Iklan

Politik dan kepemimpinan menurut Imam Syafii 

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas akidah perspektif Imam Syafii dan kali ini kita akan membahas bagaiama politik dalam perspektif Imam Syafii. 

Ternyata Syafii memiliki perhatian khusus terhadap politik. Bagi Syafii berpolitik adalah keharusan bagi setiap muslim. 

Meski demikian, banyak orang yang mengatakan bahwa politik itu kotor, karena terkadang bisa menghalalkan segala cara. 

Menurut saya politik tidaklah selalu kotor, yang kotor adalah seseorang yang melakukan penyimpangan politik. 

Selama politik itu dijalankan berdasarkan moral dan nilai-nilai luhur, maka politik akan membawa kemasalahatan bersama. 

Urgensi politik dalam kehidupan manusia adalah bahwa hampir semua aspek kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari produk politik. 

Politik sangatlah luas, menyangkut berbagai bidang, termasuk pendidikan, kesehatan, maupun keagamaan. 

Selain sebagai Imam Fiqih, Imam Syafii juga memiliki pandangan khusus terhadap politik, diantaranya bagaimana mengangkat seorang khilafah (pemimpin). 

Khilafah (Pemimpin)

Salah satu persoalan yang dibahas oleh para ahli kalam selain masalah akidah, dan keimanan juga membahas soal politik dan kepemimpinan. 

Munculnya berbagai aliran atau sekte dalam akidah tentu tidak lepas juga dari kepentingan politik masing-masing golongan. 

Kelompok-kelompok atau aliran seperti Syi'ah, Khawarij, Mutazilah, dan Murji'ah, melakukan perdebatan tentang siapakah yang layak menjadi khilafah. 

Perdebatan panjang itu tidak bisa dihindari sehingga mengalami perpecahan karena perbedaan pandangan. Bahkan ada yang berpandangan sangat ekstrim. 

Perbedaan adalah keniscayaan, dan tidak selamanya mesti disimpulkan perpecahan. Justeru dari perbedaan itulah kita bisa mengerti mana yang baik dan mana yang terbaik. 

Mengenai perbedaan pandangan diantara kelompok tersebut, Syafii terdorong untuk mengemukakan pendapatnya tentang masalah kekhalifahan ini.

Kepemimpinan Menurut Imam Syafii 

Imam Syafii tidak berbicara bagaimana cara memilih pemimpin, tapi ia hanya menekankan bahwa perlunya memiliki seorang pemimpin diantara suatu kaum. 

Manusia harus memiliki seorang pemimpin yang menangani urusan kaum mukmin dan mengatasi permasalahan dari orang-orang fasik agar orang-orang baik dapat hidup tenang.

Imam Syafii berpendapat bahwa imamah (kepemimpinan) adalah hak orang-orang Quraisy. Dalam hal ini ia meriwayatkan dalilnya yang sampai sanadnya ke Rosulullah SAW.

"Siapa yang menghinakan seorang Quraisy, maka Allah akan menghinakannya,". Tapi dalam riwayat lain Rosulullah bersabda, "kalian lebih kayak menduduki jabatan ini selama kalian berada dalam kebenaran,".

Dalam masalah khilafah yang terpenting bagi Syafii adalah yang meraihnya harus seorang Quraisy. 

Ia juga harus didukung oleh masyarakat, baik sebelum maupun menduduki kursi kepemimpinan maupun setelahnya.

Sementara syarat keadilan sudah menjadi hal yang semestinya. 

Syafii berkeyakinan, bahwa orang yang paling layak menjadi khalifah pertama adalah Abu Bakar al-Shiddik, kemudian Umar al-Faruq, kemudian Ustman Dzunnurain dan Ali ibn Abi Thali. 

Tentang hal, Syafii berkata dalam syairnya;

"Abu Bakar adalah khilafah Tuhannya,

Abu Hafsh adalah sosok yang menjaga kebaikan,

Aku bersaksi dihadapan Tuhanku, bahwa Ustman sangat mulia,

Dan Ali kemuliaanya sangat istimewa, 

Mereka adalah Imam yang layak diikuti petunjuknya,

Allah akan mencampakan orang-orang yang merendahkan mereka,".

Syafii berkeyakinan bahwa imamah termasuk urusan agama yang perlu dipelihara. Yang penting baginya adalah orang yang menjadi imam harus orang Quraisy dan didukung oleh masyarakat. 

Tak hanya itu, Imam Syafii juga berpendapat tentang perselisihan antara Ali dan Muawiyah ibn Abi Sufyan. Syafii berpendapat bahwa Ali lah yang yang benar dan Muawiyah tidak benar. 

Menurut Imam Syafii, Muawiyah adalah pemberontak seperti Khawarij. Khawarij merupakan pemberontak yang lebih keras.

Oleh karena itu, tentang hukum-hukum yang berkenaan dengan masalah pemberontakan ini,  Imam Syafii banyak mengadopsi pemikiran dan sikap Ali ibn Abi Thalib para pemberontak pada zaman kekhalifahannya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama