![]() |
| ilustrasi filsafat cinta menurut Paul Illich/pixabay.com |
Filsafat akhir-kahir ini lumayan banyak diminati. Terbukti, artikel saya tentang filsafat yang saya tulis di blog kompasiana, banyak yang membaca dibandingkan artikel-artikel lainnya. Filsafat berasal dari kata philos artinya cinta dan sophia yang artinya kebenaran atau kebijaksanaan.
Lawan dari kata eksistensi adalah esensi. Esensi merujuk pada suatu keadaan yang ideal dan sempurna. Transisi esensi ke eksistensi merupakan perpindahan dari situasi ideal ke situasi terbelenggu.
Eksistensialisme Paul Tillich
Heidegger menyebutnya dengan Dasein, berasal dari kata da berarti "di sana" dan kata sein berarti "berada". Menurut Gabriel Marcel, makna "eksistensi" adalah situasi konkrit seseorang sebagai subjek di dalam dunia. Karena itu, eksistensi tidak akan pernah dapat dijadikan objektivitas.
Menurut Karl Jaspers, eksistensi menunjuk kepada kedirian kita yang sebenarnya, yang bersifat unik dan sama sekali tidak objektif. Dengan tak henti-hentinya, eksistensi itu terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan yang baru.
Sedangkan menurut Tillich sendiri, secara ontologis manusia berdiri di hadapan realitas, "keberadaan" (non-being). Realitas "ketiadaan" ini terdiri atas dua bagian yaitu ouk on yang artinya "ketiadaan yang absolut" dan me on yang artinya "ketiadaan yang relatif".
Manusia juga memiliki kesadaran akan kehadiran Allah sebagai "ada", sebab ia adalah dasar dari segala keberadaan (the ground of all being). Untuk itu, bicara tentang Allah ternyata tidak terlepas dari "kedalaman" dari keberadaan.
Tillich menggunakan metode korelasi dalam menyusun kerya teologisnya. Arti korelasi sendiri menunjuk kepada interdepedence of two indepedent factors (ketergantungan antara dua faktor yang berdiri sendiri).
Filsafat Cinta Menurut Paul Tillich
Cinta memang bukanlah sesuatu yang asing bagi kita. Manusia ada (lahir) karena buah dari cinta. Ia menjadi besar dan belajar juga karena cinta. Cinta dialami oleh semua orang, terlepas banyak dan sedikitnya cinta semua orang pasti tiak lepas dari cinta.
Pual Tillich pernah berbicara tentang cinta. Tilich pernah memberikan pandangannya yaitu ontologi cinta. Ia menghubungkan konsep ontologis dalam cinta. Menurutnya seseorang pertama-tama harus memahami cinta hawa cinta itu satu, kemudian baru mengenal Eros, Agape, dan lain sebagainya.
Eros adalah cinta seksual yang didasarkan pada nafsu birahi. Disini orang lain tidak dipandang sebagai person (subjek) melainkan sebagai objek. Penghargaan terhadap orang lain tidak ada, satu-satunya yang ada ialah nafsu.
Sedangkan Agape adalah cinta tertinggi. Orang yang memiliki jenis cinta ini tidak lagi memandang kualitas-kualitas padad orang lain, seperti cantik, putih, baik dan lain sebagainya, melainkan memandang orang lain bagian dari dirinya sendiri.
Tillich melihat bahwa cinta merupakan suatu hal yang berkuasa dalam menggerakan kehidupan. Cinta layaknya sebuah motor utama yang menggerakan roda kehidupan. Kehidupan yang dimaksud oleh Tillich ialah kehidupan nyata, bukan keidupan maya. Oleh karena itu, Tillich menunjukan adanya hubungan antara konsep ontologis dan cinta.
Singkatnya, menurut Tillich, ada kehidupan tidak akan menjadi "aktual" apabila tidak ada cinta yang mendorong. Konsep "ada" menjadi "tidak pernah ada" tanpa adanya cinta. Ontologi cinta menurutnya juga menunjukan bahwa pada hakikatnya, cinta adalah satu, tetapi memiliki sifat yang beragam. Keberagaman jenis cinta ini tidak membuat cinta berbeda dengan jenis cinta lainnya.
