![]() |
| Ilustrasi pemberontakan/pixabay.com |
Mungkin sebagian orang baru tahu tentang sejarah sosial yang ditulis oleh sejarawan bernama Sartono Kartodirdjo dalam bukunya berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888.
Buku tersebut menarik, karena Sartono Kartodirdjo menulisnya dalam perspektif sosial, dengan menuliskannya pemberontakan petani Banten, bukan perjuangan petani Banten.
Pemberontakan petani Banten yang terjadi pada 9 Juli 1888 ini dilatarbelakangi oleh kebijakan Belanda yang diangap menindas rakyat pribumi. Salah satu kebijakan Belanda yang membuat pribumi marah adalah soal sengketa tanah.
Mengutip kompas.com pemberontakan petani Banten 1888 dilatarbelakangi oleh konflik tanah, penerapan tenaga kerja, wabah penyakit dan bencana. Kemudian konflik melebar hingga melibatkan ulama dan haji.
Pemberontakan petani banten 1888 adalah representasi identitas kaum petani Banten itengah-tengah penindasan kaum bangsawan dan kolonialisme Belanda (Masykur Wahid, Jurnal Vol. 1, No. 2, 2010).
Dosen Fakultas Ushuludin dan Dakwah Masykur Wahid dalam jurnal ilmiahnya berjudul "Membaca Kembali Pemberontakan Petani Banten 1888 menjelaskan Cilegon menjadi arena kekerasan berdarah dan mengerikan.
Kekerasan dan kekacauan terjadi sepanjang hari. Hampir semua pejabat terkemuka di Cilegon menjadi korban akibat pemberontakan kaum petani (Masykur Wahid, Jurnal Vol. 1, No. 2, 2010).
Sebelum terjadinya pemberontakan petani Banten 1888, di Banten pada saat itu memang sudah dilanda berbagai pemberontakan. Sebagaimana dikutip dari Buku tersebut, berikut pemberontakan sebelum 1888.
Pemberontakan Wakha 1830
Pada tahun 1830 masa kolonial Belanda adalah masa belakangan sistem tanam paksa (cultur stelsel). Sistem ini memaksa pribumi untuk menanam jenis tanaman tertentu agar ditanam.
Tidak kuat dengan kebijakan Belanda, kemudian masyarakat melakukan perlawanan yang dan dikenal sebagai pemberontakan Wakha 1830.
Pemberontakan ini digerakkan oleh Raden Bagus Jayakarta (Patih Serang). Diawali dengan pembunuhan Demang Cilegon dan Stafnya saat melakukan inspeksi.
Peristiwa Usung 1851
Peristiwa ini terjadi berawal adanya pembunuhan terhadap satu keluarga pada 15 April 1851. Belanda kemudian megendus keberadaan 20 pemberontak dan merangkul mereka.
Peristiwa Pungut 1852
Peristiwa ini merupakan pengajaran terhadap seseorang bernama Mas Pungut beserta kawan-kawannya yang dianggap mengancam ketentraman Banten.
Kasus Kolelet 1866
Adanya polot pembakaran kota Pandeglang yang direncanakan pada 27 Juli. Selain itu terdapat surat kaleng berisi peringatan terhadap residen dan Bupati.
Kasus Jayakusuma 1869
Bermula pada 1866 saat Tubagus Kusuma mengajarkan "ilmu tarik" kepada para pengikutnya, serta adanya intrik dalam pemerintahan Banten yang menimbulkan dendam dan kerusuhan.***
