![]() |
| Ilustrasi/istilah yang memakai kata sejarah menurut Kuntowijoyo/gambar:pixabay.com |
Kuntowijoyo merupakan merupakan cendekiawan Muslim Indonesia yang menjadi Guru Besar Sejarah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia banyak menulis tentang sejarah, sastra, budaya, dan agama. Kuntowijoyo adalah sejarawan, pengamat kebudayaan, serta pengarang novel dan sajak. Ia lahir di Sorobayan, Bantul, Yogyakarta, pada 18 September 1943.
Kuntowjoyo memiliki banyak karya yang sering dijadikan rujukan oleh perguruan tinggi di Indonesia yang diperkirakan lebih dari 50 buku. Salah satu buku yang sering dijadikan rujukan oleh perguruan tinggi dan mahasiswa adalah tentang sejarah yang berjudul Pengantar Ilmu Sejarah. Buku ini menjadi pegangan dasar mahasiswa termasuk saat saya kuliah di STKIP Setiabudhi Rangkasbitung.
"Tujuan sejarah ialah mempelajari hal-hal yang unik, tunggal dan ideografis. Sejarah itu diakronis, memanjang dalam waktu. Sejarah mementingkan proses," demikian kata Kuntowijoyo dalam buku tersebut.
Apakah Sejarah itu?
Awal masuk kuliah tahun 2017 saya menerima materi kuliah tentang pengertian sejarah, saya ditanya apa itu sejarah? Meskipun terdengar sederhana, tapi kadang kita sedikit bingung, apalagi jika kita samasekali belum pernah membaca buku sejarah.
Setelah saya search di google, saya menemukan pengertian sejarah secara etimologi dan juga terminologi. Secara etimologi atau asal usul katanya, seperti dikutip dari bukunya Kuntowijoyo, kata "sejarah" berasal dari Bahasa Arab "syajara" yang berarti "terjadi", syajarah yang berarti "pohon", syajarah an-nasab berarti pohon silsilah.
Nama blog saya ini suardihistoria.com, sesungguhnya di ambil dari bahasa Yunani dari kata "historia", "histor" atau "istor" yang berarti "orang pandai". Tapi bukan berarti saya pandai, nama ini hanyalah identitas tentang penulis bahwa penulis menyukai sejarah.
Selanjutnya, secara terminologi, atau menurut ahli, mengutip Edward Hallet Carr mengatakan bahwa sejarah adalah suatu proses interaksi serba terus antara sejarawan dengan fakta-fakta yang ada padanya, suatu dialog tiada henti-hentinya antara masa sekarang dengan masa silam.
Menurut James Banks, mengatakan sejarah adalah kenyataan. Sejarah dapat membantu kita untuk memahami perilaku manusia pada masa yang lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang.
Orang bijak mengatakan, kita harus belajar sejarah. Sedangkan George Santayana, filsuf besar Spanyol mengatakan, mereka yang tidak mengenal masa lalunya, dikutuk untuk mengulanginya. Kalau Nicky Astria di dalam lagunya "Panggung Sandiwara" mengatkan bahwa "dunia ini panggung sandiwara ceritanya selalu berulang.
Dari sudut kesejarahan, makna penting yang diperoleh adalah bahwa berbagai pengulangan cerita tersebut, karena hakekat atau ciri dasar manusia tidak pernah berubah. Artinya yang menentukan sejarah itu adalah manusia itu sendiri, disamping adanya kehendak tuhan. Hari ini kita belajar sejarah dan tahun yang akan datang kita akan disebut pelaku sejarah.
Kuntowijoyo, dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah kemudian mengungkapkan kata-kata yang memakai sejarah. Kata-kata yang memakai sejarah, diantaranya adalah guru sejarah, pegawai sejarah, pencatat sejarah, pelaku dan saksi sejarah, serta peneliti dan penulis sejarah.
Guru Sejarah
Guru sejarah berhubungan dengan pelajar dalam pengajaran sejarah. Sejak SD, SMP, SMA kita pasti pernah belajar sejarah. Bahkan mungkin sebagian orang melanjutkan kuliah dan mengambil jurusan sejarah.
Untuk SD, sejarah dapat dibicarakan dengan pendekatan estetis. Artinya sejarah diberikan semata-mata untuk menanamkan rasa cinta kepada perjuangan, pahlawan, tanah air dan bangsa.
Untuk SMP hendaknya pelajaran sejarah diberikan dengan pendekatan etis. Kepada siswa harus ditanamkan pengertian bahwa mereka hidup bersama orang, masyarakat, dan kebudayaan lain, baik yang dulu maupun yang sekarang.
Oleh karena itu wajib belajar sampai tamat kelas IX meliputi SD dan SMP diharapkan mereka yang sudah lulus SMP selain mencintai perjuangan, pahlawan, tanah air, dan bangsa, mereka juga tidak canggung dalam pergaulan masyarakat yang semakin majemuk.
Kepada anak SMU, yang sudah memiliki nalar itu, sejarah harus diberikan secara kritis. Mereka diharapkan bisa berpikir mengapa sesuatu itu terjadi, apa sebenarnya yang telah terjadi, dan kemana arah kejadian-keajdian itu.
Sementara itu ditingkat, Universitas, sejarah diberikan secara akademis. Biasanya akan diajarkan seajrah perubahan masyarakat supaya mahasiswa; (1) memiliki gambaran tentang latar belakang masyarakat yang sedang dibicarakan; (2) mempunyai gambaran tentang kesinambungan dan perubahan; dan (3) dapat mengantisipasi perubahan yang akan terjadi agar dengan ilmunya mereka dapat melihat perkembangan.
Pegawai Sejarah
Yang termasuk disini adalah parra pegawai purbakala, museum dan monumen, balai-balai kajian sejarah dan arsip. Tugas kesejarahan mereka ialah berhubungan dengan masyarakat untuk menanamkan kesadaran sejarah.
Pencatat Sejarah
Setiap instansi, terutama TNI/Polri memperkerjakan sejarawan untuk mencatat apa-apa yang terjadi di lingkungannya dan menulis sejarah lingkungannya. TNI/Polri, misalnya selalu mengikutsertakan sejarawan dalam setiap operasi dan penugasan sejarawan untuk menulis kegiatan-kegiatan TNI/Polri.
Pelaku Sejarah dan Saksi Sejarah
Dalam masyarakat dimanapun dan sekecil apapun selalu terdapat pelaku sejarah, yaitu orang yang secara langsung terlibat dalam pergulatan sejarah. Saksi sejarah ialah orang yang mengetahui suatu peristiwa sejarah, tetapi tidak terlibat langsung.
Peneliti Sejarah dan Penulis Sejarah
Kelompok inilah yang dihasilkan melalui pelatihan di perguruan tinggi. Namun, tidak jarang mereka mempunyai profesi lain, terutama wartawan dan sastrawan, mempunyai bakat dan kemampuan untuk menjadi peneliti dan penulis sejarah. Namun sangat disayangkan terkadang hasil latihan yang berupa skripsi S1, S2 dan S3 kebanyakan tidak layak terbit. ***
