![]() |
Orang seringkali membincang tentang kekuasaan. Tapi apakah kekuasaan itu? Apakah kekuasaan itu seperti permata hingga setiap orang menginginkannya. Ada apa dengan kekuasaan?
Salah seorang filsuf mengartikan "Kekuasaan itu mempesona. Orang rela menderita demi kekuasaan," demikian kata Michel Foucault. Sepintas kita bertanya apakah yang dimaksudkan Michel Foucault ini,?
Foucault memahami kekuasaan sebagai sesuatu hal yang mempesona. Apa itu mempesona? Menurut KBBI mempesona artinya sangat menarik, atau mengagumkan.
Menurut Foucault kekuasaan tidak hanya dijalankan didalam penjara tetapi juga beroperasi melalui mekanisme-mekanisme sosial, pengetahuan dan kesejahteraan.
Foucault mengatakan dalam masyarakat modern kekuasaan tidak hanya dilakukan oleh lembaga-lembaga represif (penjara, polisi) tetapi juga dalam interaksi masyarakat dan semua bentuk kegiatan sosial.
Biasanya kekuasaan hanya dipahami hanya dalam ruang lingkup negara atau pemerintahan. Padahal kekuasaan itu mencakup semua aspek dan datang dari mana-mana.
Berlawanan dengan pandangan Marxis, Foucault menentang paham kekuasaan yang disatukan dari atas oleh pusat kekuasaan negara.
Menurutnya kekuasaan tidak mengacu pada satu sistem umum dominasi oleh suatu kelompok terhadap yang lain, tetapi beragamnya hubungan kekuasaan.
Syarat-syarat kemungkinan pemahaman kekuasaan tidak terpusat pada satu titik atau satu sumber otoritas.
Kekuasaan bukan suatu institusi, dan bukan struktur, bukan pula suatu kekuatan yang dimiliki tapi nama yang diberikan pada suatu situasi strategis kompleks dalam suatu masyarakat.
Hubungan kekuasaan tidak bisa dipisahkan dari hubungan-hubungan yang ada dalam proses ekonomi penyebaran pengetahuan, bahkan hubungan seksual.
Kekuasaan adalah akibat langsung dari pemisahan, ketidaksamaan, dan ketidakseimbangan (diskriminasi). Dengan kata lain kekuasaan merupakan situasi intern adanya perbedaan.
Orang tidak bisa memahami hubungan kekuasaan dalam rangka hubungan kausalitas, tetapi dalam kerangka tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran.
Tujuan dan sasaran ini tidak dimiliki oleh individu atau suatu kelas, tetapi dalam bentuk anonim, hasil dari situasi-situasi lokal. Strategi adalah anonim bukan kenyataan subjek individual.
Orang mencoret-coretkan grafiti pada tembok yang justeru ada tulisan "Dilarang mengotori tembok". Larangan itu menjadi manifestasi dari kekuasaan, maka ada perlawanan.
Ada pluralitas bentuk perlawanan. Seperti kekuasaan tidak berasal dari satu sumber, demikian juga perlawanan tidak berasal dari satu tempat.
Tujuan memahami bentuk-bentuk aktual perjuangan melawan kekuasaan bukan untuk menyerang institusi kekuasaan, tetapi membuka kedokteran teknik tertentu dari kekuasaan yang mengelompokan orang kedalam kategori-kategori dan mengaitkannta dengan identitas.
Daftar pustaka:
Haryatmoko, 2016. Membongkar Rezim Kepastian Pemikiran Kritis Post-Strukturalis. PT. Kanisius, Yogyakarta.
