Iklan

Ilustrasi/pixabay.com

Banyak calon mahasiswa yang ketika ditanya mereka masuk kuliah tujuannya apa, mereka menjawab mencari pengetahuan atau mencari wawasan. Padahal bagi saya jika kita ingin memperoleh pengetahuan sebetulnya tidak perlu kuliah, cukup membaca maka kita akan kaya akan pengetahuan/wawasan. Membaca mungkin bukanlah sesuatu hal yang baru dan terdengar klasik, namun sadar atau tidak sadar, dan suka atau tidak suka, faktanya kita masih minim dalam persoalan membaca. 0,001 itulah tingkat membaca per hari di indonesia yang akhir-akhir ini kita dengar di Internet ataupun sosial media.

"Membaca" merupakan hal yang umum, dan umum juga dibicarakan hanya saja jarang sekali orang menyukainnya dan pada realitanya membaca menjadi hal yang khusus ketika dikerjakan seperti membaca Whats App, Facebook, Twitter, Instagram dan lain sebagainya. Orang lebih suka membaca sosial media daripada buku, baik buku digital (pdf) maupun yang nondigital. Beberapa pengakuan dari mahasiswa berkata "maca buku digitalmh riet" faktanya memang benar membaca buku dalam bentuk pdf itu membuat mata sakit, mungkin kerna radiasi dari sinar hanphone. Namun tidak ada yang mengatakan "maca Whats Appmh riet umpamanya, maca statusmh riet" tidak ada padahal posisinya sama baik membaca buku digital maupun sosmedia ini sama-sama menimbulkan radiasi terhadap mata. Istilah membaca kata Najwa Sihab ya membaca apa saja, kerna membaca dapat membuka keluasan hati, menjadi terinsvirasi dan tidak mudah di provokasi.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan informasi kita tidak lagi disulitkan dengan segala bentuk informasi yang beredar saat ini baik dari skala regional bahkan sampai pada tingkat internasional. Aktivitas kita juga semakin dimudahkan dengan teknologi terutama dengan hadirnya internet. Sekarang internet sudah menjadi hal yang pokok di era modern ini. Semua sudah tidak lagi bergantung pada pesan operator, ataupun telfon manual karena rata-rata semua orang sudah memakai aplikasi di androidnya masing-masing.

Perkembangan teknologi dan hadirnya internet memberikan pengaruh terhadap pendidikan. Hal yang paling penting dalam pendidikan adalah proses belajar mengajar. Peran guru sudah tidak lagi aktif dalam proses pembelajaran. Buku paket bukanlah satu-satunya menjadi sumber pembelajaran. Sekarang pengetahuan bisa di dapatkan dari internet kapanpun dan dimanapun. Bahkan sampai hal-hal yang teknispun apapun bisa kita cari tahu dari internet seperti mebuat desain grafis, membuat kue dan bahkan membuat pesawat menggunakan mesin motor. 

Hal ini tidak bisa kita pungkiri bahwa realitasnya peserta didik baik siswa maupun mahasiswa ketika ada tugas apapun pasti menanyakan pada mbah google. Demikianpun gurunya, mereka sama meminta bantuan google ketika ada hal yang tidak dimengerti perihal materi yang diajarkan. Artinya disini guru bukan lagi satu-satunya sumber pemberi pengetahuan. Bahkan jika peserta didik menguasai teknologi gurunya bisa lebih kalah oleh muridnya. Menilik realita tersebut pendidikan formal juga bukanlah satu-satunya sumber untuk mencari pengetahuan, bahkan tidak sekolahpun kita mampu mempunyai pengetahuan.

Lalu bagaimana dengan ilmu,? Antara ilmu dan pengetahuan seperti dua sisi mata uang yang berbeda tetapi keduanya tidak bisa dipisahkan. Pengetahuan belum tentu ilmu tetapi ilmu sudah pasti pengetahuan. Pengetahuan adalah seperangkat ide atau gagasan yang diperoleh melalui pengalaman manusia. Sedangkan ilmu adalah sekumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis, logis dan bisa dipertanggungjawabkan secara rasional. Jadi jika kita ingin punya pengetahuan maka perbanyaklah membaca (iqro), jika kita ingin punya ilmu maka kita harus sekolah. Jadi sekolah/perguruan tinggi itu tempat mencari ilmu bukan mencari pengetahuan. 

Kerna ciri dari ilmu adalah sistematis (berurutan) maka untuk memperolehnyapun kita harus bertahap seperti SD, SMP sampai tingkatan yang lebih tinggi. Guru perlu merubah metode pembelajaran. Model pendekatan pembelajaran yang ingin saya tawarkan adalah pendidikan hadap masalah. Ciri dari pendidikan hadap masalah salah satunya guru dan murid sama-sama menjadi subyek dalam kegiatan dan orosea pembelajaran. Peserta didik hanya perlu di arahkan agar mereka mampu mengidentifikasi, mmperivikasi serta mampu berfikir kritis terhadap pengetahuan yang di dapatkannya.

Perubahan adalah suatu bentuk keniscayaan dan tidak bisa kita hindari. Kita perlu mengimbanginya denga kualitas sumber daya manusia yang kita miliki, agar kita mampu memahami dan memfilter setiap perubahan kerna setiap perubahan tidak terlepas dari pengaruh positif dan negatif. Semoga dengan hadirnya tulisan kecil ini sedikit memberikan pemahaman tentang paradigma berdikir kita terhadap ilmu dan pengetahuan. 

Kemauanlah yang utama untuk menuju perubahan, dan yang membedakan manusia dengan manusia lainnya hanyalah terletak pada pengalaman jika di ukur dari pengetahuan. Jika kita ingin mendapatkan pngetahuan maka tak perlu sekolah, tetapi jika kita ingin mendapatkan ilmu maka ikuti tahap-tahapannya dalam pendidikan. Kita bukan kekurangan pengetahuan, kita juga bukan kekurangan sumber belajar tetapi kita keurangan kemauan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama