![]() |
| Ilustrasi |
Tulisan ini adalah refleksi pemikiran saya tentang manusia dan kebudayaan. Saya melihat bahwa perjalanan sejarah umat manusia dan segala perubahan yang dihasilkan seperti sekarang ini, tidak terjadi begitu saja, ia merupakan hasil dari proses kebudayaan. Kebudayaan dan peradaban manusia berkembang dari kebudayaan yang terendah menuju kebudayaan tertinggi. Manusia melewati fase sejarah ini yang mula-mula ia tersandera oleh mitos-mitos (kosmologi), menuju pencarian ketuhanan (teologi), membincang manusia (antroplogi), hingga ia berhasil mencipta peralatan (teknologi) untuk menunjang kehidupannya.
Saya ingin mengungkapkan bahwa apa yang terjadi di era sekarang ini adalah bagian dari proses kebudayaan itu sendiri. Saya mengemukakan gagasan ini dengan pernyataan bahwa secara garis besar manusia melewati tahap terobosan besar dalam sejarah kebudayaan yaitu dari Kosmologi, Teologi, Antropologi dan Teknologi. Manusia sebelumnya tidak membayangkan bahwa ia akan berada di puncak kebudayan tertinggi seperti sekarang ini. Padahal, sebelumnya, meskipun manusia berbeda dengan makhluk lain, tapi ia sendiri tidak mengerti bahwa dirinya bisa melakukan segala hal yang oleh dia sendiri sebelumnya tidak terpikirkan samasekali.
Manusia mengalaminya dengan segala dinamikanya. Puncak dari kebudayaan itu adalah teknologi, setelah manusia melewati fase kosmologi, teologi, dan antropologi. Ketika kita mengatakan puncak, apakah ia berhenti sampai disini,? Tentu saja tidak! Sebagai produk kebudayaan, Ia akan terus maju menuju pada tahapan yang lebih tinggi lagi. Buktinya adalah penemuan-penemuan baru (discovery), sebagai contoh China. Negara tirai bambu itu telah menunjukan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ke tahap tertinggi, misalnya penemuan terbarunya dengan membuat matahari buatan. Contoh lainnya misalnya, Amerika dalam melakukan ujicoba adakah planet yang bisa didiami manusia selain bumi. Gila memang, tapi itulah kenyataannya.
Dari pembahasan teknologi saja begitu luas, ia terjadi hubungan timbal balik dengan manusia. Jika dulu orang menganggap komunikasi harus bertemu, tapi semenjak ditemukannya Internet ia bisa komunikasi jarak jauh. Dari sisi teologi, orang dulu percaya komunikasi dengan ilmu batin. Tapi dari sisi teknologi, manusia berkomunikasi menggunakan temuannya. Manusia sendiri kagum akan kekuatan akalnya, ia terus penasaran dan mencoba sesuatu yang mustahil dengan mempertanyakan, "Apakah manusia bisa membuat kecerdasan,?" Dan ternyata bisa! Apa itu? Ya, kecerdasan buatan atau yang disebut Artifiicial Intelligence (AI). Dari sisi teologi manusia diberkati akal oleh Tuhan, tapi ia seolah sekarang ingin seperti tuhan dengan membuat kecerdasan. Saya hanya membayangkan apakah mungkin bahwa kelak manusia akan dikuasai oleh ciptaannya sendiri oleh robot seperti dalam film tranfsormers yang ingin menguasai dunia. Ini mungkin terlalu berlebihan, wallahualam.
Saya belum memiliki referensi-referensi kuat untuk memperdalam pernyataan ini. Tapi saya mencoba menjelaskannya dengan tinjauan sejarah, menyelami waktu kembali kepada masa lalu, bagaimana manusia bisa mencapai suatu tingkatan kebudayan yang begitu tinggi. Tapi yang terpenting sekarang adalah kita memahaminya. Saya mempertanyakan bagaimana manusia melaluinya,? Dalam hati, saya mengatakan Maha Besar Allah dengan segala kuasanya. Saya terkagum-kagum pada ciptaanNya, manusia. Tapi kekaguman ini tidak mau sampai pada ucapan saja, ia harus sampai pada pemikiran. Maka dengan ini, saya ingin mengungkapkan kepada pembaca hanya sebagai pengetahuan, sehingga kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang sudah terjadi dalam proses kebudayaan.
Ide pembicaraan ini muncul saat saya memiliki ketertarikan untuk membaca berbagai ilmu pengetahuan khususnya adalah filsafat. Mula-mula saya senang membaca buku filsafat, kemudian saya dalami hingga menemukan satu kesimpulan bahwa semua cabang ilmu yang saat ini menjadi pembicaraan yang terbagi-bagi kedalam dua garis ilmu yakni ilmu alam dan sosial berpangkal dari filsafat. Kemudian agar manusia mudah memahaminya dan untuk kebutuhan sistem sosial, manusia melakukan pengelompokan terhadap ilmu pengetahuan menjadi sub-sub ilmu, seperti Sejarah, Fisika, Kimia, Sosiologi, Politik, Ekonomi dan lain sebagainya. Mungkin maksudnya adalah agar lebih terstruktur dan fokus pada apa yang menjadi kajiannya.
Filsafat adalah induknya semua ilmu pengetahuan dan sejarah adalah salah satu sumber pengetahuan itu sendiri, karena sejarah merupakan pengalaman empiris manusia. Bagaimana awal manusia mengenal filsafat, maka ia harus mengenal bagaimana awal manusia berpikir dan memikirkan. Awalnya ia tidak memikirkan kemudian ia memikirkan. Ia memikirkan alam sesta (kosmologi), tuhan (teologi) dan posisinya sebagai manusia (antropologi). Adapun teknologi sendiri buah dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Awalnya yang menjadi objek perhatian manusia adalah alam, kemudian, ketuhanan, kemudian manusia itu sendiri dan terkahir segala perlatan yang digunakan manusia (teknologi) untuk mempermudah kehidupannya.
Berdasarkan penjelasan singkat di atas saya ingin mengajukan sejumlah pertanyaan, yaitu; (1) Bagaimana sejarah kebudayaan pada fase kosmologi,? (2) Bagaimana sejarah kebudayaan pada fase teologi,? (3) Bagaimana sejarah kebudayaan pada fase antropologi,? Bagaimana sejarah kebudayaan pada fase teknologi,?
Teori Kebudayaan
Dalam argumen ini saya merujuk pada teori budaya. Konsep budaya atau kebudayaan sangat universal, ia menyangkut segala aspek kehidupan manusia dan semuanya saling berkaitan. Konsep kebudayan tidak bisa dipahami hanya sekedar dari definisi saja, ia harus dipahami secara komprehensif. Misalnya, Koentjaraningrat membagi kebudayaan menjadi tujuh unsur kebudayaan yaitu sistem religi, bahasa, sistem ilmu pengetahuan, sistem kekerabatan, sistem mata pencaharian hidup, sistem peralatan dan kesenian. Selain itu, Koentjaraningrat juga mengungkapkan wujud kebudayaan yaitu wujud ide gagasan, benda, dan tingkah laku atau kebiasaan.
Kebudayaan mencakup segala aspek kehidupan manusia, bukan hanya kesenian atau adat istiadat. Kebanyakan orang memang mengartikan kebudayaan secara sempit, ketika mendengar kata budaya atau kebudayaan yang dipikirkan adalah alat musik, tradisi, dan tari-tarian. Kebudayaan tidak terbatas hanya pada kesenian, itu hanyalah salah satu unsur saja dari kebudayaan seperti yang saya katakan di atas. Kebudayaan itu segala sesuatu yang diciptakan manusia baik benda maupun tak benda. Salah satu ciri kebudayaan adalah bisa dipelajari melalui proses belajar.
Secara definisi kebudayaan asal katanya budaya berasal dari kata budhayah, yaitu budhi dan daya. Budhi artinya akal dan daya artinya kekuatan yang jika digabungkan menjadi kekuatan akal. Syarat dari kebudayan itu adanya akal, dan makhluk yang memiliki akal adalah manusia, maka hanya manusialah yang memiliki kebudayaan. Inilah yang membedakan antara manusia dan binatang, meskipun manusia memiliki dua sisi, disatu sisi ia sebagai manusia karena berakal disisi lain memiliki sifat seperti binatang. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akal adalah syarat dari kebudayaan itu sendiri.
Dengan kekuatan akal pikirannya manusia mampu mencipta, ia memiliki rasa sehingga ia juga memiliki karsa (kehehendak/dorongan) sebab dari akalnya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Koentjaraningrat bahwa kebudayan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Artinya kebudayaan memiliki unsur filsafati yakni logika, etika dan estetika. Manusia bertindak menurut logikanya yang menjadi ukuran kebenaran yaitu benar dan salah. Ia juga memiliki sistem nilai yang diukur dengan etika yaitu baik dan buruk, pantas dan tidak pantas. Yang terakhir ia juga mengetahui ukuran indah atau estetika yaitu nilai keindahan, seperti cantik, ganteng, indah, menawan, dan lain sebagainya.
Penyebutan istilah kosmologi, teologi, antropologi dan teknologi secara historis pengenalannya adalah baru bagi manusia. Ia dikenal setelah manusia berpikir dan berada pada taraf perkembangan intelektual yang sudah mapan. Manusia membuat konsep ini setelah ia mengerti bahwa ia mampu mencipta pengetahuan, yang dimasukannya kedalam kosakata baru (bahasa) yang umumnya sering digunakan adalah bahasa latin dan bahasa Inggris. Tapi istilah kosmologi, teologi, antropologi dan teknologi sendiri bukan kosakata yang memiliki makna terbatas. Apabila kita tinjau dalam sudut pandang kebudayaan misalnya, ia adalah sistem pengetahuan yang memiliki kajian luas, bahkan ia merupakan cabang dari suatu ilmu pengetahuan itu sendiri.
Saya ingin menegaskan lagi kenapa saya menulis dengan tema ini (Dari Kosmologi, teologi, ke Antropologi dan Teknologi). Karena memang dalam perjalanan sejarahnya, saya melihat bahwa manusia mengalami fase-fase ini. Coba kita perhatikan, perkembangan pemikiran, ilmu pengetahuan, mengarah kepada pembentukan kebudayaan itu sendiri. Oleh karena itu, sifat budaya atau kebudayaan itu berubah-ubah (dinamis). Dengan kekuatan akalnya manusia terus merubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Apa yang berubah? Yaitu wujud kebudayaan itu sendiri. Wujud benda berubah, sistem nilai bisa berubah, bentuk tingkah laku atau kebiasaan juga bisa berubah.
Sejarah Umat Manusia Fase Kosmologi
Kosmologi artinya ilmu tentang alam semesta. Fase kosmologi adalah fase dimana manusia memiliki perhatian khusus terhadap alam, bentang alam dan gejala alam. Mereka menanyakan tentang bagaimana awal mula penciptaan alam semesta, siapakah yang menciptakannya, apakah benar bahwa alam semesta diciptakan oleh dewa-dewa sebagaimana kepercayaan masyarakat Mesir masa itu. Mitos-mitos hasil imajinasi manusia mulai berkembang, bahkan mereka membayangkan bentuk tuhan dan melukiskannya.
Manusia zaman dulu percaya bahwa alam semesta dikendalikan oleh dewa-dewa. Mereka beranggapan seperti demikian setelah percaya bahwa adanya kekuatan gaib di alam semesta. Kepercayaan ini berkembang dari masyarakat satu ke masyarakat lainnya. Kepercayaan semacam ini terbentuk karena mereka melihat gejala alam. Misalnya hujan, berarti ada dewa yang menurunkan hujan. Begitu juga dengan matahari mereka sebut dengan dewa matahari, petir dan lain sebagainya.
Mereka pikir gejala alam hanya membawa dampak baik seperti air yang mampu menyediakan air minum, dan menyuburkan tumbuhan, dan matahari yang menghangatkan. Ternyata gejala alam juga membawa dampak buruk, hujan deras menyebabkan banjir, panas menyebabkan kekeringan, dan petir yang menakutkan. Dari pengalaman ini mereka menyimpulkan bahwa terdapat dewa jahat. Dewa jahat berusaha membuat kekacauan, dan kejam. Mereka membuat imajinasi tentang tuhan yang disebut sebagai politeisme yaitu percaya terhadap dewa-dewa yang dibagi atas dewa jahat dan baik.
Sampai kapan mereka tersandera oleh mitos-mitos seperti itu,? Sampai mereka mempertanyakan asal muasal pembentukan alam semesta. Disini adalah fase dimana munculnya filsuf alam yang mempertanyakan asal mula pembentukan bumi. Manusia sudah berpikir dan memikirkan maka pada tahap ini disebut sebagai titik awal manusia mulai berpikir ilmiah. Para pemikir ini nantinya disebut filsuf mereka memikirkan tentang kosmologi disebut filsuf alam. Kita akan berkenalan dengan pendapat-pendapat filsuf alam dari miletus seperti thales, anaximander, anaximandros, permendides, dan lain sebagainya. Mereka berpendapat tentang asal muasal pembentukan alam semesta.
Bersambung ...
