Iklan

 

Revolusi

Apakah revolusi di era sekarang ini masih relevan? masalahnya sekarang ini pemuda dan mahasiswa sudah jarang sekali membicarakan revolusi, bahkan mereka pun mungkin tidak tau apa itu revolusi. 

Di era sekarang ini revolusi sepertinya sudah menjadi barang yang usang, tidak relevan, tidak kekinian dan ketinggalan zaman. Mereka tidak pernah sedikitpun lantang lagi berteriak tentang revolusi, gerakan-gerakan yang terkadang mereka bangun pun bukan representasi rakyat lagi melainkan representasi golongan kepentingan. Ini yang seringkali membuat aku muak sebagai mahasiswa yang pernah berorganisasi dulu. Aku tidak punya otoritas untuk itu tapi aku setiap hari, setiap waktu selalu resah akan keadaan ini. 

Revolusi bagiku adalah sebuah cita-cita, para tokoh kemerdekaan Indonesia seperti Soekarno, Ahmad Soebardjo, Adam Malik, Sayuti Melik, dan Tan Malaka adalah contoh dari tokoh kemerdekaan yang memperjuangkan revolusi itu. Revolusi tertanam kuat, mendarah daging, tertancap kuat dalam jiwa-jiwa mereka bahwa revolusi adalah cita-cita untuk menjuju Indonesia merdeka seutuhnya. Untuk memperjuangkan revolusi itu diberangkatkan dari pemikiran tentang mewujudkan cita-cita terbentuknya sebuah negara yang apa yang disebut Tan Malaka sebagai Naar de Republiek Indonesia. Tan Malaka adalah orang yang mahir revolusi, ia menjadi ilham bagi tokoh kemerdekaan yang lainnya. 

Indonesa yang kita tinggali saat ini, awalnya dibentuk dari sebuah kata Naar de Republiek Indonesia (Menuju Indonesia Merdeka), para tokoh kemerdekaan terilhami dari kata ini. Naar de Republiek Indonesia bukan sekedar kata, melainkan bentuk bagi sebuah negara yang merdeka yang sekarang menjadi Republik Indonesia. Mereka para tokoh kemerdekaan berjuang, bersatu, kemudian membuat pondasinya yang disebut Pancasila, agar apa? agar yang apa yang dinamakan Naar de Republiek Indonesia itu berdiri kokoh di tanah Nusantara, menjadi negara yang berdaulat, adil dan makmur. Saat ini kita bisa hidup nyaman, tentram dan bahagia atas darah perjuangan mereka. 

Amanah Revolusi

Sebenarnya kita seluruh warga negara Indonesia teramanahi untuk melanjutkan revolusi itu. Revolusi itu adalah cita-cita perubahan, cita-cita kehidupan menjadi lebih baik. Revolusi haruslah dilakukan terus menerus, dari generasi ke generasi, maka di era sekarang ini revolusi selalu relevan untuk kita pelajari dan perjuangkan. Revolusi di era sekarang ini bukan perjuangan untuk membentuk sebuah negara, melainkan mewujudkan apa yang menjadi cita-cita para pendiri negara ini perjuangkan. Apa bedanya jika kita memiliki sebuah negara tetapi didalamnya rakyatnya masih bodoh, terbelakang, miskin, dan tertindas. Seperti tertulis dalam konstitusi kita bahwa Indonesia merdeka hanya sampai pintu gerang, yang artinya masih dibutuhkan generasi baru untuk mewujudkan revolusi itu. 

Masalah-masalah yang rakyat Indonesia hadapi saat ini, masalah hak asasi manusia (HAM), ketidakadilan, kemiskinan, adalah fakta sosial bahwa revolusi itu masih relevan yang harus kita hidupkan kembali ditengah-tengah masyarakat kita. Pemuda, mahasiswa dalam hal ini harus memainkan peranan penting untuk mewujudkan amanah itu. Kita punya alasan untuk merdeka jika kita di zaman kolonialisme, tapi di era sekarang ini malah kita sendiri yang menjual negara kita kepada kolonial baru (neoimperialisme, neokolonialisme). Bung Karno pernah berkata, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri,". Artinya saat ini revolusi itu harus tetap hidup meskipun lebih berat karena ketidakadilan yang kita lawan adalah ulah oknum bangsa kita sendiri.

Kita melihat keadaan Indonesia saat ini, tapi sekali lagi kita hanya bisa menonton. Dimana kesadaran kita yang katanya saudara, sebangsa dan setanah air. Bangsa ini membutuhkan para neorevolusioner (revolusi baru) pemberani sebagai penerus perjuangan bangsa, tapi bentuknya bukan seperti pahlawan kita dulu bergriliya dan perang, pertama-tama kita harus menyadari bahwa kemiskinan adalah konsekuensi logis dari kebijakan. Secara sistemik jika penguasanya tak bermoral maka rakyat yang miskin karena memang sengaja dimiskinkan dengan cara ditekan ekonominya, subsidi dikurangi, harga pangan dinaikan, pelayanan kesehatan buruk, konflik agraria dan lain sebagainya. Segeralah sadar bahwa apa yang pernah Soekarno sebut neoimperialisme, neokolonialisme itu semakin nyata. Untuk melanjutkan revolusi dibutuhkan keberanian, dan koncinya bagi saya adalah pendidikan, bukan sekedar legalitas ijazah semata tetapi pendidikan itu harus sampai menyadarkan sesamanya. Semua tokoh kemerdekaan kita adalah seorang guru, mereka mendidik dan mengajarkan. Tapi bukan saja hanya guru siswa di sekolah, guru itu harus sampai menggerakan masyarakat memimpin perubahan. 

Cileles, 17 September 2023, di Rumahku Istanaku.  

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama