Di Indonesia sebutan kyai bukanlah sesuatu yang asing. Hingga saat ini kedudukannya begitu sangat dihormati di masyarakat. Ia adalah guru bagi masyarakat yang tidak bosan-bosannya mengajak masyarakat untuk konsisten beribadah dan taat kepada Allah.
Di Banten, misalnya khsusunya di kampung saya masih banyak lara kyai, mereka ada yang memiliki pondok pesantren ada pula yang tidak. Tapi mereka punya fungsi dalam memimpin berbagai ritual keagamaan, ada yang menjadi imam sholat, pemimpin tahlil dan pembawa acara hari besar Islam. Yang pasti keberadaan mereka hingga saat ini masih dibutuhkan oleh masyarakat.
Misalnya, saat di kampung saya ada yang meninggal, yang pertama kali maju kedepan adalah kyai, kemudian saat tahilan juga yang maju adalah kyai, saat menyolati jenazah merekalah yang aktif mulai dari memandikan, mengkafani, menguburkan hingga memimpin doa. Begitu juga saat acara muludan, dan saat pernikahan, mereka yang selalu berdiri menjadi pemandunya.
Peranan kyai di masyarakat sangat penting melebihi seorang sarjana, doktor bahkan profesor. Ia juga akan selalau relevan dalam sepanjang zaman. Kehadirannya dibutuhkan dari kalangan atas hingga kalangan masyarakat bawah. Saya tidak bisa membayangkan jika sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, tidak ada generasi penerusnya, kira-kira siapa yang akan melanjutkan kepemimpinan mereka di masyarakat.
Pemikir Tanpa Legalitas
Julukan yang paling tepat untuk kyai adalah pemikir tanpa legalitas. Gelar Kyai tidak didapatkan melalui sekolah, Ia tidak bisa dibeli, diberikan, apalagi dimanipulasi. Kyai adalah anugerah, berkat kejujuran, keikhlasan dan ketawadhuannya. Tujuannya bukan sementara tapi keabadian, bukan dunia melainkan akherat.
Suatu ketika saya pernah berkunjung ke salah satu rumah Kyai di desa saya, namanya Kyai H. Damanhuri, usianya lumayan tua, tapi pengalaman dan ilmunya sangat luas dan dibutuhkan oleh masyarakat. Beliau bercerita bagaimana perjuangannya dulu pada saat menuntut ilmu. Bahkan setelah menikah ia masih mencari ilmu, katanya.
Gelar yang didapatkan melalui proses yang sangat lama, karena tak hanya cerdas, tetapi ia juga harus memiliki akhlak yang tinggi dan menjadi contoh bagi masyarakat. Julukan Kyai bukan hanya dari ilmunya saja tapi dari ketinggian akhlaknya, semakin ia menunjukan akhlaknya maka semakin ia dihargai masyarakatnya. Lambat laun kehadirannya membawa manfaat dan ketentraman, banyak yang berguru dan akhirnya masyarakat menyebutnya Kyai.
Sebelum mereka menjadi Kyai biasanya mereka adalah santri yang lulus dari pondok pesantren. Proses pendidkan itu tidak seperti sekolah dibatasi tiga sampai empat tahun. Mencari ilmu agama tidak semudah seperti sekolah ia membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan mencapai puluhan tahun, lulus dari pondok pesantren satu pindah ke pesantren lainnya, hingga saatnya ia dinyatakan lulus yaitu ketika ia dinilai sudah cukup memiliki ilmu oleh gurunya, dan ia pun dipulangkan.
Kyai sejatinya adalah pewaris nabi yang membawa risalah ajaran agama Islam untuk diajarkan dan dikembangkan kepada generasi berikutnya. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadist, Rosulullah SAW: "Al-ulama'u Firosltul Anbiya" yang artinya ulama adalah pewaris para nabi. Ulama dan Kyai tidak jauh berbeda, bedanya mungkin hanya wilayah keilmuanya. Tapi mereka pada dasarnya sama, berperan penting dalam mengajarkan dan menjaga tradisi agama.
Meski demikian diera modern ini menemukan ulama atau Kyai yang benar-benar Kyai sangatlah sulit. Banyak sekali oknum Kyai yang tidak bisa melawan berbagai tantangan kehidupan dunia yang pada akhirnya ia terjerumus pada keindahan dunia. Mereka itulah yang mencemari kyai-kyai yang soleh. Terkadang hanya karena salah satu oknum kyai berbuat inkar, masyarakat langsung memukul rata, bahwa sudah tidak ada lagi Kyai yang benar-benar memegang teguh prinsip ajaran agamanya.
Memang benar bahwa diera sekarang ini menemukan kyai yang tulus mengajarkan agama Islam sangatlah sulit. Tapi bukan berarti tidak ada, hanya saja kita sebagai umat muslim harus mulai selektif dalam memilih dan menilai, apalagi jika kita hendak bermaksud menitipkan anak-anak kita masuk ke pondok pesantren. Kita harus mengetahui asal usul pondok pesantren tersebut, terutama soal nasab keilmuannya, karena tidak sedikit juga Kyai yang mengajarkan ajaran sesat.
Mengenai Kyai, pernah disinggung oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, bahwa katanya kelak akan muncul dua jenis Ulama atau Kyai. Al-Ghozali menyebut dua jenis Kyai tersebut yaitu Kyai dunia dan kyai akherat. Maksudnya apa,? Kyai dunia adalah para oknum Kyai yang menjual pengetahuan agamanya hanya untuk kepentingan dunia, sedangkan Kyai akherat adalah Kyai yang tidak menyukai dunia, ia tidak memiliki sifat pragmatis, ingin popularitas dan jabatan, tapi ia istiqomah dalam mengajarkan agamanya.
Sekali lagi kedudukan Kyai tidak diberikan, tetapi ia adalah anugerah yang diberikan oleh Allah melalui kesadaran masyarakat. Semakin ia mengabdi untuk masyarakat, ia semakin berharga, semakin ikhlas ia mengabdi maka semakin dihormati dirinya, apalagi ia memiliki pengetahuan agama, misalnya bacaan al-Qurannya fasih, pintar menerangkan kitab kuning, pintar qori, pintar ceramah, dan lain sebagainya, maka gelar Kyai akan datang melalui pintu ilmu, amal dan perbuatannya.
Kyai adalah pemikir tanpa legalitas, keilmuannya tidak diukur oleh selembar kertas. Namun, bukan berarti mendiskreditkan yang sekolah. Sekolah juga penting apabila kita bersungguh-sungguh dalam belajarnya. Hal ini karena Islam mengajarkan agar umat muslim menguasai berbagai bidang keilmuan, tapi jika menjadi presiden maka jadilah presiden yang benar, jika menjadi DPR maka jadilah DPR yang benar, jika menjadi dokter maka jadilah dokter yang benar dan jika menjadi pengusaha maka jadilah penguasaha yang benar. Benar artinya meninggalkan yang buruk dan mengamalkan yang baik.
Demikian semoga bermanfaat ...
.jpeg)