisk eksternal saya dan hanphone, serta Google drive. Saya sengaja menyimpannya, bukan untuk mencari keuntungan komersial, tetapi untuk dijadikan bahan diskusi dikalangan mahasiswa atau khawatir ada mahasiswa yang tidak punya uang untuk membeli buku saya kasih dengan gratis.
Sebelum adanya gagasan tentang kurikulum merdeka saya sebetulnya sudah diajari untuk merdeka belajar. Kurikulum merdeka itu soal kesadaran individu yang mau atau tidak memanfaatkan berbagai teknologi informasi yang ada. KH. Dewantara pernah mengatakan makna merdeka belajar yakni berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain dan mampu mengatur dirinya sendiri.
Ini soal kesadaran individu masing-masing, faktanya tidak ada dosen, maka mahasiswa sekarang tidak akan belajar apalagi siswa, sebagian siswa mungkin bisa dikendalikan, tapi bagi siswa yang memiliki keterbatasan ini tidak bisa. Artinya penerapan kurikulum merdeka belajar hanya berlaku bagi orang-orang tertentu dan di wilayah tertentu.
Bagaimana dengan mereka yang berada dipelosok dengan segala keterbatasan yang ada, keterbatasan akses Internet, keterbatasan akses sarana dan lain sebagainya. Sementara itu merdeka belajar menuntut adanya integrasi lingkungan belajar dengan teknologi internet, saya menyebutnya belajar era student 5.0.
Saya pernah bertanya kepada salah seorang mahasiswa yang pernah melaksanakan pengabdian di wilayah pelosok tepatnya di Cigemblong dan Cibeber. Saya bertanya bagaimana kondisi pendidikan disana. Ia menjawab intinya pendidikan disana masih banyak memiliki keterbatasan dan penerapan kurikulum merdeka sepertinya belum siap.
Kurikulum memiliki teori, konsep dan paradigma, maka evaluasinya penerapan kurikulum idak bisa disamaratakan ke semua sekolah. Terkecuali semua sudah terintegrasi dengan berbagai penunjang, contoh seperti soal kebutuhan akses Internet, pemerintah membangun tiang wifi di wilayah tersebut, kemudian pembangunan jalan sudah merata, ketersediaan buku memadai dan lain sebagainya.
Pengertian Kurikulum
![]() |
| Pengertian kurikulum/pixabay.com |
Apakah kita sudah memahami betul kurikulum itu? Menurut Drs. H. M Ahmad (1998:9) kurikulum seringkali diartikan mata pelajaran yang diajarkan disekolah. Menurutnya kurikulum yang dianggap tradisional ini masih banyak dianut hingga sekarang.
Para ahli pendidikan membuat macam-macam batasan tentang kurikulum, mulai dari pengertian tradisional sampai denganpengertian modern, mulai dari pengertian simple (sederhana) sampai dengan pengertian yang kompleks. Setiap ahli memiliki versi batasan yang berbeda-beda.
Pengertian kurikulum yang dikemukakan pakar banyak sekali. Bahkan sebenarnya hingga sekarang pengertian tentang kurikulum yang dikemukakan oleh para pakar tersebut, tak ada kata sepakat yang disetujui bersama oleh para ahli tentang pengertian kurikulum.
Tapi walaupun begitu, terdapat satu hal yang sering disebut dalam setiap kurikulum, yaitu bahwa kurikulum berhubungan dengan perencanaan aktivitas siswa. Perencanaan itu biasanya dihubungkan dengan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai sejumlah tujuan.
Kurikulum diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran atau ilmu pengetahuan yang ditempuh atau dikuasai untuk mencapai suatu tingkat tertentu atau ijazah. Disamping itu, kurikulum juga diartikan sebagai suatu rencana yang sengaja dirancang untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan.
Itulah sebabnya, pada waktu lalu orang juga menyebut kurikulum dengan istilah "Rencana Pelajaran" yang merupakan terjemahan dari istilah "Leerplan". Rencana pelajaran merupakan salah satu komponen dalam asas-asas didaktik yang harus dikuasai (paling tidak diketahui) oleh seorang guru atau calon guru.
Ada banyak pengertian kurikulum misalnya Ralph Tyler (1857) mengartikan kurikulum adalah seluruh pengalaman belajar yang direncanakan dan diarahkan oleh sekolah untuk mencapai tujuan tertentu pendidikannya. Sedangkan Franklin Bobbt (1918) mengartikan kurikulum adalah susunan pengalaman belajar terarah yang digunakan oleh sekolah untuk membentangkan kemampuan individual anak didik.
Dari pengertian tersebut saya yakin kita masih belum memahami betul. Ya, itulah masalahnya, akibat dari pemahaman kita yang lemah terhadap kurikulum sehingga menjadikan kurikulum itu sebagai sebuah paradigna mengajar bahwa pembelajaran itu harus berorientasi pada kurikulum, yang sebenarnya kurikulum dirancang untuk mencapai suatu tujuan.
Perlu kita pahami kembali bahwa kurikulum hanya ada pada tingkat pendidikan formal. UU No 20 Tahun 2003 menyebutkan tentang jenis-jenis pendidikan, diantaranya pendidikan formal, informal dan nonformal. Sedangkan berbicara kurikulum maka kita bicara tentang pendidikan formal.
David Pratt dalam bukunya Curiculum Design and Development mendefenisikan kurikulum secara sederhana yaitu sebagai seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusat-pusat pelatihan. Selanjutnya ia membuat implikasi secara lebih eksplisit tentang defenisi yang dilemukakannya menjadi 5 hal yaitu sebagai berikut:
- Kurikulum adalah suatu rencana atau intentions yang tidak hanya berupa perencanaan mental saja, tetapi umumnya diwujudkan dalam bentuk tulisan.
- Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan kegiatan;
- Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah yang harus dikembangkan dalam diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan dan perlatan yang dipergunakan, kualitas guru yang dituntut dan lain sebagainya.
- Kurikulum melibatkan maksud dan tujuan pendidikan formal, maka ia sengaja mempromosikan belajar dan menolak sifat Rembang, tanpa rencana atau kegiatan tanpa belajar.
- Sebuah perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai komponen seperti tujuan, isi, sistem penilaian, dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan kata lain, kurikulum adalah sebuah sistem.
Dilema Kurikulum Pendidikan
Suatu ketika ada mata kuliah perkembangan kurikulum. Saya dan mahasiswa lainnya diajarkan tentang apa itu kurikulum dan seberapa ugennya dalam pembelajaran. Kemudian saya bertanya juga soal apakah model pembelajaran, paradigma pembelajaran, dan metode pembelajaran termasuk bagian dari kurikulum?.
Jujur pada waktu itu saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Menurut saya kebanyakan orang menjadikan kurikulum sebagai sebuah tujuan, bukan hanya sebagai bagian dari manajemen dalam pendidikan formal. Kebanyakan, kita mengartikan kurikulum sebagai sebuah paradigma, sehingga berdebat ada yang mengatakan bahwa berganti atau tidaknya kurikulum tidak akan mempengaruhi kualitas pendidikan kita. Ada juga yang mengatakan pergantian kurikulum adalah keniscayaan.
Terlepas dari perdebatan tersebut, pertanyaannya Apakah kurikulum kita sudah dirancang dari permasalahan-permasalahan yang ada,? Apakah kita tidak memikirkan bahwa ada banyak anak yang tidak ingin berdebat tentang kurikulum? Apakah cukup menjadikan alasan bahwa bergantinya kurikulum hanya karena menyesuaikan dengan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi?
Kita seringkali bergantung pada harapan, seperti layaknya Karl Marx yang menjanjikan kesejahteraan dengan masyarakat tanpa kelas, tanpa menggali apakah yang menjadi penyebab tidak majunya pendidikan kita.
Sesungguhnya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tak sekedar memiliki visi kedepan, tetapi juga memahami kembali kondisi sosial, budaya, dan realitas yang ada. Paulo Freire menentang kebijakan pendidikan disekolah karena menurutnya telah jauh dari realitas-humanis.
Menurutnya harusnya guru dan murid sama-sama menjadi subjek dalam pendidikan, bukan student learning center bukan pula teacher learning center, tetapi kita sama-sama belajar, dan objek belajar kita bukan siswa tapi lingkungan.
Sementara itu Ivan ilich, Antonio Gramschi dengan mazhab pendidikan kritisnya, mengkritik bahwa pendidikan tidak bisa dilepaskan dari muatan-muatan politik. Kita berdebat soal kebijakan, sedangkan diluar sana masih banyak anak-anak yang belum mendapatkan kebijakan.
"Anak-anak di Indonesia kini memiliki peluang yang lebih baik untuk bersekolah. Namun, sekitar 4,1 juta anak-anak dan remaja berusia 7-18 tahun tidak bersekolah," demikian kata Unicef.
Menurut Unicef anak dan remaja yang tidak sekolah tersebut berasal dari keluarga miskin, penyandang disabilitas dan mereka yang tinggal didaerah terpencil dan tertinggal yang paling berisiko putus sekolah. Menyikapi hal itu seharusnya kita menyadari ada permasalahan yang lebih penting selain berdebat tentang kurikulum.
Kurikulum Menurut Neli Wachyoudin
Selama ini mahasiswa-mahasiswa diajarkan tentang kurikulum hanya pada pengertian formalitas, tanpa mengetahui kurikulum itu lebih spesifik lagi. Menurut saya keberhasilan pendidikan terletak pada motivasi, baik motivasi pendidik maupun motivasi peserta didik. Pentingnya motivasi, banyak yang melakukan penelitian soal pengaruh dan peran motivasi terhadap prestasi siswa. Adapun kurikulum hanyalah faktor eksternal yang bertujuan untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan.
Ketika saya belajar dengan Dosen saya, saya merasakan langsung jika membandingkan dosen yang menyampaikan pembelajaran dengan berbagai perlatan yang ada, dengan Pak Neli yang simpel. Saya sempat bertanya-tanya apakah ia tidak membutuhkan perangkat pembelajaran? Atau komponen lain yang berhubungan dengan kurikulum. Saya berpikir, dosen lain sibuk ngurusin perangkat dan lain sebagainya, tapi keberhasilan nyata dalam pembelajaran ada pada orang yang justeru tidak menggunakan perangkat itu.
Orang-orang yang berwawasan luas, ternyata memiliki seribu cara dalam pembelajaran, mereka tidak tergantung pada cara-cara formal tertentu, mereka berorientasi pada tujuan. Intinya seperti apapun cara yang kita gunakan, tidak semuanya relevan dengan cara itu. Ada hal yang lebih penting yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu keikhlasan, cinta ilmu pengetahuan, dan penyampaian materi yang matang dan keluasan cara pandang. Guru yng seperti ini memberikan efek magis tersendiri bagi pendengarnya. Ini sekedar pendapat saya..
Mengenai apa dan bagaimana kurikulum Menurut Neli Wachyoudin, ia menjelaskan kurikulum itu berasal dari bahasa Yunani yang mula-mula digunakan dalam bidang olahraga yaitu kata "currere" yang berarti jarak tempuh lari. Dalam kegiatan berlari tentu saja ada jarak yang harus ditempuh mulai dari start sampai dengan finish. Jarak dari start sampai finish ini disebut "currere"
Pada waktu itu saya belum memahaminya dengan betul apa yang dikatakannya ini. Tapi akhirnya saya memahami bahwa apa yang dikatakannya tersebut adalah logika dari kurikulum itu. Contohnya, di Indonesia jenjang pendidikan, umpamanya SD (6 tahun), SMP (3 tahun), SMA (3 tahun), S1 (4 tahun) dan S2 (2 tahun).
Misalnya, siswa harus mencapai pembelajar, SD 12 mata pelajaran, SMP 12 Mata Pelajaran, SMA 12 Mata Pelajaran, dan S1 sebanyak 145 SKS. Ini adalah standar kurikulum pendidikan kita, tapi mungkin tidak, jika kita menempuh S1 sebanyak 145 SKS dalam waktu tempuh 3 tahun. Padahal seharusnya 4 tahun? Mungkin saja, yang penting 145 SKS itu tidak dikurangi.
Logika kurikulumnya seperti ini, 12 mata pelajaran bisa dikuasai dengan lama belajar 6 tahun. Atau jika jenjang S1 sebanyak 145 SKS normalnya bisa dicapai dalam waktu 4 tahun. Tentu ini bukan berorientasi pada tujuan tetapi berorientasi pada standar kebijakan pendidikan. Jelas bahwa kurikulum hanyalah salah satu bagian dari administrasi manajemen pembelajaran.
Tapi tidak akan berlaku bagi semua orang, orang-orang tertentu bisa saja mencapai pendidikan S1 contohnya dalam waktu 3 tahun. Atau ada siswa SMP, karena pintar dia loncat kelas ke SMA. Hal semacam ini mungkin saja karena ia merupakan sistem yang dirancang oleh manusia.
Neli Wachyoudin kemudian menjelaskan, bahwa kurikulum itu landasan, kalau ibaratkan rel atau jalan. Ada banyak faktor kenapa seseorang yang bepergian dari Rangkasbitung ke Jakarta bisa datang sesuai yang diharapkan, yaitu pertama kecepatan, kondisi kendaraan, spesifikasi kendaraan, dan jenis kendaraan.
Nah, maka tercapaian tujuan pembelajaran itu sebenarnya tidak melulu tentang kurikulum. Tetapi kita juga harus mengenai spesifikasi siswa, tidak bisa juga kita samakan ram antara satu siswa dengan ram siswa yang lainnya.
Contoh lain, misalnya dalam hal Peneltian Tidakan Kelas. Seorang mahasiswa melakukan penelitian di slah satu sekolah di daerahnya. Penelitian itu dia lakukan terhadap siswa kelas X SMA. Tujuan ia melakukan penelitian itu adalah untuk mengetahui seberapa berpengaruh penggunaan metode kolaboratif terhadap prestasi siswa.
Penelitian sudah dilakukan hasilnya kurang berpengaruh signifikan. Maka syarat dari penelitian PTK itu harus dilakukan penelitian ulang, maka seorang peneliti melakukan penelitian ulang. Sekarang dimana masalahnya?
Masalahnya ketika siswa gagal, yang disalahkan adalah siswanya, seolah bahwa siswa ini tidak memperhatikan sama dilakukan penelitian. Padahal, bisa saja bahwa penelitinyalah yang harus dilakukan PTK, karena jangan-jangan siswa tidak paham karena gurunya, bukan pada muridnya. Gurunya bisa saja kurang menguasai materi, tidak bisa menjelaskan teori ke kotekstual, dan lain sebagainya.
Senada dengan apa yang dikatakan oleh Neli Wachyoudin, S. Nasution (1980:5) mengatakan istilah kurikulum semua berasal dari istilah dunia atletik yaitu currere yang berarti berlari. Istilah tersebut erat hubungannya dengan kata currer atau kurir yang berarti penghubung seseorang untuk menyampaikan sesuatu kepada orang atau tempat lain. Seseorang kurir harus suatu perjalanan untuk mencapai tujuan, maka istilah kurikulum kemudian diartikan sebagai "suatu jarak yang harus ditempuh,".

