Iklan

 
Ilustrasi

Makrifat sering dikaitkan dengan proses menuju tasawuf. Tapi kadang orang belebihan ketika mencoba membahas ilmu tasawuf. Ada yang mengatakan kuning, biru, hijau, jingga dan lain sebagainya. Oleh karena itu dalam tasawuf juga ada mazhabnya, dan tahapannya. Maka pertama-tama kita perlu menegaskan akidah, dan fiqih sebelum masuk pada tahap ilmu tasawuf. 

Fenomena lain, misalnya kadang orang baru sampai pada tahap syari'at sudah mengaku tasawuf, kadang baru sampe tarikat sudah mengaku tasawuf, atau kadang baru sampai hakekat sudah mengaku tasawuf. Nah inilah yang membuat orang akhirnya salah kaprah, karena belum memahami secara jelas tahapan-tahapan untuk menuju tasawuf itu bagaimana. 

Mungkin pembaca masih dibingungkan dengan kaitan syariat, thariqat dan makrifat. Sebenarnya ini adalah tahapan setelah kita memahami akidah yang benar, tahap selanjutnya mematangkan ilmu fiqih, mengenal thariqat (jalan menuju Allah) dan kemudian makrifat (pengetahuan yang diperoleh melalui akal). Adapun tasawuf adalah penggabungan (sempurna) keseluruhan tahapan-tahapan tersebut. 

Mengenai pentingnya memahami tahapan menuju tasawuf tersebut, Imam Malik pernah menyinggung; "Barang siapa menjalani tasawuf tanpa fiqih maka ia telah zindiq, barangsiapa yang memegang tasawuf tanpa fiqih ma ia telah fasiq dan barang siapa menyatukan keduanya, maka ia telah menemukan kebenaran," demikian kata salah satu Imam besar kita. Artinya syariah dan tasawuf adalah ilmu untuk menuju kesempurnaan dalam beragama, sedangkan akidah adalah dasarnya.

Sebelum kita membahas tentang syariat (fiqih) dan tasawuf pertama-tama kita harus memahami tentang akidah Islam yang benar. Masalahnya persoalan akidah terpecah menjadi berbagai pandangan yang masing-masing dari mereka disebut Syi'ah dan Khawarij. Dua golongan ini menjadi dasar timbulnya aliran-aliran pemikiran (teologi) terhadap akidah yaitu Qodariyah, Jabariyah, Mutazilah dan Murji'ah. Perbedaan pemikiran akidah ini melalui proses sejarah yang cukup panjang dan berpengaruh terhadap kemajuan ilmu pengetahuan terutama filsafat.

Cara Memahami Akidah yang Benar 

Akidah adalah pokok dalam beragama Islam. Ia berkaitan dengan pokok-pokok keimanan, dan ini juga ada tahapannya, misalnya, apakah dasar seseorang membenarkan bahwa Allah adalah tunggal dan tiada tuhan selain Allah? Atau apakah alasan kenapa ia Islam, apakah hanya sekedar turunan dari orang tua ataukah dia seorang mualaf. Apakah seseorang beragama kristen atas kemauannya, ataukah karena takdir karena ia dilahirkan dari orang tua yang kristen. Terlepas dari hal ini proses menemukan kebenaran haruslah dipahami melalui ilmu atau pemahaman akal.  

Penjabaran persoalan akidah di pondok pesantren kurang mendapatkan perhatian, bukan berarti tidak penting, tapi memang membutuhkan pemahaman yang filosofis dan mendalam. Saya mengalaminya, pada saat saya mondok, guru (Kyai) saya pernah membahas soal akidah dalam kitab Matan Tizan. Kitab ini membahas masalah tauhid beserta penjelasannya, seperti sifat wajib, mustahil dan jaiz. Namun, masalahnya persoalan tersebut hanya dijabarkan sekilas tanpa mengajak santri untuk berpikir lebih dalam tentang sifat-sifat tersebut. 

Pemahaman terhadap akidah atau tauhid masih menjadi kekhawatiran para Kyai di beberapa pondok pesantren. Padahal mengetahui dan memahami akidah yang benar itu wajib hukumnya sebelum kita memahami ilmu fiqih dan tassawuf. Tapi karena proses pemahaman akidah sangat dalam, maka para Kyai di pondok pesantren biasanya mengajarkan langsung pada fiqih saja karena ilmu fiqih berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, misalnya tentang tata cara sholat, wudhu, adab mencari ilmu, doa-doa dan lain sebagainya. 

Kita masih kesulitan cara memahami akidah yang benar. Terlebih pemikiran terhadap akidah sangat beragam. Tapi untuk memahami akidah yang benar kita bisa belajar dari awal mula perdebatan akidah pada masa khalifahan Sayidina Ali. Jadi perdebatan akidah muncul pada saat terjadinya perang Syifin yaitu perang saudara antara Sayidina Ali dan Muawiyah. Saat itu terjadi konflik hebat dalam tubuh Islam karena Ali menerima arbitrase yang merupakan tipu muslihat Muawiyah bin Abu Sufyan. 

Disini saya tidak akan menjelaskan bagaimana kronologinya, yang pasti dari konflik tersebut muncul perdebatan tentang masalah akidah dan membentuk aliran teologi yang kemudian disebut Qodariyah dan Jabariyah. Dua aliran teologi ini kemudian dibedakan menjadi golongan Mu'tazilah, dan Mur'jiah. Qodariyah lebih mengedepankan akal dalam memahami akidah. Misalnya soal takdir dan perbuatan manusia. Qodariyah berpandangan bahwa perbuatan manusia berada diluar kehendak Allah. Manusia memiliki kebebasan untuk berkehendak. Sedangkan Jabariyah berpendapat sebaliknya bahwa manusia tidak memiliki kebebasan untuk berkehendak.

Beberapa golongan berada dipihak Ali yang disebut Syi'ah, beberapa golongan keluar atau memisahkan diri dari Ali disebut Khawarij. Khawarij bersifat radikal ekstrim dalam memahami kalamullah, mereka tidak memberikan kebebasan kepada akal untuk melakukan tafsir dan intihad. Syi'ah terlalu mengangung-agungkan Ali, soal memilih kepemimpinan misalnya harus keturunan Ali. Adapun golongan lainnya seperti murji'ah lebih mengedepankan kepasrahan tanpa melakukan perbuatan apa-apa. Selanjutnya muncul golongan aliran pemikiran teologi yang disebut Sunni, tidak memihak kepada Ali atau Muawiyah, tapi juga tidak membencinya, Suni adalah golongan yang lebih moderat mengikuti Rosulullah, sahabat, dan ulama yang saleh. 

Istilah Sunni lebih dikenal di kawasan timur tengah. Di Indonesia sendiri istilah Sunni disebut golongan Ahlusunnah Waljamaah (Aswaja). Kata lain dari Aswaja adalah golongan moderat yang tidak ekstrim kanan dan ekstrim kiri. Baik Sunni maupun Aswaja dalam memahami Al-Qur'an mengunakan dalil aqli dan dalil naqli. Aswaja berpandangan bahwa Al-Qur'an bukanlah makhluk (baru) tapi ia adalah kalamullah. Berbeda dengan Khawarij misalnya yang mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk (diciptakan Allah). 

Perdebatan akidah berlangsung cukup panjang, karena masih banyak orang yang berusaha menyesatkan akidah Islam. Perdebatan soal akidah misalnya tentang keberadaan Allah, ada golongan yang mengatakan bahwa Allah berada diatas Aras, dan golongan satunya lagi membantah pendapat ini. Disamping itu juga persoalan-persoalan yang berkaitan dengan amaliahnya seperti ziarah kubur, tawasul, wiridan, hingga doa kunut. Beberapa golongan masih mengaggap bahwa amalan-amalan tersebut bid'ah karena diada-adakan oleh manusia. Lebih mirisnya lagi, masih ada orang yang menolak untuk bermazhab, dan menolak adanya tarekat yang akhirnya membenci ulama. 

Mazhab Akidah, Syari'ah dan Tasawuf yang Benar

Benar memang relatif, yang artinya benar menurut kita belum tentu benar menurut orang lain. Tapi semua kebenaran harus melalui uji coba kebenaran melalui validitas dalil aqli (ilmu mantik) dan nakli (Al-Quran, dan Hadist). Selain itu, kebenaran juga harus bebas dari unsur hawa nafsu, dan kepentingan. Kebenaran harus bijaksana, independen bebas intervensi.

Setelah kita memahami uraian tentang akidah pertanyaannya, akidah manakah yang benar,? Apabila kita pelajari dengan perbandingan aliran pemikiran konsep yang dianggap benar akidahnya sesuai apa yang diajarkan Rosulullah SAW adalah akidah Aswaja yang dalam hal ini merujuk kepada Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi. Kedua imam ini memberikan penjelasan akidah yang komprehensif tentang akidah secara berimbang antara dalil aqli dan dalil naqli. Al-Maturidi misalnya, adalah tokoh yang memperkenalkan tentang sifat wajib, mustahil dan jaiz Allah SWT. 

Sementara itu, mengenai ilmu muamalah atau tasawuf merujuk kepada Imam Al-Ghozali dan Imam Junaedi Al-Baghdadi. Kedua tokoh ini, memberikan konsep tentang bertasawuf sesuai akidah, dan syariah. Untuk menempuh tasawuf seseorang harus lurus akidahnya, sudah melalui tahapan iman yang disebut umul yakin, ainul yakin dan hakkul yakin. Kemudian barulah masuk ke syari'at (fiqih) yaitu ibadah sesuai dengan hukum-hukumnya dan yang pasti merujuk kepada empat imam (Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hanbali). Setelah itu itiqomah dalam bertasawuf (ilmu batin) pikirannya, hatinya hanya mengingat Allah.  

Tulisan ini hanya gambaran umum, tapi semoga bemanfaat ...

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama