Iklan

Ilustrasi/pixabay.com



Antropologi budaya dalam kajian budaya sangat menarik untuk di diskusikan. Karena antropologi budaya berkaitan erat dengan manusia dan kebudayaannya. Antropolgi budaya banyak digunakan sebagai ilmu bantu oleh cabang ilmu-ilmu lainnya seperti sejarah, sosiologi, politik dan ekonomi. Manusia memiliki sifat yang berbeda-beda antara manusia satu dengan yang lainnya baik itu suku, ras, bangsa dan budaya.

Dalam antropologi budaya yang menjadi masalah ialah perbedaan-perbedaan antara kebudayaan bangsa-bangsa yang sangat berlaian dan juga pertanyaan apakah arti pengaruh dari perbedaan-perbedaan itu atas manusia; atas kehidupan sosialnya, atas kemampuan kehidupan kebebasannya, atas kekuasaan terhadap dirinya yang dimiliki oleh watak manusia sebagai keutuhan faktor-faktor tertentu yang ditetapkan oleh keturunannya atas batas-batas yang ditentukan oleh lingkungan dan pendidikannya terhadap kebebasannya, atas keterikatannya yang menjadi pembawaan hidup dalam suatu masyarakat dan yang terwujud dalam kewajibannya terhadap alam dan sesama manusia.

Antropologi dapat dibedakan menjadi beberapa macam seperti antropologi budaya, antropologi sosial, antropologi fisis dan antropologi falsafi. Dari berbagai macam antropologi tersebut tentu memiliki pengertian yang berbeda-beda, namun saya tidak akan menjelaskannya karena fokus tulisan ini mengenai etnografi saja.

Menarik sekali, pendiri dasar ilmu antropologi kita E.B. Tylor menggunakan kata antropology dan ethnograhy kemudian menggabungkannya dalam satu kata antropologi budaya. Namun bukan berarti antropologi dan ethnografi ini sama, tentu keduanya berbeda. Hal ini dapat kita lihat dalam defenisinya:

"Culture or civilization taken in its wide ethnographic sense, is that complex whole which includes knowledge, belief, art, moral, law, custom, and any other capabilities and habits acquired by man as amember of society" (J.van baal:1987)

Dari pengertian tersebut menunjukan bahwa dalam kebudayaan yang menjadi masalah bukanlah hal-hal yang ditentukan oleh keturunan. Hal tersebut sejalan dengan prinsip teori evolusi Darwin ia mengatakan bahwa sifat-sifat yang diperoleh tidaklah turun temurun. Sifat-sifat yang diperoleh (acquired capabilities and habits) adalah urusan studi kebudayaan, urusan studi yang dinamakan antropology akan tetapi disebutnya juga etnografi.

Etnografi secara harfiahnya berarti pelukisan bangsa, yang berasal dari kata ethnos berarti bangsa dan graphein yang berarti menulis. Akan tetapi etnografi menunjukan pengertian yang lebih banyak daripada sekedar pelukisan bangsa. Istilah tersebut kemudian menjadi kajian ilmu etnologi. Terjemahaan harfiah dari etnologi ialah ilmu bangsa-bangsa.

Jadi etnografi merupakan uraian atau gambaran dari bangsa-bangsa sedangkan etnografi sendiri merupakan ilmu yang mempelajari uraian atau gambarannya tersebut. Contohnya di luar inggris dan Amerika Serikat, istilah etnologi digunakan untuk ilmu pengetahuan yang menyelidiki hasil-hasil etnografi.

Siegfried F. Nadel (1903-1956) adalah salah seorang yahudi yang berbakat. Ia adalah seorang ahli bahasa dan etnografi. Karyanya yang berjudul, A Black Byzantium (1942). A Black Buzantium adalah sebuah lukisan yang mengasyikan dari sebuah kerajaan islam kecil di Nigeria (Afrika Barat) kemudian dalam tahun 1951 trbitlah lagi karyanya yang berjudul "The Foundations Of Social Anthropology".

Hal yang sederhana dari sebuah etnografi berawal dari sebuah kelompok. Kelompok memiliki berbagai macam, seperti kelompok kekerabatan, kelompok umur, kelompok setempat, dan seterusnya. Jika kita defenisikan kelompok berarti sekumpulan orang yang saling berhubungan secara teratur. Mereka semua terbentuk menjadi kelompok yang disebutlah dengan bangsa.

Bangsa (volk, people), pertama-tama mempunyai kaitan dengan nasion. Demikianlah kita umpamanya bisa berbicara dengan bangsa Indonesia. Setidaknya dalam bahasa Belanda, orang menyebut Jawa, Madura dan Bugis, positif sebagai bangsa, sebab setiap mereka bisa dikenal karena bahasanya sendiri dan adat kebiasaan sendiri, namun tanpa suatu daerah kekuasaan yang jelas kesatuannya.

Inti pembicaraan ini bukan mengenai bangsa-bangsa sebagaimana adanya akan tetapi pernyataan-pernyataan mengenai hidup manusia dan kebudayaannya. J.P.B. de Josselin de jong memberikan defenisi pada kultur atau kebudayaan yaitu sebagai keseluruhan pernyataan hidup yang tidak turun temurun dari suatu kelompok manusia yang sadar, bahwa mereka merupakan suatu kesatuan.

Dari defenisi tersebut tersimpul bahwa keseluruhan dari suatu keanekaan besar pernyataan hidup manusia, yang bentuknya tidak ditentukan oleh keturunan. Tetapi meskipun demikian, pernyataan hidup ada, entah dimana, dasar berkat turun-temurun, ialah suatu titik yang dalam tahun enam puluhan dengan sangat jelas dikemukakan dalam ilmu bahasa Chomsky, yang menunjukan adanya suatu bakat turun temurun untuk belajar bahasa pada manusia.

Bakat ini merupakan suatu gejala manusiawi umum yang turun menurun; bentuk konkritnya bahasa seperti yang digunakan secara lisan berbeda-beda dari bangsa ke bangsa dan dipelajari, tidak dipelajari di sekolahan, tetapi dengan sendirinya oleh setiap anak kecil dimana-mana pada umur yang sangat muda.

Yang menjadi pembahasan di dalam bidang keahlian kita ialah manusia. Manusia yang pada intansi pertama ditentukan oleh watak yang dimilikinya, akan tetapi yang secara kongkrit dibentuk oleh kebudayaan yakni oleh keseluruhan kompleks lembaga, dimana ia dilahirkan. Semua itu belum pernah dinyatakan secara lebih tepat melainkan oleh istilah antropologi budaya yaitu suatu ilmu yang menyelidiki peran kebudayaan dalam pembentukan manusia.

Perhatian antropologi budaya dan ahli-ahli etnologi secara khusus ditujukan pada morfologi manusia dalam perbandingan, dengan kata lain untuk ras manusia. Umat manusia itu dapat dibagi-bagi kedalam ras, terutama dihadapkan pada pertanyaan apkah ada hubungan antar ras dengan kebudayaan, suatu pertanyaan yang menjurus kepada persolan bakat yang relatif pada tiap-tiap dari berbagai macam ras tersebut. Yang dimaksud dengan ras ialah pengelompokan umat manusia secara alamiah seperti warna kulit, postur tubuh, bentuk mata dan lain-lain.

Yang menjadi perhatian dari semua pertanyaan yang paling menjadi perhatian para ahli antrolologi dan ahli etnologi adalah apakah ras yang satu lebih berbakat dengan yang lainnya dengan kata lain apakah benar, ada superioritas yang jelas dari ras manusia kulit putih.? Saya rasa kita semua memiliki jawaban yang sama sehingga tidak perlu saya sebutkan, yang pasti pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi manusia, karena manusia adalah makhluk pembelajar.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama