Iklan

Kisah tentang ilmu firasat Imam Syafii

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang kisah firasat Imam Syafii. Imam Syafii memiliki firasat yang kuat. Ia mampu mengenali sosok dan kepribadian hanya dengan melihat wajah atau tanda-tanda pada diri seseorang.

Imam Syafii sudah dianugerahi ilmu ini sejak ia kecil. Sementara itu, buku-buku tentang firasat, ia peroleh dari Yaman. Jadi, tak heran jika Syafii ketika dewasa memiliki firasat yang kuat, bahkan keilmuannya tentang firasat ini banyak dikisahkan.

"Syafii mempelajari ilmu firasat dan mempraktikannya. Ia bahkan termasuk orang yang paling tajam firasatnya," dikutip dari Dr. Tariq Suwaidan dalam bukunya berjudul Biograf Imam Syafii, Kisah Perjalanan dan Pelajaran Hidup Sang Mujtahid.

Riwayat Al-Humaidi

Imam Syafii sedang melewati sebuah kampung di tengah perjalanannya menuju Yaman

Salah satu kisah tentang ilmu firasat Imam Syafii dalah diriwayatkan oleh Al-Humaidi. Disebutkan bahwa riwayat ini menjadi riwayat yang terunik diantara riwayat-riwayat lainnya. Diriwayatkan oleh Al-Humaidi, Muhamad ibn Idris menuturkan, 

"Aku berpergian ke daerah Yaman mencari buku-buku tentang ilmu firasat agar aku dapat menulis dan menyusunnya. Di tengah jalan, aku bertemu dengan seorang laki-laki yang tengah duduk di depan rumahnya. Matanya biru, dahinya lebar, dan ia tak berjenggot.

"Apa di sini tempat persinggahan, tanyaku padanya. "Ya, jawabnya. Syafii melanjutkan dan mengatakan, "Kulihat di wajahnya tanda-tanda kehinaan (ini adalah tanda terburuk dalam ilmu firasat). Ia lalu mempersilahkanku menginap di rumahnya. 'Sungguh ia terlihat begitu baik kepadaku, lanjutya. 

"Ia menghidangkan makan malam, memberiku wewangian dan menyediakan rumput untuk untuk kuda tungganganku. Selain itu, ia juga menyiapkan kasur lengkap dengan selimutnya untuku. Malam itu, aku tidur sangat lelap, kata Syafii.

"Apa gunannaya buku-buku firasat ini" pikirku dalam hati demi melihat sosok laki-laki yang begitu baik kepadaku kendati tampangnya hina dan bengis. Firasatku salah tentang laki-laki ini, gumamku.

Keesokan harinya, aku meminta budaku untuk melepaskan tali kekang kudaku. Aku pun menaikinya dan bersiap untuk berangkat. Saat aku melewati laki-laki itu, aku berpesan padanya, "jika kau berpergian ke Mekah dan melewati daerah Dzi Thawa, tanyakan pada orang-orang, dimana rumah Muhamad ibn Idris al-Syafi'i. Mampirlah ke rumahku, itu,.

Syafii saat ditagih untuk membayar semua fasilitas yang digunakannya selama menginap

Orang itu malah menjawab, "Memangnya aku ini budak bapakmu,!?". 'Apa maksudmu, tanyaku padanya. Ia menjawab, 'Perlu kau ketahui, aku membelikan untukmu makanan dengan 2 dirham, wewangian 3 dirham, rumput 2 dirham, harga sewa kasur dan selimutnya 2 dirham,".

Mendengar hal itu, aku kaget. Kuperintahkan asistenku untuk memberinya uang sejumlah yang ia sebutkan. 'Ada lagi yang lain, tanyaku pada lelaki itu. Ia menjawab, harga sewa rumah karena aku telah membuat tidurmu nyaman, sementara aku rela bersempit-sempit untukmu.

Syafii mengungkapkan, "Aku pun bahagia, karena buku-buku firasat yang semula kuduga sia-sia, ternyata bermanfaat juga. Buku-buku firasat itu teryata tidak salah. Setelah itu, aku bertanya lagi, 'Ada lagi yang lain?". Ia menjawab dengan ketus, 'pergilah semoga Allah menghinakanmu. Aku tidak pernah melihat orang seburuk dirimu.

Riwayat Al-Muzanni

Imam Syafii menggunakan ketajaman dan kecerdasannya untuk memberitahukan tentang keberadaan seseorang

Al-Muzanni pernah meriwayatkan tentang ilmu firasat Imam Syafii. Al-Muzani mengisahkan, "Aku tengah bersama Syafi'i di Masjidil Harom. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berjalan berkeliling diantara orang-orang yang tidur di sana. Imam Syafii lantas berkata, kepada al-Rabi,

" katakan pada orang itu, apa ia telah kehilangan seorang budaknya yang berkulit hitam dan salah satu matanya cacat?". Al-Rabi pun bangkit dan menyampaikan pesaan Syafii kepada orang itu. Kemudian orang itu menjawab, Ya seperti itulah budaku!,".

Ia pun mendatangi Syafii. "Ya, seperti itulah budadku, katanya kepada Syafii. Syafii lantas berkata kepadanya, carilah ia ditengah kerumunan orang itu". Al-Rabi melanjutkan penuturannya, "Melihat hal ini aku tercengang dan kutanyakan pada Syafii, katakan pada kami bagaimana kau bisa menebaknya? kau  telah membuat kami heran,.

Bailah, jawab Syafii. "Tadi aku melihat seseorang masuk melalui pintu Mesjid, lalu ia berkeliling diantara orang-orang yang tidur. Di sini, aku menduganya tengah mencari seseorang yang kabur darinya. 

Kulihat orang itu mencari-cari diantara orang-orang hitam yang tengah tidur. Aku berkesimpulan bahwa ia mencari seorang budak hitam. Ia lalu memeriksa mata kanan orang-orang itu. Menurut dugaanku, berarti ia tengah mencari budak yang salah satu matanya cacat, lanjut Syafii.

Kami lalu bertanya padanya, "Lantass mengapa kau suruh ia pergi ke tempat kerumunan,?". Syafii menjawab, "Dalam hal ini aku menakwilkan hadist Rosulullah SAW, "Tak ada kebaikan sama sekali dalam kerumunan orang. Jika mereka lapar, mereka akan mencuri, dan jika mereka kenyang mereka akan meminum-minuman keras dan berzina. Dari sini aku berpikir bahwa budak orang itu telah melakukan salah satu dari kedua hal diatas,". Rupanya firasaat Syafii benar.

"Imam Syafii menggunakan ketajaman firasat dan kecerdasannya untuk memberitahukan keberadaan seorang budak yang sedang dicari tuannya,".

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama