Iklan

 

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Setia Budhi Rangkasbitung  menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) jilid II yang dilaksanakan di Gedung Sekolah Fatahilah, Desa Kujangsari, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten pada Jumat sampai Senin, tanggal 09-12 Mei 2023. 

Inda Ulung Saputra, selaku ketua pelaksana kegiatan mengungkapkan bahwa PKD II Komisariat Setia Budhi Rangkasbitung ini mengambil tema "Mengukuhkan Integritas Kader Ditengah Ombang-Ambing Politik. Inda yang disapa Ujang tersebut, mengatakan, tema ini bertujuan untuk menjaga integritas PMII dari intervensi politik,"katanya. 

Pada PKD kali ini saya diberikan kesempatan untuk menyampaikan materi dengan tema Strategi Pengembangan PMII Berbasis Potensi Akademik dan Orientasi Profesi. Saya bukanlah ahli dalam materi ini, tetapi saya akan berusaha menyampaikan materi ini dengan baik. Materi ini akan saya sampaikan pada Sabtu, 9 Juni 2023 pukul 07.00-09.00 WIB. 

Pengantar Diskusi 

Setiap organisasi pasti memiliki tujuan. Tujuan tersebut terdiri atas tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Tujuan PMII yaitu terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab dalam mengamalkan ilmunya. Tujuan ini sifatnya jangka panjang, dan akan selalu relevan sepanjang zaman. Dimana ada tujuan maka disitu akan ada strategi bagi manusia yang berpikir. 

Tujuan itu harus memenuhi syarat nilai, apakah PMII memenuhi syarat nilai? tentu saja! misalnya taqwa, jujur, berilmu, cakap dan bertanggungjawab, nah ini adalah syarat nilai dan akan selalu relevan dalam hal apapun. Misalnya, jika kita menjadi pedagang, maka jadilah pedagang yang jujur, jika kita menjadi seorang guru maka jadilah guru yang jujur, lebih-lebih berilmu, cakap, bertanggungjawab itu semakin bagus, begitupun seterusnya dalam status sosial apapun. 

Setelah kita sepakati bersama tujuan tersebut, maka kita berusaha untuk menggapainya. Maka, disinilah diperlukan strategi untuk mewujudkan tujuan tersebut? Lalu bagaimana caranya agar tujuan kita itu bisa terwujud? Sebelum membahasnya lebih lanjut, kita perlu menanyakan "tujuan siapa yang hendak kita wujudkan itu?" tujuan pribadi atau tujuan PMII?  tentu saja dalam konteks ini yang harus dikuatkan adalah tujuan organisasi PMII.

Manusia berbeda dengan binatang, manusia memiliki tujuan, harapan dan cita-cita. Berbeda dengan binatang, mereka cukup tidur, makan, berzina, dan mati. Manusia memiliki tanggungjawab terhadap kehidupannya, hari ini dan masa yang akan datang. Generasinya adalah tanggungjawabnya. Sama halnya dengan masa depan anak, adalah tanggungjawab orang tuanya. Maka secara umum, masa depan bangsa ada ditangan bangsa itu sendiri, masa depan suku ada di suku itu sendiri dan masa depan organisasi ada ditangan organisasi itu sendiri. 

"Masa depan ditanganmu untuk meneruskan perjuangan," demikian bunyi kutipan dari lirik lagu himne PMII.

Keberhasilan kita dimasa yang akan datang ditentukan hari ini, karena setelah menjadi esok, kemarin yang kita sebut hari ini akan menjadi sejarah. Gunakan waktu, tenaga, pikiran, dan materi yang kita miliki untuk menggapai tujuan tersebut. Ingat tujuan itu harus mulia yang memberikan manfaat bagi semua orang. Semakin tujuan itu mulia maka setelah terwujudnya ia akan dikenang sepanjang zaman, dan ia akan abadi selamanya. 

Strategi Pengembangan PMII

Ketika kita menanyakan apa itu strategi, saya yakin kita sedikit termenung beberapa menit, berpikir dan bertanya "Apa ya??". Kalau kita serach di google apa itu strategi, saya takin akan muncul banyak sekali pengertian tentang strategi. Bagi saya jika sekedar ingin tahu pengertian strategi kita tinggal baca saja, karena yang terpenting sebetulnya bukan tentang tahu atau tidak apa itu strategi, tetapi kita paham atau tidak strategi itu. 

Strategi adalah seperangkat panduan eksplisit yang disusun sebelum organisasi menggambil tindakan atau keputusan. Sedankgan, potensi adalah sebuah kemampuan dasar yang dimiliki manusia dan sangat mungkin untuk di dikembangkan, sehingga pada intinya potensi sendiri berarti suatu kemampuan yang masih bisa di kembangkan menjadi lebih baik lagi. 

Strategi itu sesungguhnya harus diberangkatkan dari dalam diri kita sendiri sebagai orang yang merasakan keresahan tentang kondisi badan atau organisasi kita. Jangan pernah menanyakan sesuatu yang tidak dirasakan oleh orang lain, bertanyalah kepada diri kita sendiri apa yang kita rasakan, jika kita sakit apa yang kita keluhkan, jika kita punya kelebihan apa yang mesti kita lakukan, yang pasti tindakan itu harus membangun.

Setelah kita mengetahui siapa diri kita, dan akan kemana kita, tujuan kita seperti apa? maka saat itulah kita akan memilih langkah-langkahnya kemudian kita mulai melakukanya, tapi ditengah perjalanan kita pasti akan ada banyak masalah, maka kita harus berjuang untuk menghadapinya. Dimana kira-kira letak strategi itu? "Strategi itu akan ada dimana ada tantangan," demikain saya menyebutnya. 

Misalkan kita hendak ke Jakarta, naik motor, tapi kita masih bingung, karena ada sejumlah masalah terkait kendaraan kita. Masalah tersebut diantaranya ban motor sudah botak, dan kondisi jalan yang rusak, maka diawal sebelum mengambil keputusan untuk berangkat kita berpikir, maka dalam berpikir itulah sesungguhnya kita sedang merangkai strategi. Dan tentu saja akan timbul berbagai strategi dengan berbagai macam pendekatan guna memahami kelemahan dan kelebihannya hingga menghasilkan keputusan. 

Jika kita memasukan pemahama kita pada strategi pengembangan PMII maka akan ada berbagai strategi agar organisasi PMII bisa berkembang, salah satunya seperti yang menjadi pembahasan pada artikel kali ini yaitu pengembangan PMII berbasis potensi akademik dan orientasi profesi. Basis ini sangat penting untuk mengembangkan PMII disegala sektor karena basis ini adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki semua orang, meskipun tidak semua profesi bisa diraih oleh potensi akademik, tapi potensi akademik itulah yang akan membuat seseorang percaya diri. 

Potensi Akademik dan Orientasi Profesi


Potensi akademik adalah sejumlah kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan (kognitif). Potensi ini berkaitan dengan nalar kritis, kecerdasan, kepekaan dan hal lainnya yang berkaitan langsung dengan pengetahuan (intelektual) seseorang. Misalnya, pada Selasa, 30 Mei 2023 kemarin saya ikut lomba Kompetisi Sains Nasional (KSN) dan saya mendapatkan medali perak. Nah, meskipun tidak mendapat emas, tapi ini adalah potensi akademik karena untuk mencapai itu diperlukan kemampuan akademik, pengetahuan, pemahaman dan wawasan.

Lain halnya dengan kemampuan non-akademik, jika seseorang berprestasi dari atletik, silat, sepak bola maka itu termasuk potensi nonakademik. Ya, lawan dari dari istilah potensi akademik adalah potensi non-akademik yaitu sejumlah potensi yang berkaitan dengan keterampilan seseorang di bidang tertentu, misalnya keterampilan pada bidang keahlian seperti permesinan, jasa service, jasa jaringan wifi dan lain sebagainya. Tapi baik potensi akademik, maupun nonakademik bisa didapatkan melalui pendidikan, bisa pendidikan formal ataupun pendidikan informal atau mungkin nonformal. 

Memiliki potensi akademik saat ini masih sangat relevan untuk dijadikan basis pengembangan PMII. Potensi akademik adalah kemampuan dasar yang semua orang harus memilikinya, terlepas malas atau tidak. Apabila PMII akademisnya kuat maka ia bisa mengasai berbagai lini sektor, baik sektor politik, sosial, pemerintahan, ekonomi maupun kebudayaan. Adapaun soal orientasi profesi itu hanyalah pilihan, misalnya, jika kita kuliah di jurusan pendidikan maka jelas masyarakat akan memandang bahwa orientasi profesi kita menjadi seorang guru. Jika kita kuliah kedokteran maka jelas orientasinya berarti berprofesi menjadi dokter, begitupun seterusnya.

Potensi akademik membimbing kita pada profesi diberbagai lini dan sektor stratifikasi sosial, karena sebenarnya tujuan kongkrit dari proses pendidikan itu adalah menaikan status sosial masyarakat. Ya, menurut ilmu sosiologi bahwa pendidikan adalah cara agar status seseorang bisa naik ke level yang lebih tinggi, maka hal itu bisa ditempuh melalui pendidikan. Hampir semua profesi menjadikan potensi akademik ini sebagai syarat untuk menduduki berbagai profesi, termasuk lembaga pemilu seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengaw Pemilihan Umum (BAWASLU). 

Kader PMII harus memiliki potensi akademik, karena hanya dengan potensi akademiklah ia bisa mandiri. Jika kita memiliki potensi (akademik/nonakademik) kemampuan ini melekat pada diri kita, dia tidak seperti uang yang suatu saat bisa hilang atau dicuri orang. Bukan pula seperti jabatan yang suatu saat bisa habis masa jabatannya. Potensi akademik itu abadi, dia akan hadir menjadi penerang dalam kehidupan kita dan dimanapun kita berada. Memiliki kemampuan akademik akan menambah keyakinan pada diri kita, kalaupun dipangkas senior misalnya, ketahuilah ia akan tetap strong dan eksis dimanapun ia berada.

Jangan Berharap Pada Jaringan 

Jaringan tidak akan memberikan jamiman apa-apa. Memiliki jaringan luas melalui organisasi itu penting, tapi akan lebih penting jika jejaring tersebut didukung oleh kemampuan diri baik kemampuan akademik maupun non-akademik. Misalnya kita lulusan kedokteran kemudian ingin menjadi dokter di rumah sakit tertentu, maka karena kita kenal dengan orang dalam rumah sakit tersebut, kita bisa mendapatkan informasi terkait persyaratan apa saja yang harus dipenuhi agar kita bisa keterima.  

Dengan memiliki jaringan atau kenalan luas yang kita bangun selama di organisasi, kita bisa dengan mudah masuk ke berbagai lembaga manapun. Tapi, ketika kita memiliki jaringan tersebut, lantas jangan sampai membuat hilang integritas kita, artinya kita harus bersaing secara sehat dalam menggapai pekerjaan atau profesi tertentu yang kita tuju bukan karena faktor kedekatan tapi karena memang kita layak untuk diangkat dalam profesi tersebut atas dasar kemampuan akademik kita. 

Meski demikian, sering kali kita menemukan bahwa status sosial yang didapatkan tidak melalui cara yang profesional, kita sering menyebut cara ini dengan istilah jalan pintas. Berkaitan dengan hal ini dikembalikan kepada diri kita masing-masing, tetapi baiknya kita harus tetap menjaga integritas, jangan sampai citra organisasi PMII rusak hanya gara-gara oknum kader bodoh ingin bekerja tapi melalui jalan tidak sehat. Sekali lagi persoalan ini dikembalikan kepada diri individu masing-masing, karena kita bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk bagi diri kita.

Intinya, dalam mengembangkan PMII berbasis potensi akademik, kader PMII harus cerdas, harus pintar, baik secara akademis maupun non-akademis. PMII jangan lagi dijadikan alasan untuk tidak masuk kuliah apalagi berhenti kuliah. Ingat tujuan kita dikuliahkan oleh orang tua kita untuk kuliah bukan untuk berorganisasi, ia hanyalah salah satu wadah saja yang akan membentu mahasiswa untuk mengembangkan kemampuannya melalui berbagai pengalaman yang diciptakan oleh organisasi. Maka, saya sering mengatakan berkali-kali, jika ada mahasiswa yang berorganisasi tapi ia berleha-leha berorganisasinya maka dia tidak ada bedanya, tidak ada bedanya.  

Cara Mengembangkan PMII Berbasis Potensi Akademik 

Sekali lagi saya bukanlah seorang akdemisi, saya hanya lulusan S1 Pendidikan Sejarah. Tapi mengenai hal ini saya punya prinsip yang dari dulu hingga sekarang saya pegang. Saya punya prinsip, pertama saya tidak akan pernah berhenti belajar, dan akan tetap terus belajar. Kedua, saya ingin menjadi seorang pemikir tanpa legalitas. 

Meski demikian, karena motivasi belajar saya tinggi, saya bisa membuat jasa skripsi, tesis, bahkan disertasi dari berbagai kampus. Saya berpikir, bahwa meskipun saya tidak S2 tapi saya harus bisa melebihi mereka. Itulah motivasi dalam diri saya. 

Untuk lebih rincinya, berikut ini adalah cara mengembangkan PMII berbasis potensi akademik dan orientasi profesi. 

1. Kenali Potensi Diri Sendiri

2. Niat dan Yakin

3. Menerima Kritikan

4. Berpikir Positif

5. Berteman dengan siapa saja namun bergaul dengan orang yang berintegritas

6. Senantiasa Optimis

7. Motivasi Diri

8. Menerima Kekurangan

9. Memaafkan Diri

10. Keluar dari Zona Nyaman

11. Banyak Belajar

12. Mengasah Potensi Diri

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama