"Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina,"
Cina tumbuh menjadi negara adi daya baru dalam dunia Internasional menyaingi Amerika Serikat (AS) dan negara-negara barat lainnya. Berarti, setelah berakhirnya sistem dinasti, Cina mengalami kemajuan yang pesat. Cina adalah negara yang pandai memainkan strategi, baik strategi politik maupun ekonomi.
Mungkin saja selama ini kita mengenal Cina sebagai negara komunis, tapi ia sesungguhnya adalah negara kapitalis. Cina memainkan peran penting dalam membangun kekuatan ekonomi global. Cina mampu berjalan diantara dua paham tersebut, sedangkan Amerika hanya kapitalisme dan Rusia adalah komunisme.
Cina mampu memposiskan diantara dua ideologi besar disaat perang dingin. Ia mampu memainkan keduanya. Hal ini tampak dalam kebijakan dalam negeri dan kebijakan luar negerinya. Cina di dalam ia adalah Panda, tapi di luar dia adalah Naga. Strategi politik inilah yang menjadikan Cina menjadi negara kuat baik secara politik maupun secara ekonomi.
Lalu apa yang menyebabkan Cina bisa tumbuh menjadi negara besar? Semua pencapaian Cina tentu saja tidak lepas dari pendidikan moral yang dipegangnya secara turun temurun kepada generasinya. Cina mampu menyeimbangkan dua ideologi besar tersebut sebagaimana ajaran falsafahnya yakni Yin dan Yang. Pendidikan Filsafat menjadi pelajaran wajib kepada anak-anak sekolah dalam membangun peradaban di Cina
Pendidikan di Indonesia dan Anak-Anak Sekolah di Cina
Pendidikan menjadi dasar kemajuan suatu bangsa. Pembangunan pendidikan bukan sekedar pembangunan sarana dan prasarananya tetapi yang lebih penting adalah kualitas sumber daya manusianya. Di Indonesia pendidikan masih berkutat pada pengembangan sekolah karena masih banyak yang belum menikmati fasilitas sekolah, sedangkan di Cina sudah berbicara tentang kualitas pendidikan dan pengembangan keilmuan.
Pendidikan di Cina benar-benar dijadikan sebagai ruang kebebasan, dalam ranahnya akademik semua hal dipelajari. Berbeda dengan Indonesia, ketakutan terhadap Ideologi menjadikan pendidikan terkesan didikte oleh kekuasaan. Pendidikan di Indonesia masih ada anti terhadap suatu pemikiran tertentu. Ketakutan terhadap ideologi komunis dan Marxis misalnya, masih tertanam kuat pada pendidik di Indonesia. Gus Dur sendiri pernah mengkritik "komunis ko ditakuti,". Tapi karena kedangkalan berpikir orang Indonesia Gus Dur malah dicap sebagai pro-komunis.
Pendidikan di Cina sudah berbicara tentang bagaimana membuat matahari buatan. Di Indonesia masih berputar pada soal-soal ideologi. Perbedaan pemikiran diperdebatkan, tanpa berkesudahan. Tidak ada kebebasan akademik dalam pendidikan Indonesia sehingga terjadi kemandekan berpikir pada generasinya. Disisi lain pendidikan Indonesia menginginkan agar pendidikan sesuai dengan Pancasila tapi dasar menuju pemahaman (epistemologi) Pancasila itu tidak diajarkan.
Di Cina Filsafat menjadi pembelajaran wajib kepada anak-anak sekolah. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Fung Luan, seorang Guru Besar Filsafat Universitas Tsing Hua dan Guru Besar Tamu Universitas Pennsylvania, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak-anak sekolah di Cina sejak dulu kala adalah filsafat. Begitu pula halnya dengan filsafat Islam di Eropa sejak awal berdiri perguruan tinggi terkemuka di benua itu (Darji Darmodiharjo, 1999:24).
Di Indonesia filsafat masih menjadi satu cabang ilmu pengetahuan yang menakutkan, apalagi untuk diajarkan kepada anak-anak di sekolah. Seorang analis politik Rocky Gerung pernah mengkritik soal pendidikan di Indonesia, "di Prancis anak-anak sekolah sudah bisa bantah-bantahan dengan gurunya", pembelajaran tampak hidup dan dinamis. Lalu bagaimana dengan anak-anak sekolah di Indonesia,? Guru di Indonesia tentu saja bisa jadi baper kalau ada siswa yang membantahnya.
Misalnya, seorang siswa memberitahukan kepada mereka bahwa ada beberapa guru yang kurang berdisiplin dalam memenuhi kewajiban rutinnya untuk mengajar. Wali kelas terperenyak. "Kamu kok mengkritik guru," tanyanya. Disaat lain saya mengemukakan tentang beberapa guru yang tidak konsisten menjalankan tata aturan sekolah. Aku ditegur "Kamu berani ya,?". Ada lagi kejadian ketika saya melontarkan pendapat bahwa guru ini dan itu kurang mampu mengajar, kurang bisa mengkomunikasikan pelajaran. Untuk ini saya digertak "Kamu melawan guru,!". Akhirnya ketika aku membantah beberapa bab keilmuan yang diajarkan, cap yang kuperoleh ialah "berkelakuan tidak baik," demikian penggamabaran Emha Ainun Nadjib dalam bukunya berjudul "Sedang Tuhan Pun Cemburu (2015:3).
Filsafat Cina
Apabila kita melihat pada perkembangan filsafat Timur, maka sebagian besar dari makna filsafat yang dimaksud disini adalah filsafat sebagai pandangan hidup. Hal ini terutama tampak pada saat kita membahas tentang filsafat Cina. Filsafat Cina lebih merupakan pandangan hidup daripada sebagai ilmu. Tokoh filsafat Cina seperti Konfusius dan Lao Tse merupakan filsuf-filsuf yang sangat populer dan ajaran mereka banyak dipelajari. Bahkan masyarakat Barat sering menilai ajaran-ajaran mereka tidak sekadar sebagai filsafat tetapi sudah menjadi agama bagi orang Cina (Darji Darmodiharjo, 1999:37).
Hamersma (1990:31-35) menyebutkan tiga tema yang sepanjang sejarah dipentingkan dalam filsafat Cina, yaitu harmoni, toleransi dan perikemanusiaan. Harmoni antara sesama manusia, manusia dan alam, serta manusia dan surga. Toleransi mengandung pengertian terhadap keterbukaan untuk pendapat-pendapat yang berbeda dengan pendapat pribadi (termasuk dalam hal beragama). Perikemanusiaan penting karena manusialah yang merupakan pusat filsafat Cina. Manusia pada hakikatnya baik, dan manusia pula yang harus mencari kebahagiaannya di dunia ini dengan mengembangkan dirinya dalam berinteraksi dengan alam dan sesamanya.
Dasar filsafat Cina setidaknya ada tiga yaitu Konfusianisme, Taoisme dan Yin-Yang. Pertama, Konfusianisme adalah ajaran yang dibawa oleh Kung Fu Tzu (551-479 SM). Salah satu ajaran Konfusianisme adalah tentang "tao". Tao disini dapat diartikan sebagai jalan atau kebenaran yaitu sesuatu yang dapat dipakai untuk meningkatkan taraf jiwa kita. Penyelidikan tentang tao ini sudah dilakukan oleh Konfusius pada saat usianya masih sangat muda, yaitu 15 tahun.
Kedua Taoisme, yang diajarkan oleh Lao Tse (hidup sekitar abad ke- 4). Ajarannya menganjurkan orang untuk kembali kepada Tao. Tao disini diartikan sebagai jalan atau hukum alam. Menurut Lao Tse, untuk seorang pribadi manusia, kesederhanaan dan kewajaran merupakan hal yang dianjurkan. Kekerasan harus dijauhi, seperti juga halnya bergulat untuk uang dan prestise. Orang tidak boleh mengubah dunia, melainkan harus menghormatinya. Bagi pemerintahan, langkah yang dianggap bijak adalah berbuat tidak begitu aktif dengan banyak mengatur ini dan melarang itu.
Ketiga, Yin-Yang. Ajaran ini mengajarkan tentang prinsip keseimbangan Yin dan Yang, dua prinsip induk dari seluruh kenyataan. Yin berarti ketiadaan sinar matahari (kegelapan), dan yang adalah sebaliknya. Yin dapat juga diartikan sebagai prinsip pasif, ketenangan surga, bulan, air dan perempuan, simbol untuk kematian dan dingin. Yang adalah prinsip aktif, gerak, bumi, matahari, api dan laki-laki, simbol untuk hidup dan panas ((Darji Darmodiharjo, 1999:43).
Filsafat Yin-Yang mengajarkan, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini mengandung dua sisi yang bertolak belakang, demikian juga dengan hidup manusia. Filsafat ini dilambangkan dengan dengan lingkaran bergaris tipis melengkung, memisahkan dua bagian (hitam dan putih) secara harmonis. Dalam bagian hitam terdapat satu titik putih, demikian pula sebaliknya, dalam bagian putih terdapat secercah titik hitam. Hal ini melambangkan betapa relatif sesungguhnya perbedaan itu. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang seluruhnya bersifat yin dan tidak ada pula yang sepenuhnya bersifat yang. Kedua sifat itu saling melengkapi.

