Iklan



Ilustrasi/pixabay.com


Sejarah kebudayaan menjadi salah satu pembahasan yang sangat menarik untuk dibicarakan terutama oleh kita sebagai mahasiswa yang duduk di bangku perguruan tinggi STKIP Setiabudhi Rangkasbitung. Dalam perguruan tinggi terdapat tiga standar perguruan tinggi yaitu standar nasional pendidikan, standar penelitian dan standar pengabdian kepada masyarat (UU No.20 Tahun 2020).

Sejarah kebudayaan mencakup seputar unsur-unsur kebudayaan seperti bahasa, sistem ilmu pengetahuan, sistem kemasyarakatan, teknologi, sistem mata pencaharian, religi/keagamaan dan kesenian (Koentjaraningat). Ketujuh unsur tersebut menurut saya satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan saling berkaitan. Namun yang membedakannya adalah pola perkembngannya. Barangkali tulisan kecil ini dengan judul "Sejarah Kebudayaan" dapat memberikan wawasan bermanfaat untuk dijadikan rujukan dalam penelitian.

Yoval Noah Harari dalam sebuah buku yang berjudul Homo Sapiens mengatakan bahwa manusia berrevolusi sebagai salah satu dampak ditemukannya api sejak 800.000 silam. Api mengubah struktur zat makanan yang biasanya dimakan mentah menjadikan otak manusia berevolusi lebih cepat dan berakibat pada revolusi kognitif, kemudian revolusi pertanian dan revolusi sains. Melalui ketiga revolusi tersebut sejarah umat manusia berkembang dengan cepat setelah terjadinya revolusi kognitif seagai revolusi tahap awal pada perkembangan pada sejarah umat manusia. 

Ilustrasi/sejarah ditemukannya api/
pixabay.com

Revolusi kognitif mengawali sejarah sekitar 70.000 tahun silam, sejarah revolusi pertanian mempercepat sejarah sekitar 12.000 silam sedangkan revolusi sains baru mulai berlangsung 500 tahun silam, boleh jadi akan mengakhiri sejarah dan mengawali sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Baragkali abad 21 adalah puncak dan akhir dari sejarah umat manusia sebagaimana dikatakan oleh fukuyama bahwa sejarah telah berakhir terutama dalam kemenangan demokrasi liberal di Indonesia.

Transisi menuju pertanian dimuali sekitar 9500 SM di wilayah perbukitan Turki tenggara, Irian Barat dan Masyrik. Manusia mulai memanipulasi hewan dan tumbuhan. Gandum dan kambing didomestikasi pada kira-kira 9000 SM, ercis dan kacang India sekitar 8000 SM, pohon Zaitun pada 5000 SM, kuda pada 4000 SM, dan tanaman anggur pada 3500 SM. 

Sejumlah hewan dan tumbuhan misalnya unta dan kacang mete di domestikasi lebih belakangan lagi, namun pada 300 SM gelombang pertama domestikasi sudah selesai. Bahkan hari ini, dengan semua teknologi kita, lebih dari 90 persen kalori yang disantap manusia berasal dari segelintir tumbuhan yang leluhur kita domestikasi antara 9500 dan 3500 SM seperti gandum, beras, jagung, kentang dan jelai.

Sejarah umat manusia berlanjut dari satu persimpangan ke persimpangan yang lain. Sekitar 1500 M, sejarah membuat pilihannya yang paling penting, mengubah bukan hanya takdir umat manusia, melainkan bisa dikatakan takdir seluruh kehidupan di bumi. Inilah yang kemudian disebut revolusi sains. Revolusi tersebut dimuali di Eropa barat, suatu semenanjung besar di ujung barat Afro-Asia. 

Selama revolusi ini umat manusia telah memperoleh kekuatan-kekuatan baru yang sangat besar dengan menanamkan sumber daya ke dalam penelitian sains. Perkembangan itu disebut dengan revolusi karena sampai kira-kira 1500 M manusia diseluruh dunia meragukan kemampuan mereka untuk memperoleh kekuatan-kekuatan medis, mikiter dan ekonomi yang baru.

Walaupun pemerintah dan orang kaya mengalokasikan dana untuk pendidikan dan beasiswa, pendidikannya secara umum adalah mempertahankan kemampuan yang ada, bukan memperoleh kemampuan yang baru. Penguasa pramodern biasa memberikan uang kepada rohaniawan, filsuf, dan penyihir dengan harapan mereka akan melegitimasi kekuasaannya dan mempertahankan tatanan sosial. Dia tidak mengharapkan mereka menemukan obat-obatan baru atau merangsang pertumbuhan ekonomi.

Manusia telah berupaya memahami alam semesta sejak revolusi kognitif. Nenek moyang kita mencurahkan banyak waktu dan upaya untuk mencoba menemukan aturan-aturan yang mengatur alam. Namun sains modern berbeda dengan semua tradisi pengetahuan sebelumnya dalam tiga cara yang teramat penting yaitu sumber daya, penelitian dan kekuasaan. 

Sains membutuhkan lebih daripada sekedar penelitian untuk membuat kemajuan. Kemajuan bergantung pada hubungan saling menguatkan antara sains, politik, dan ekonomi. Lembaga-lembaga politik dan ekonomi menyediakan sumber daya yang tanpanya penelitian saintifik nyaris mustahil. Sebagai balasan, penelitian saintifik menyediakan kekuasaan baru yang digunakan antara lain untuk memperoleh sumber daya baru dan sebagian di antaranya di investasikan kembali untuk penelitian.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama