Saya dulu pernah diskusi dengan seseorang. Tak perlu saya sebutkan namanya, yang pasti ia adalah orang tua yang mungkin secara pengalaman sangatlah luas. Pada waktu itu saya diskusi tentang suatu ilmu yang disebut "ngaji diri". Ngaji diri berarti mawas diri, mengenal diri, kontemplasi dengan merenungkan dan bertanya kepada diri sendiri dari hal sederhana sampai hal yang lebih rumit. Ngaji diri sering dijadikan acuan bagaimana kita menjalani kehidupan dengan bijaksana. Misalkan jika kita dicubit sakit, maka jangan pernah menyubit orang lain, jika kita dicaci sakit hati maka jangan pernah mencaci orang lain.
Ketika kita berbicara ilmu, maka merujuk pada suatu ciri ilmu itu sendiri salah satunya adalah sistematis. Disamping itu ciri ilmu juga harus objektif yang artinya diambil dari pengalaman yang dialami oleh manusia, karena hanya manusialah yang berpikir. Ada (being) artinya pengalaman yang dialami manusia dan pengalaman merupakan salah satu sumber pengetahuan empiris manusia, disamping rasio atau akal. Maka dalam konteksnya ngaji diri sifatnya umum, tak hanya berlaku bagi sebagian orang, tapi berlaku untuk semua orang.
Ngaji diri adalah sebuah perenungan yang mempertanyakan kepada diri kita sebagai manusia sampai sejauh mana kita mengenal diri kita sebagai manusia, misal dari mana kita dan akan kemana kita, siapakah manusia itu. Dari sudut pandang Islam ngaji diri itu berkaitan dengan tahapan untuk mengenal tuhannya. Soal ini misalnya membincang tentang manusia dan Iman, seperti yang pernah dibahas oleh Prof. J. Subhani dalam bukunya Panorama Pemikiran Islam.
Prof. J. Subhani mengatakan Ngaji diri bisa diartikan pula sebagai kajian menggali lebih dalam kedudukan manusia di alam semesta. Dalam ilmu sosiologi ngaji diri dikenal analisis diri, namun sosiologi terbatas pada pembahasan seputar mengenal potensi diri manusia itu sendiri (Subhani, 2013). Tapi kalau kita pertanyakan misalnya, apakah manusia itu diciptakan atau terciptakan. Mengenai ini jelas timbul suatu perbedaan pendapat antara tradisi pemikiran timur dan tradisi pemikiran barat.
Timur yang kental dengan nuansa keagamaannya pasti mengatakan bahwa keberadaan manusia tidak terjadi begitu saja tapi ia ada yang menciptakan, siapa yang menciptakannya yaitu tuhan (Allah). Sedangkan, barat yang lebih mengedepankan rasio (akal) mengatakan manusia terciptakan bukan diciptakan. Kata terciptakan mengikuti hukum alam. Sedangkan diciptakan àdalah kata kerja berarti ada yang menciptakan yang artinya pencipta sudah ada sebelum ciptaannya. Timur memandang manusia bukan sekedar dilihat dalam perspektif biologis, tapi adanya manusia melalui proses penciptaan.
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik," (QS. Al-Mu'minun Ayat 12-14).
Islam membantah soal manusia terciptakan yang hanya dilihat dari sisi akali. Cara pandang barat ini membentuk satu pemikiran ateis atau tidak mempercayai adanya tuhan. Tapi Islam memberikan suatu pandangan yang utuh, bahwa selain manusia tumbuh dan berkembang secara alami, ia ada yang menggerakan, menumbuh kembangkan yaitu Allah SWT. Berdasarkan hal ini, kita melihat pemikiran antara barat dan timur telah menciptakan suatu pandangan yang berbeda terhadap manusia. Pandangan Barat seperti itu kemudian kita sebut ateis.
Manusia memiliki potensi dan kemampuan sedemikian rupa guna memahami dirinya, dan dunia. Al-Qur'an dan hadist mengajak manusia mengenal diri. Apabila seseorang dengan berpikir dan merenung dapat mengenal potensi dan kemampuannya untuk perkembangan dan kesempurnaan, itu berarti ia akan lebih baik lagi membawa modal-modal eksistensi dalam dirinya menuju kesempurnaan.
"Hendaknya manusia melihat dari apa ia telah diciptakan," (Q.S al-Thariq, 86:5).
"...dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali," (Q.S Maryam 19:67).
Sedangkan, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib menyatakan dalam sebuah riwayat, "Orang yang mencapai pengenalan diri, ia telah sampai pada kebahagiaan dan kemenangan," (Subhani, 2013).
Kesimpulannya adalah ngaji diri berarti mengenal diri atau memiliki pengetahuan terhadap dirinya sendiri. Dengan mengenal diri kita akan tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang benar dan apa yang tidak benar, dan lain sebagainya. Setelah manusia mengenal dirinya, karena keingintahuannya ia akan mempertanyakan diluar dirinya seperti pengenalan terhadap sang pencipta, dan pengenalan terhadap alam smesta. Mengenal diri adalah tahapan menuju kesempurnaan manusia sebagai makhluk yang berakal. Orang yang ngaji diri juga tidak akan gampang menyalahkan orang lain, tapi ia mengkaji secara kritis apa permasalahannya dan bagaimana menyelesaikannya tanpa menyalahkan pihak manapun.
