![]() |
| Ilustrasi/fixabay.com |
Saya melihat di salah satu acara televisi memberitakan seorang ibu menikahi anak kandungnya. Miris memang, kalau kata netizen pertanda akhir zaman. Tapi tunggu dulu, karena hal tersebut pernah ada pada zaman Dinasti Abbasiyah.
Jadi di Gorontalo terdapat seorang ibu yang menikahi anak kandungnya sendiri. Tak habis pikir, alasan ibu menikahi anak kandungnya tersebut lantaran ia tak kuat lagi menjanda selama 12 tahun. Selain itu, ia juga tak mau anaknya jatuh ke pelukan wanita lain.
Dikutip dari tribunnews.com, kabarnya kisah pernikahan sedarah itu sampai sudah membuat sang ibu hamil besar hasil hubungannya dengan sang anak. Hal ini pun kembali membuat geger netizen di media sosial.
Aliran Sekte Manu
Fenomena itu pernah terjadi di masa Dinasti Abbasiyah. Golongan itu adalah golongan zindik yang disebut Sekte Manu, sebuah sekte yang membolehkan menikahi ibu atau ibu menikahi anak, bahkan saudara kandungnya sendiri.
Kejadian itu terjadi pada pada saat Dinasti Abbasiyah diperintah oleh khalifah Al-Mahdi (158-162 H). Al-Mahdi adalah anak dari Jafar Al-Mansyur, khalifah kedua setelah Abu Abbas bin Muhamad bin Ibrahim bin Ali, pendiri Dinasti Abbasiyah.
Pada masa memerintah, Al-Mahdi memerangi orang-orang zindik, diantaranya ialah Sekte Manu. Ia adalah agama yang diciptakan oleh Mani pada abad ke-3 masehi. Tak hanya itu, Sekte Manu ini juga memiliki ajaran dan upacara-upacara khusus.
Sekte Manu mengajarkan kezuhudan dan kependetaan. Namun, mereka melanggar yang diharamkan karena keluar dari tauhid. Mengutip Dr. Yusuf Al-Isy, dalam bukunya Dinasti Abbasiyah, Sekte Manu menyembah cahaya dan kegelapan.
Sekte Manu, disebutkan dalam wasiat Al-Mahdi kepada putranya Al-Hadi. Wasiat tersebut tertulis dalam sebuah catatan Ath Thabari. Al-Hadi berpesan agar bersikap objektif terhadap Sekte Manu. Ia mengatakan apabila mereka menghalalkan apa yang diharamkan, maka mereka harus dihabisi.
Dijelaskan oleh Dr. Yusuf yang dikutipnya dari catatan Ath Thabari bahwa, agama Manu menyembah cahaya dan kegelapan. Selain itu ia membolehkan menikahi ibu, menikahi anak perempuannya, mandi dengan air kencing, dan menculik anak kecil dari jalan, dengan alasan untuk menyelamatkannya dari kegelapan menuju cahaya.
Al-Mahdi meminta untuk menghabisi mereka. Peperangan dilancarkan kepada setiap orang zindik, atheis dan yang melanggar hal-hal yang diharamkan tersebut. Disamping itu, Sekte Manu juga mempropagandakan rasisme, memerangi bangsa Arab dan hal-hal berbau Arab.
"Habisilah mereka yang mengharamkan daging, tidak menyentuh air suci tidak membunuh serangga karena wara. Serta habisilah mereka karena menyembah dua hal, cahaya dan kegelapan. Selain itu mereka membolehkan menikahi ibunya, anak perempuannya, dan menculik anak kecil untuk menyelamatkannya dari kegelapan menuju cahaya," catatan Ath Thabari.
Al-Mahdi adalah salah satu khalifah yang penyayang dan tegas. Sekte Manu yang dihabisi Al-Mahdi adalah agama yang mengajarkan aliran sesat dan keluar dari tauhid, oleh karenanya Al-Mahdi mewasiatkan kembali kepada anaknya Al-Hadi yang kelak menjadi penerusnya untuk menghabisi aliran tersebut.
