![]() |
| Upacara Bendera siswa Smata, Senin, 21 November 2022 |
SMATA Al-Qudwah melaksanakan kegiatan rutin Upacara Bendera hari ini Senin, 21 November 2022. Pada upacara kali ini pembina upacara dipimpin langsung oleh Bapak Nurjaya selaku Ketua Yayasan Al-Qudwah. Disamping itu, dihadiri pula oleh Bidang Akademik Yayasan yakni Ustad Samson.
Kehadiran Pak H. Nurjaya dan Ustad Samson menambah aura kehidmatan upacara. Pak Nurjaya dalam amanatnya menyampaikan pesan bermakna, yang menurut saya tak hanya berlaku bagi siswa tapi juga umumnya bagi seluruh warga SMATA, pendidik, maupun tenaga kependidikan.
Seperti dikatakan oleh Pak Nurjaya, sekolah adalah organisasi yang didalamnya merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan antara struktural yayasan, pendidik dan tenaga kependidikan dalam mewujudkan visi dan misi lembaga sekolah.
Setidaknya, ada tiga poin sangat penting yang disampaikan oleh Pak Nurjaya pada saat memberikan amanatnya. Beliau mengungkapkan; pertama, tentang pentingnya disiplin; kedua, membangun kecerdasan, dan ketiga cinta tanah air, atau yang disebutnya sebagai nation.
Pentingnya Disiplin
![]() |
| Kiri (Kepala Sekolah Smata Iwan Supriana, M.pd) dan Kanann (Ketua Yayasan Al-Qudwah H. Nurjaya) |
Disiplin bukan istilah asing lagi ditelinga kita. Banyak negara-negara maju dikarenakan warganya sangat disiplin terutama soal waktu. Menurut Pak Nurjaya, Islam sangat menekankan pentingnya disiplin khususnya disiplin tentang waktu.
"Demi Masa," demikian kata Pak Nurjaya. Banyak negara-negara maju seperti Jepang, Cina, Korea, karena mereka disiplin terhadap waktu. Waktu sangatlah berharga, oleh karena itu hargailah waktu itu, karena waktu yang berlalu tidak akan terulang kembali.
“Ada dua kenikmatan yang banyak diantara manusia lalai di dalamnya, nikmat sehat dan waktu luang,” (HR Bukhari).
Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan, “Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu,”.
Pak Nurjaya menegaskan khususnya kepada siswa sebagai generasi penerus bangsa untuk memanfaatkan waktunya dengan belajar. "Kita tidak pernah tahu, bisa jadi dari kalian ada yang menjadi presiden, presiden perusahaan (PT) misalnya, dan pemimpin besar lainnya, maka jangan berhenti belajar," pesannya.
Membangun Kecerdasan Emosional
Pak Nurjaya mengungkapkan juga soal kunci kesuksesan. Menurutnya kunci kesuksesan bukan ditentukan oleh kepandaian. Sukses bukan milik orang-orang pintar, tetapi kesuksesan milik semua orang yang memiliki kemauan.
"Kepintaran tidak menjadi jaminan seseorang sukses. Saya pengagum BJ. Habibie, tokoh yang dijuluki Mr Crack itu mengatakan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ), tapi kesuksesan ditentukan oleh kecerdasan Spitiual (EQ) dan kecerdasan emosional (EQ)," demikian kata Pak Nurjaya.
"Kemauan, kerja keras, ulet, kedisiplinan dan keyakinan, adalah kunci kesuksesan, semoga kelak kalian menjadi orang sukses," lanjutnya.
Sejalan dengan ungkapan tersebut, saya seringkali mengamati tentang apa yang menjadi permasalahan pada siswa. Saya pernah menulis tentang perlunya memperkenalkan kepada siswa tentang struktur kecerdasarn manusia, salah satunya tentang kecerdasan emosional.
Sejalan dengan yang dikatakan oleh Pak Nurjaya tersebut, saya pernah membaca buku yang ditulis oleh seorang psikolog, dan penulis Sains bernama Daniel Goldman. Ia menulis sebuah buku berjudul "Emotional Intelligence".
Daniel membahas kenapa EI lebih penting daripada IQ. Sementara itu Gardner memperlihatkan mengapa orang yang IQ-nya tinggi mengalami kegagalan, sedangkan orang yang memiliki IQ sedang menjadi sangat sukses.
Menurut Gardner, penyebabnya adalah kecerdasan emosional, yang mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati, serta kecakapan sosial.
Kabar baiknya, kecerdasan emosional tidak ditentukan oleh bakat. Goldman menjelaskan, pelajaran-pelajaran emosional yang diperoleh anak akan membentuk sirkuit otaknya.
Dalam bukunya tersebut, Daniel Goleman memberikan pedoman tentang bagaimana orangtua dan sekolah dapat memanfaatkan kesempatan emas masa kanak-kanak itu dengan sebaik-baiknya.
Cinta Tanah Air
Poin penting terkahir yang disampaikan oleh Pak Nujaya adalah soal nasionalisme atau cinta tanah air. Pak Nurjaya menjelaskan betapa pentingnya menanamkan sikap cinta tanah itu itu, khususnya kepada siswa.
Salah satu cara untuk menanamkan cinta tanah air ini adalah dengan mengetahui tentang pentingnya berbangsa dan bernegara. Menurutnya, kita harus memahami nilai-nilai penting kehidupan berbangsa dan bernegara diantaranya adalah mengenai empat pilar kebangsaan.
Pak Nurjaya bertanya kepada pemimpin upacara saat memberikan amanatnya, "Coba pemimpin upacara jawab, apa saja empat pilar kebangsaan itu? disini ada guru PKNnya," katanya. Pemimpin upacara itu tampak gugup, namun Pak Nurjaya membantu menjawanya.
"Kita harus memahami tentang empat pilar kebangsaan, pertama apa? Ya, pertama adalah Pancasila, kemudian kedua? Tadi yang dibacakan apa? Ya, Undang-Undang Dasar 1945, kemudian NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Nah, itu harus dipahami ya," katanya.
Senada dengan apa yang disampaikan oleh Pak Nurjaya, diakhir upacara Ustad Samson menambakan kata-kata motivasi kepada siswa. "Jika kita tidak menggulung waktu maka kita akan tergulung oleh waktu, dan jika kita tidak menaklukan zaman maka kita akan terbawa arus zaman," demikian kata Ustad Samson.
Itulah beberapa point penting untuk upacara bendera Hari Senin kali ini. Jika ada yang kurang jelas dan ada salah kata mohon dimaafkan ..:)


