Iklan


Salah satu kegiatan asyik dari SMA Al-Qudwah adalah kemah atau yang biasa disebut camping atau bahasa Arabnya Mokhoyyam. Mokhoyyam dilaksanakan setiap setahun sekali yang dikuti oleh siswa SMA Al-Qudwah. 

Pada Mokhoyyam kali ini diselenggarakan di Gunung Bunder Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat selama 3 hari dua malam pada 10 sampai 12 November 2022. Namun, diikuti juga oleh siswa SMP Al-Qudwah kelas 9.

Sesuai dengan tema yang diusung "Menegaskan Jati Diri Mukmin Sejati Menorehkan Sejarah Indah" maka tujuan dari Mokhoyyam kali ini diharapkan siswa-siswi SMA Al-Qudwah memiliki jati diri sebagai muslim sejati, dan mampu menorehkan catatan sejarah berharga dalam hidupnya. 

Pada saat pelepasan pada 10 November 2022 sore hari Ustad Samson dalam sambutanya menjelaskan arti penting mukmin sejati tersebut. Ustad Samson mengatakan mukmin sejati adalah seorang mukmin yang memiliki mental, keberanian dan siap menjadi aktor perubahan. 

Sementara itu mengenai sejarah indah, adalah siswa-siswi SMA menjadi pencipta sejarah, bukan hanya pembaca sejarah atau pencatat sejarah. "Pengalaman-pengalaman kita akan dicatat apabila kita mampu membuat sejarah berharga dalam hidup kita, maka ukirlah sejarah kita seindah mungkin," ujar Ustad Samson saat pelepasan.

Sejarah jangan hanya sekedar diartikan syajarah, yang artinya pohon kehidupan, akar, keturunan dan asal-usul. Tapi sejarah memiliki pengertian yang lebih luas. Kaitannya dengan tema Mokhoyyam ini, lebih tepatnya kita mengartikan sejarah sebagai historia (Yunani) yang artinya ingkuiri, wawancara, introgasi dari saksi mata, laporan mengenai hasil-hasil tindakan seperti pengetahuan tentang gejala-gejala alam.

Menurut F. Muller historia mempunyai tiga arti, yaitu penelitian dan laporan tentang penelitian, cerita puitis dan deskripsi yang persis dengan fakta-fakta. Nah, dengan demikian Mokhoyyam adalah satu kegiatan dimana peserta diajarkan untuk melakukan penelitian, melihat langsung keadaan yang ada di Gunung Bunder tersebut, melihat gejala alam dan fakta-fakta yang ada. 

Pemberangkatan 

Setelah upacara pelepasan Mokhoyyam selesai sekitar pukul 08.00 WIB, 12 mobil mengakut panitia dan peserta Mokhoyyam. Tiba di lokasi sekitar pukul  13.30 WIB. Sesampainya disana, kami langsung bergegas mengangkut barang-barang dari mobil ke dalam tenda. 

Yang paling membuat letih, sebetulnya saat mengangkut barang karena selain lumayan cukup jauh jalannya juga licin dan menanjak. Ditambah lagi hujan mengguyur, sehingga membuat jalan semakin licin. Tapi berkat kerjasama, semua barang baik punya peserta maupun panitia sudah dibawa kedalam tenda.

Pelaksanaan Kegiatan 

Tenda-tenda tersebar diantara pohon pinus sebanyak 12 tenda dan 1 tenda platon tempat panitia guru. Setelah semua barang diangkut, kedalam tenda, peserta Mokhoyyam kemudian dikumpulkan di area tanah lapang untuk dilaksanakan pembukaan apel.

Pembina Apel, Iwan Supriana membuka kegiatan.  Dirinya berpesan agar semua peserta bisa melaksanakan kegiatan Mokhoyyam dengan khidmat. "Sesuai dengan temanya bahwa kegiatan Mokhoyyam bukanlah kegiatan seremoni semata, melalui kegiatan ini siswa siswi akan diuji mentalnya, baik fisik maupun psikisnya," demikian keta Pak Iwan.

Siswa-siswi basah kuyup, panitia pun sama menggigil sembari mengenakan jas hujan plastik. Tapi, tidak membuat kendor semangat kami dan para peserta Mokhoyyam. Semuanya strong, penuh semangat .. meskipun ada saja sebagain peserta yang jatuh sakit karena kedinginan terutama peserta putri. 

Hari pertama, peserta menyiapkan makanan dengan memasak pada kelompoknya masing-masing. Menjelang maghrib semua kelompok segera diarahkan untuk ambil wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah. 

Sedangkan hari kedua, panitia dari siswa mengadakan berbagai kegiatan permainan untuk peserta. Panitia membaginya kedalam pos-pos tertentu, kemudian dalam setiap pos peserta nantinya mengkuti tantangan berupa permainan-permainan. 

Jika dilihat, menurut saya cukup menyenangkan, tapi ada hal yang lebih menyenangkan setelah itu, yaitu upacara api unggun yang disertai aktrasi pentas seni. Masing-masing kelompok peserta tampil untuk menunjukan bakat mereka. 

Waktu semakin larut malam, api unggun mulai padam dan pentas seni pun selesai. Meskipun ada desas-desus kayu bakarnya kurang banyak sehingga api unggunnya cepat padam. Dingin mulai menembus kulit, peserta pun diarahkan untuk ke tendanya masing-masing untuk segera tidur, dikarenakan besok akan ada kegiatan selanjutnya. 

Di hari terakhir, atau hari ketiga seperti biasa, masing-masing kelompok peserta sibuk untuk menyiapkan sarapan pagi. Setelah itu peserta dikumpulkan kembali untuk siap-siap menuju kawah ratu sekitar pukul 08.00 WIB. 

Jujur saya baru pertama kali naik ke Gunung. Tak mau ketinggalan saya pun ikut bersama peserta sekalian mendampingi mereka. Dari awal peserta bertanya, mau apa ke kawah? ada apa disana? dan pertanyaan ini akhirnya berujung kekecewaan bagi mereka.

Banyak peserta yang mengaku menyesal saat tiba disana. Bukan tidak ada kawahnya, tetapi mereka menganggap perjalanan yang berjarak 2 kilo meter yang ditempuh 3 jam tidaklah terbalaskan. Peserta mengeluh, karena saat tiba disana tidak ada hal yang menakjubkan. Menurut mereka, sampai disana duduk sebentar atau sekedar lihat kawah kemudian balik lagi. 

Apakah iya tidak mendapatkan apa-apa? Menurut saya peserta mendapatkan banyak hal, hanya saja mereka tidak menyadarinya karena tidak menikmatinya. Perjalannya memang jauh, hingga membuat telapak kaki sakit. Tapi mereka mendapatkan pengalaman yang tidak siswa lain  dapatkan. Pengalaman apa saja itu? 

Pengalaman bekerjasama, gotong-royong dan solidaritas. Ini adalah pengalaman berharga dimana para siswa diuji mental, kepedulian dan spiritualitasnya. Ketika mengakat barang-baranya, mereka mengangkatnya bersama. Ketika ada yang sakit, mereka menjaga dan merawatnya besama. Kemudian ketika makan, mereka masak bersama dan menikmatinya bersama. 

Bagaimana dengan di kawah ratu? Jelas mereka memiliki pengalaman, yang nanti bisa diceritakan kepada anak cucu mereka, terkait kegiatan suka dukanya saat sekolah di Al-Qudwah. Naik ke kawah, menguji spiritualitas kita bagaimana cara pandang kita terhadap alam semesta. Kita harusnya belajar menyukurinya, gunung yang menjulang tinggi, kawah yang mengeluarkan gas, itu adalah gejala alam yang sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk menjaga keseimbangan.





Post a Comment

Lebih baru Lebih lama