![]() |
| Blondo Kelapa/lazada.co.id |
Halo sahabat literasi,,,. Kali ini saya menulis tentang budaya. Tentu teman-teman semua tidak asing lagi ketika mendengar kata "budaya", namun apa itu budaya makanan bolondo,? ada yang tau bolondo itu apa,? Kalo orang yang dari kampung pasti tau bolondo itu apa.
Sebelum kita masuk ke pembahasan, sebagai pendahuluan saya akan membahas terlebih dahulu apa itu "budaya", kemudian apa itu Bolondo. Antara budaya dan kebudayaan tentu memiliki arti sedikit berbeda, budaya hanya sebatas kegiatan dalam proses berfikir sedangkan pengertian kebudayaan lebih menyeluruh dan lengkap.
Menurut Koentjaranigrat budaya adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Jadi segala sesuatu yang di ekspresikan manusia melalui proses berfikir dan belajar itu dapat dinamakan budaya. Lain halnya dengan kebudayaan. Kebudayaan memiliki arti yang lebih luas. Kebudayaan merupakan terjemahan dari kata cultur.
Pertama kali istilah cultur diperkenalkan oleh E.B Tylor, ia berpendapat bahwa cultur adalah keseluruhan keterampilan, kebiasaan, dan pengertian yang di dapatkan melalui belajar (J.van baal:1987).
Pada awalnya kata cultur merupakan istilah dari pertanian yaitu dari kata latin cultura yang berarti pemeliharaan, penggarapan, terutama pemeliharaan dan penggarapan tanah pertanian seperti cultur kopi, cultur tebu, cultur cokelat, cultur kelapa dan lain-lain.
Kata itulah yang kemudian pada zaman kolonial Belanda sampai sekarang kita kenal sebagai Cultur Stelsel. Disini perlu dicatat, jadi istilah cultur stelsel itu ternyata berarti tanaman budidaya bukan sistem tanam paksa seperti yang kita ketahui pada umumnya. Lalu,?
Kita kembali pada pembahasan kita terkait bolondo, bagaimana budaya tradisional berperan penting terhadap penciptaan-penciptaan pada masa itu seperti Bolondo ini yang sekarang kita bicarakan.
Bolondo adalah sebuah makanan yang dibuat dari sisa-sisa proses pembuatan minyak sayur berbahan kelapa (minyal keletik). Bahan dasar pembuatan bolondo adalah kelapa. Pada zaman dulu masyarakat untuk mendapatkan minyak goreng tidak membeli, tetapi mereka memanfaatkan buah kelapa, yang kemudian diolah menjadi minyak sayur goreng.
Pembutannyapun masih sangat sederhana, bisa di parut atau di kuhkur (kuhkuran). Proses pembuayannyapun tidak begitu rumit dan mengeluarkan biaya. Kita hanya cukup menyediakan kelapa, parutan/kuhkuran, baskom, wajan besar, serta tumpu (hau).
Pertama-tama sediakan kelapa tua, usahakan kelapa yang sudah tumbuh biji (butuh) di dalam kelapanya. Kelapa yang sudah berbutuh bisa dicirikan dengan kelapa yang sudah tumbuh daun kecil di buahnya. Kemudian kelapa di butik (dikupas dari tempurungnya) dan diparut. Setelah itu kelapa yang sudah diparut lalu diseupan (kukus) dan diperas dicampur dengan air sehingga menjadi berupa santan.
Santan tersebut di masak dalam sebuah wajan besar dan tunggu sampai menjadi minyak. Dari sisa minyak kelapa itu mengendap dan endapan itulah yang dinamkan Bolondo. Jadi bolondo prosesnya tidak sengaja direncanakan.
Bolondo hanya bisa dimakan pada saat itu dalam keadaan masih hangat. Biasnya Bolondo sangat disukain anak-anak pada waktu dulu. Rasanya pun tidak kalah enaknya dengan cokelat sekarang. Selain higenis blondo juga sangat bermanfaat untuk menjaga stamina tubuh. Kerna memang bahan dan proses pembuatannya dilakukan secara alami.
Saat ini bolondo jarang sekali kita lihat bahkan kita sama-sekali tidak mengenalnya sama sekali terutama anak-anak zaman sekarang padahal makanan tradisional bolondo merupakan bagian dari budaya kuliner yang unik sekali oleh karena itu kita perlu memperkenalkannya kepada generasi sekarang agar makanan jajanan tradisional ini tetap terlestarikan.
.jpg)