Iklan

 
Ilmu kalam dan filsafat

Ilmu kalam jarang sekali dijadikan topik perbincangan. Pembahasan tentang ilmu kalam (ilmu tauhid) cenderung dihindari daripada mempelajarinya. Pernah suatu ketika saat saya masih mondok, guru ngaji saya mengajarkan salah satu kitab namanya kitab matan tizan. Kitabnya tipis, dan sudah diberikan lughot (makna) pada setiap kalimatnya. Tapi, guru ngaji saya tidak menjelaskannya lebih dalam, alasannya, khawatir santri tidak kuat dan akhirnya akidahnya sesat. 

Tidak! saya katakan tidak demikian! Hal itu saya sadari setelah saya mempelajari filsafat, dan faktanya saya hingga saat ini masih bertuhan. Memang dalam mempelajarinya berat, tapi saat kita sudah paham, ternyata sangat mudah, tidak seperti apa yang dipikirkan orang berbahayalah, ateislah karena menurutnya dapat merusak akidah. Justeru dengan belajar ilmu kalam seseorang akan semakin kuat dan lurus akidahnya, karena pemahaman akidah itu dasar atau pondasinya sebelum membahas Islam lebih jauh.

Ilmu kalam membahas seputar ketuhanan dalam persepktif logika (akal). Dalam konteks ini, bagaimana logika kita mempelajari sifat dan zat Allah seperti sifat wajib, jaiz dan mustahil. Filsafat dibutuhkan dalam Islam, maka disebutlah filsafat Islam. Islam punya filsuf yang terkenal mulai dari Al-Farabi, Al-Kindi, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, Imam Al-Gohazali dan lain senagainya. Mereka adalah pemikir-pemikir hebat milik Islam, mereka hadir menjadi penyelamat akidah Islam saat filsafat barat mencoba memporan-porandakan akidah Islam. 

Filsuf muslim itulah yang nantinya meluruskan akidah Islam setelah Barat mencoba menyesatkan akidah Islam yang benar. Di sini sebenarnya awal mula timbul kenapa umat muslim banyak yang anti filsafat, bahkan tak sedikit mengatakan bahwa filsafat adalah sesat sesat, memutar-mutarkan kata, tak berfaedah dan hanya menimbulkan debat kusir. Pandangan ini yang keliru, kita butuh ilmu filsafat untuk membedah berbagai persoalan dalam berbagai ilmu khsuusnya soal ilmu kalam, yang coba dirusak oleh Barat.

Saya akan mencontohkan bagaimama penggunaan filsafat dalam membedah ilmu kalam. Kita mulai dengan beberapa kasus sederhana. Misalnya ada yang bertanya dan pertanyaan ini sering dilontarkan kepada mereka yang baru belajar filsafat. Ia bertanya "Anda yakin kalau Allah itu ada,? Jika Allah itu ada dimana Allah,". Nah, bisakah kita menjawab pertanyaan semacam ini,? Jika pertanyaan semacam ini datang dari murid anda apa jawaban Anda? 

Ingat hanya gara-gara pertanyaan soal ketuhanan umat Islam didalam tubuh Islam bisa pecah menjadi bernagai aliran dan golongan. Jadi ketika ada pertanyaan semacam itu, apakah kita akan menuduh mereka kafir,? Sesat? Murtad? Seperti pandangan Khawarij terhadap pelaku dosa besar, bahwa pelaku dosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh. Dan masih banyak beberapa aliran lainnya yang berpikiran dangkal dalam memahami ajaran Islam. 

Buah pemikiran tokoh filsafat Islam terhadap ilmu kalam maka lahirlah penjelasan tentang sifat dan zat Allah. Jadi pertanyaan soal jika Allah ada maka dimanakah Allah, ini pertanyaan dasar yang pertama-tama untuk menjelaskannya kita perlu membedah dulu apakah yang dinamakan "ada" dalam pikiran mereka,?. Jangan sampai mengartikan ada dalam persepktif panca indra seperti bisa diluhat oleh mata. Jadi Allah itu ada dalam zatnya, karena yang ada tidak selalu terlihat. 

"Ada" dalam pengertian filsafat itu ada dua; ada (wujud) esensi dan ada besifat eksistensi. Nah, dan Allah itu ada dalam pengertian yang esensial, tidak bisa dilihat apalagi diraba, bukan ada dalam pengertian indera manusia bisa dilihat. Maka bisa kita simpulkan; pertama, yang ada tidak selalu terlihat (esensial), dan Allah ada dalam pengertian yang esensial, karena jika bertanya keberadaan Allah dalam pengertian eksistensi (keberadaan dalam panca indera) maka batal Allah sebagai tuhan dan ini tidaklah masuk akal. 

Tuhan (Allah) berbeda dengan makhuk, menanyakan keberadaan Allah seperti halnya menanyakan trntang keberadaan manusia tidaklah masuk akal, disitulah letak perbedaannya antara pencipta dan yang diciptakan. Dalam salah satu zatnya Allah memiliki sifat berbeda dengan makhluk atau dalam bahasa arabnya Mukholafatul Lilhawaditsi yang pengertiannya Allah SWT Maha Sempurna dan tidak akan ada satupun makhluk yang dapat menyerupainya. 

Sifat dan zat Allah adalah hasil ijtihad para Ulama yang memberikan penjelasan komprehensif tentang ketuhanan. Sifat dan zat Allah sering dilantunkan sebelum sholat. Wujud, Qidam, Baqa, Mukhlafatuhu Lil Hawadisi, Qiyamuhu Binafsihi, Wahdaniyyah, Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama', Basar, Kalam, Qadiran, Muridan, Aliman, Hayyan, Sami'an, Basiran, Mutakalliman. 

Sama halnya ketija kita melihat seseorang yang telah meninggal kemudian mengatakan telah tiada sedangkan jasadnya ada. Jadi kita harus paham bahwa yang tiada itu adalah ruh bukan jasad, secara ruh yang meninggal masih hidup, hanya saja berbeda alam. Yang ada adalah ruhani dan jasmani. Dan yang masih hidup di dunia sekarang ada secara ruhani dan jasmani. Jaga ruhani kita jaga jasmani kita. Satu-satunya nutrisi bagi ruhani adalah iman, makanya istilah ceramah sering disebut juga siraman ruhani. 

Semoga bermanfaat ....

1 Komentar

Blog Guru Supadilah mengatakan…
Pengen dong lihat bukunya Pak. Hehe
Lebih baru Lebih lama