Sartono Kartodirdjo menulis sebuah buku yang berjudul "Pemberontakan Petani Banten 1888". Judul buku ini menarik, mengingat Sartono Kartodirdjo mengangkat judul tersebut dalam perspektif kolonial Belanda, yang di dalam kepenulisan sejarah, disebut histeriografi Belanda sentris.
Pada awalnya memang banyak yang bertanya-tanya, kenapa Kartodirdjo menulisnya "Pemberontakan Petani Banten" bukan "Perjuangan Petani Banten". Jika memang demikian, apabila kita maknai secara terbalik maka apakah berarti rakyat pribumi pada waktu itu adalah seorang pemberontak! bukan pejuang?
Melihat judul tersebut tentu saja orang awam akan menilai bahwa Sartono Kartodirdjo adalah pro Belanda bukan Indonesia. Tapi benarkah demikian,? Menurut saya justeru, Kartodirdjo membuat judul yang objektif terhadap peristiwa pemberontakan petani banten tersebut.
Baca Juga: Kerbau dalam Kisah Saidjah dan Adinda: Pelindung dan Penyelamat Petani
Sartono Kartodirdjo menurut saya memposisikan dirinya sebagai penulis sejarah bukan sebagai pemihak sejarah. Ia memiliki analisis bahwa pada waktu itu Indonesia belum menjadi sebuah negara, Indonesia yang berdaulat seperti sekarang ini baru ada sejak diproklamasikannya pada 17 Agustus 1945.
Selanjutnya pertanyaan yang muncul terhadap buku tersebut adalah kenapa Sartono Kartodirdjo tidak mengambil judul perjuangan Ulama? bukan pemberontakan petani Banten. Kenapa? karena didalam buku tersebut isinya membahas sebagai Ulama, artinya gagasn untuk melakukan perlawanan adalah Ulama, bukan petani.
Sartono Kartodirdjo dalam pandangan saya hanya berusaha menjelaskan tentang gerakan sosial yang dilatarbelakangi oleh kondisi sosial, politik, dan ekonomi pada saat itu. Ia menjelaskan tentang kondisi petani di Banten pada masa itu, termasuk eksploitasi yang mereka alami dari pihak penguasa kolonial Belanda dan para tuan tanah pribumi.
Baca Juga: Kyai, Pemikir Tanpa Legalitas
Penyemeatan petani dalam karyanya tersebut, memposisikan bahwa gerakan Petani Banten dilakukan atas keadaan petani tapi yang menjadi pelopor gerakannya adalah seorang Ulama. Kenapa Ulama?, karena Ulama pada waktu itu adalah aktor intelektual didalam masyarakat Banten.
Ulamalah yang memberikan semangat jihad kepada para petani, bahwa petani tidak boleh diam, mereka harus melawan jika ingin bebas dari eksploitasi kolonial Belanda. Maka bisa kita simpulkan bahwa pemberontakan petani Banten sebetulnya adalah perjuangan ulama Banten waktu itu.
Dalam setiap pembabakan sejarah Banten, memang ulamalah yang secara keseluruhan paling banyak berperan dalam membentuk dan membangun komunitas masyarakat Banten. Mereka tidak hanya berperan sebagai simbol agama yang bertugas menyampaikan fatwa atau menyeru moral. Tetapi mereka tampil sebagai agent of social change (agen perubahan sosial).
Mengenai judul buku Pemberontakan Petani Banten dalam karya Sartono Kartodirdjo saya ingin mengungkapkan bahwa sesungguhnya bukanlah pemberontakan petani, tetapi perjuangan ulama Banten. Tapi bagaimana jika dilihat dalam histeriografi Belandasentris? mungkinkah kita akan menyebutnya Pemberontakan Ulama Banten?
Baca Juga: Pendidik dalam Perspektif Imam Al-Ghozali
Ulama begitu sangat dihargai di masyarakat, mereka adalah pembawa tentram melalui ajaran moral agama yang disampaikannya. Keputusan untuk melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda saya yakin pasti sudah dipikirkan secara matang dan dalam situasi yang memang harus melakukan perlawanan.
Ualama memobilisasi masyarakat, memberikan pendidikan sosial keagamaan, sehingga lambat laun para petani menyadari hal tersebut, bahwa apa yang dilakukan oleh kolonial Belanda terhadap rakyat pribumi pada saat itu telah melampaui batas. Belum lagi para demang yang menjabat di pemerintahan yang sudah dibawah kendali Belanda.
Jadi dari narasi ini bisa kita simpulkan bahwa pemberontakan petani Banten sesungguhnya adalah perjaungan ulama. Merekalah yang menjadi peran intelektual dalam gerakan tersebut. Meskipun, pada akhirnya gerakan tersebut harus memakan korban yang tak sedikit. ***
