![]() |
| ilustrasi/pixabay.com |
Pemahaman tentang Kanan dan Kiri merupakan dua hal
yang harus dipelajari oleh semua orang, terutama kalangan mahasiswa agar mampu
berfikir seimbang (tawazun) dan moderat. Allah menciptakan segala sesuatu
berpasang-pasangan seperti langit dan bumi, laki-laki dan perempuan, surga dan
neraka, Barat dan Timur, begitupun kanan dan kiri. Dalam filsafat istilah kanan dan kiri dapat di analogikan seperti
materia dan forma, esensi dan eksistensi, rasional dan empiris, yin dan yang,
atau lain sebagainya.
Hidup menjadi berwarna jika terdapat perbedaan, namun
seringkali perbedaan menjadi sebuah konflik yang terus berkelanjutan dan tidak
sedikit dalam kehidupan kita terjadi konflik karena perbedaan. Tetapi disini
perbedaan pemahaman bukan perbedaan agama. Islam dimaknai sebagai satu, tetapi
perbedaan pemikiran terhadap islam menjadikan islam itu sendiri dalam segi
pemikiran seperti aliran, golongan, mazhab dan lain sebagainya ini beragam.
Seperti dalam sabda Rosulullah.SAW, bahwa; islam akan terpecah menjadi 73
golongan, begitupula dengan kristen terpecah menjadi 72 golongan.
Sekarang
indonesia telah dibenturkan oleh golongan yang mempunyai
kepentingan-kepentingan yang berbeda. Sebutlah istilah golongan tersebut adalah
golongan ekstream dengan golongan moderat dan golongan kiri dan golongan kanan.
Sejarah telah membuktikan, pengalaman beragama masa lalu, pasca meninggalnya
Rosulullah. SAW. Pengalaman itu berdarah-darah, melahirkan doktrin, teori dan
juga aliran yang berinti pada pola keberagaman Kanan dan Kiri.
Pada abad ke-21
istilah kanan dan kiri menjadi sebuah ideologi yakni kiri di asumsikan pada
komunis-sosialis dan kanan diasumsikan liberalis-kapitalis. Jujur pertama kali
saya masuk kuliah kemudian ikut berdiskusi dengan sahabat-sahabti mahasiswa
lainnya saya di bingungkan dengan kata Kanan dan Kiri. Saya sering
bertanya-tanya apakah kanan itu dan apakah kiri itu, bagaimana kriteria kanan
dan bagaimana kriteria kiri. Dengan mempelajari Kanan dan Kiri bukan berarti
kita harus memilih salah satu darinya, tetapi setidaknya kita tahu dan mengerti
serta mampu memposisikan kita sebagai manusia yang menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusia demi kemaslahatan umat, dalam berbangsa, beragama dan
bernegara.
Istilah kiri di
asosiasikan pada liberalisme sedangkan kanan lazim di asumsikan pada
fundamentalisme dan radikalisme (Abdul Muni, 1998). Kanan dan Kiri bukan
sekedar dua sikap yang berbeda, tapi juga dua orientasi tafsir yang berlawanan.
Di satu sisi, kanan banyak sekali memanfaatkan pemikiran kiri demi
kepentingannya dan di sisi lain pihak kiri juga tak kalah melakukan
reinterpretasi terhadap pemikiran Kanan, sesuai dengan kepentingannya.
Kanan dan Kiri dalam
pemikiran agama pada dasarnya adalah
kondisi sosial yang menunjukan adanya dua kelas masyarakat yang masing-masing
berusaha melindungi hak-haknya dengan menggunakan bangunan teori yang ada dalam
masyarakat tradisional. Bangunan teori yang dimaksud adalah keyakinan Agama. Kanan
dan Kiri sebenarnya lebih merupakan permasalahan praktis ketimbang teoritis,
lebih menunjukan adanya bangunan sosial ketimbang pemikiran. Atau dapat juga
kita mengartikan dua kelas tersebut dengan proletar dan bojuis atau kelas
tertindas dan kelas penindas, kelas bawah dan kelas atas.
Golongan minoritas
(kelas atas) yang memegang kekuasaan dan menguasai sarana produksi berusaha
mengekspolitasi golongan mayoritas (kelas bawah) dengan memanfaatkan pemikiran
agama, yakni dengan menafsirkan agama demi kepentingannya. Sementara kelas
bawah berusaha menyingkirkan kelas atas dengan menggunakan senjata yang sama.
Dengan demikian, agama dapat di analogikan seperti pedang bermata dua yang
dapat digunakan dua pihak dengan kepentingan berbeda. Saya teringat dengan kata-kata
Karl Marx “Agama adalah candu masyarakat dan teriakan orang-orang tertindas”.
Kalau begitu, agama adalah tak ubahnya obyek tarik menarik dua kepentingan
besar atas-bawah, kanan-kiri.
Pola keimanan juga
tak lepas dari pergolakan dahsyat ini. Iman adalah perbuatan yang pertama kali
dilakukan dan sama sekali tidak di dahului oleh perbuatan yang lain. Iman
bersifat menerima tanpa menolak, mengambil tanpa memberi. Setelah iman barulah
giliran akal menjustifikasi dan memahami tanpa mengkritisi sedikitpun. Ini
adalah sikap kanan. Orang yang berangkat dengan Iman sebagai teori pengetahuan
lebih cenderung untuk taat kepada penguasa.
Demikian halnya masyarakat yang
memulai hidupnya dengan keyakinan-keyakinan tentu tanpa mendiskusikannya,
cenderung bersikap tenang dan tunduk. Karena itulah, sistem kanan berusaha
menyebarkan iman dalam pengertian ini, sehingga mereka bisa mempertahankan
status quonya. Sistem kanan tidak memberi perhatian terhadap penghapusan buta
huruf dengan mengembangkan sistem pengajaran. Yang dilakukan kanan justeru
membangun mesjid, memeriahkan seremonial hari-hari besar, mendukung
kelompok-kelompok sufi, memperbanyak acara-acara keagamaan di media massa,yang
bukan di dasarkan atas keyakinan akan kebenaran agama melainkan di dasarkan pada
kamuflase doktrinal dan kemunafikan.
Sebagai tandingan
dari sikap Kanan, terdapat sikap lain yang menjadikan teori pengetahuan
berangkat dari akal, bukan dari iman. Berfikir adalah kewajiban agama yang
pertama kali mesti dilakukan sebelum iman, sebagai suatu bentuk penerimaan,
sebelum iman sebagai kandungan (Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Qodha &
Qodar dan hari kiamat), dan sebelum iman sebagai aktifitas menjalankan syar dan
ritual.
Jadi berfikir ada sebelum iman. Dengan berfikir manusia bisa membedakan
yang benar dan yang salah. Sesuatu tidak menerima sebagai kebenaran jika tidak
dapat terbukti bahwa dia benar. Ahli logika klasik menegaskan “Sesuatu yang
tidak memiliki bukti kebenaran hendaknya dibuang jauh-jauh”. Dengan demikian,
sarana dan sumber pengetahuan yang meragukan, seperti taklid, ilham, dan
lain-lain, mesti di tolak. Ini adalah sikap kiri.
Oleh karena itu,
sistem progresif Kiri berjuang membasmi buta huruf, menyebarkan pengajaran,
menegakan keadilan global, dan mengadakan dialog terbuka antara sekte,
golongan, mazhab dan aliran-aliran pemikiran yang beragam. Seperti dialog
lintas agama yang dilakukan oleh pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia Bulan lalu. Sistem kiri tidak melakukan intervensi dalam kebebasan
berpendapat yang dilindungi oleh hukum dan dipraktekan lembaga-lembaga
demokratis secara nyata.
