![]() |
| Ilustrasi/pixabay.com |
Arti pendidik menurut Imam al-ghozali adalah orang yang berilmu, beramal dan mengajar. Jadi kalo belum berilmu jangan mengajar kerna berat tanggungjawabnya, kalo belum siap beramal jangan mengajar kerna ditakutkan tidak ikhlas mengajarnya dan kalo belum berilmu dan belum siap beramal jangan mengajar. Berilmu asal katanya alim atau ulama, jadi seorang guru pun bisa dikatakan ulama jika ia benar-benar berilmu. Sedangkan ulama (guru) itu menurut al-ghozali dibagi menjadi dua; ulama dunia (buruk) dan ulama akherat (baik).
Saya tidak tau kenapa ulama dunia dalam tanda kurungnya "buruk". Tapi menurut saya kerna ilmu akherat mengajarkan kita menjadi manusia yang beradab dan tujuannya langsung pada kebaagiaan hakiki yaitu bekal untuk akherat. Sedangkan ulama dunia (buruk), mengajarkan kita untuk menjadi pekerja dan belum pasti apakah ilmunya di pakai untuk kemaslahatan dunia dan akherat atau justeru malah membawa kemudhorotan atau kerusakan yang dapat merugikan dirinya dan orang banyak.
Orang yang mengamalkan ilmunya menurut Al-Ghozali ibaratkan cahaya yang memberikan peerangan, ibaratkan matahari yang menerangi bumi dan ibaratkan bulan yang menerangi kegelapan. Bagi al-ghozali pendidik memiliki derajat yang paling tinggi. Menurut Al-ghozali dalam bukunya Ihya Ulum al-din ; "sebaik-baiknya makhluk di muka bumi adalah manusia dan sebaik-baiknya bagian tubuh ialah hati sedangkan pendidik berusaha menyempurnakan, membersihkan dan mengarahkan untuk mendekatkan diri kepada allah. Swt,"
Pendidik menurut imam al-ghozali adalah ia yang mengajarkan ilmu menuju allah, sementara pendidik mengajarkan manusia untuk bagaimana menjadi pekerja. Tetapi pengalaman saya ketika mengaji di pondok pesantren dalam kitab ta'lim muta'lim dikatakan bahwa "perkara dunia akan menjadi perkara akherat jika perkara tersebut semata-mata karena untuk ibadah kepada allah". Sehingga untuk menjadikan perkara dunia menjadi perkara akherat perlu adanya niat, kerna niat kita ikhkas dan kerna niat kita menjadi bersungguh-sungguh. Hal ini juga sesuai dengan tujuan manusia diciptakan oleh allah yaitu untuk ibadah sebagaimana allah berfirman "Tidak semata-mata aku ciptakan zin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaku" (Q.s Azarat : 56) lihat juga (Murhahhari : 2002).
Lalau bagaimana dengan orang yang punya ilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya,? Menurut al-Ghozali, ulama atau guru yang tidak mengamalkan ilmunya ibarat jarum yang menjahit baju untuk yang lain, sedangkan dirinya sendiri telanjang. Itulah beberapa pernyataan al-gjozali mengenai guru atau pendidik. Kualitas pendidik ditentukan oleh kuakitas dirinya semasa mencari ilmu. Jika semasa belajar ia malas-malasan maka di kemudian hari ia akan menjadi pendidik yang malas-malasan, bahkan kungkin gelarnya sebagai pendidik ini akan menjadi formalitas semata. Hal ini berbahaya bagi generasi-generasi calon pendidik lainnya jika di biarkan.
Salah satu untuk menibgkatkan kukaitas pendidik adalah kesadaran. Maka dari itu manusia saat ini atau calon pendidik hari ini perlu meningkatkan kesadaran bahwa generasi selanjutnya di tentukan oleh pendidik-pendidik hari ini. Ingat bahwa buah yang manis, buah yang lebat dihasilkan dari pohon yang berkualitas bukan oleh pohon seperti tanpa di pupuk.
Kesimpulan dari tulisan ini, adalah pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia iabaratkan pelita yang memberikan penerangan. Sekalipun dari uraian di atas bahwa pendidik yang di maksudkan oleh imam al-ghozali adalah pendidik yang mengajarkan agama tetapi insyaallah jika kita mengajarkannya kerna allah dan mencari dunia semata-mata untuk beribadah kepada allah semoga kita termasuk orang yang mulia seperti yang dikatakan oleh Imam kita itu.
Referensi:
Mukhsinudin. At'ta'Dib : Jurnal Ilmiah Prodi pendidikan Agama Islam. Volume V. No. 1 April-September 2013.
Murtadha Muthahhari: Manusia dan Alam Semesta, Jakarta : Lentera, 2002.
Kitab, Ta'lim Muta'lim,
