![]() |
| Menafsir Aswaja dalam pemikiran PMII |
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah organisasi mahasiswa yang mengaku Ahlusunnah Waljamaah (Aswaja), karena banyak yang mengatakan bahwa PMII masih banomnya Nahdlatul Ulama (NU).
Sama halnya dengan NU, PMII juga memiliki ideologi dan dasar pemikiran yang sama. Di PMII diajarkan apa itu Ahlusunnah Waljamaah, baik dalam berpikir maupun bertindak.
Artinya berbicara Aswaja harus dipahami bukan sekedar ideologi yang mengkayalkan kesempurnaan sesuatu dalam pemikiran. Tapi ia adalah jalan, pedoman kehidupan dari ilmu dan amal.
Secara ideologi, pemikiran mengenai Aswaja dibagi kedalam tiga cabang, yaitu akidah, syari'ah (fiqih) dan akhlak (tasawuf). Ketiga cabang ini dikembangkan di PMII yang dirumuskan menjadi Nilai Dasar Pergerakan (NDP).
NDP PMII terdiri atas tauhid, habluminallah, habluminanas, dan habluminalam. Nah, keempat Nilai ini masing-masing berlandaskan pada akidah, fiqih dan tasawuf tersebut.
Sebelum kita membahas NDP kita harus memahami Aswaja terlebih dahulu. Dan Aswaja jangan hanya sekedar dimaknai secara ideologi, melainkan juga harus secara sosial, dan kultural, dari berbagai sudut pandang.
Sayangnya memang, dalam setiap kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA), Aswaja tidak sampai tuntas. Saya selalu bertanya kenapa Aswaja hanya dipahami dalam sudut pandang ideologi.
Sebagai contoh, umpamanya ada seorang kader PMII yang bertanya kepada kita; "Bang Aswaja itu apa sih,?," biasanya rata-rata menjawab; "Aswaja itu, golongan terbanyak dek, yang mengikuti Imam Asyariyah dan Maturidiyah.
Sebetulnya tidak salah, hanya saja kurang lengkap. Aswaja itu secara akidah merujuk ke dua imam (Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Mansyur Al-Maturidi) fiqihnya (Imam Hanbali, Hanafi, Syafi'i dan Maliki) dan tasawufnya (Imam Junaedi Albaghdadi dan Imam Al-Ghozali).
Minimal kita memenuhi hal itu saja, kita bisa disebut Aswaja. Tapi kan, kalau Aswaja hanya dipahami seperti itu, wahabi juga bisa, ahmadiyah juga bisa. Gampang saja bagi mereka untuk menyebutkan hal tersebut kemudian mereka mengaku Aswaja.
Mengartikan Aswaja tidaklah sesederhana itu. Aswaja itu membutuhkan kesesuaian antara, ucapan dan perbuatan, antara ilmu dan amal. Ngaku aswaja tapi dzalim, berarti sama saja gak ada bedanya.
Nah, pengertian Aswaja seperti itu hanya pembagiannya saja, karena pemahaman dari pikiran dan tindakan Aswaja adalah Manhajulfikr Walharoqah yaitu tawasuth, tasamuh, tawazun, taadul dan amar ma'ruf nahimunkar.
Jadi apabila seseorang mengaku-ngaku Aswaja, bisa kita lihat dari cara berpikir dan cara mengamalkankan apa yang dinamakan Manhajukfikr Walharoqah tadi (tawasuth, tasamuh, tawazun, taadul).
Coba kita maknai satu persatu apa yang menjadi point dalam Manhajukfikr tersebut. Kemudian kenapa harus Manhajulfikr dan Haroqah, nah ini karena tawasuth, tasamuh, tawazun, taadul dan amar ma'ruf nahimunkar, bisa dijadikan sebagai metode berpikir dan juga bisa dijadikan pedoman berperilaku.
Saya contohkan, bagaimana cara kita menyikapi perbedaan mazhab, bagaimana cara kita menyikapi ditengah perbedaan antara manusia, dan bagaimana cara kita menyikapi alam semesta ini. Nah, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah Manhajulfiqr Walharoqah.
Jadi kalau kita dihadapkan pada persoalan perbedaan akidah, maka kita memakai tawasuth, jika persoalannya adalah manusia seperti soal keberagaman maka kita memakai tasamuh dan taadul, dan apabila kita dihadapkan pada persoalan kerusakan alam, maka kita memakai tawazun.
Baik, nampaknya pembaca masih bingung, maka akan saya jelaskan satu persatu. Kenapa persoalan akidah harus tawasuth, persoalan kemanusiaan harus tasamuh dan taadul dan kenapa persoalan alam harus tawazun.
Pertama soal akidah, yang untuk menyikapinya harus dengan Manhajulfikr tawasuth. Tawasuth artinya moderat, dan moderat artinya mengambil jalan tengah, dan mengambil jalan tengah artinya mencari yang terbaik.
Contoh, jika ada dua aliran antara Qodariyah dan jabariyah, jalan tengahnya adalah muktazilah, tapi ternyata muktazilah terlalu mengendepankan akal, maka kesimpulannya kita ambil jalan tengah, tidak terlalu naqli dan tidak terlalu mengedepankan aqli, atau antara liberal atau sosialis, maka kita tawasuth mengambil jalan tengah karena dua2nya hakikatnya ada dalam diri kita.
Itu dalam aliran pemikiran atau cara berpikir maka saya ambil Manhajnya adalah tawasuth. Tapi beda halnya dengan soal kemanusiaan dan alam semesta. Soal kemanusiaan contoh secara alamiahnya warna kulit, suku, budaya, agama, nah maka persoalan ini ia harus memakai Manhaj tasamuh dan taadul.
Kita harus toleran, meskipun berbeda, dan kita juga harus adil dalam perbedaan sesuai porsinya masing-masing, jika salah ya katakan salah, jika harus dihukum maka hukum, nah itu untuk jawaban soal kemanusiaan yang sebetulnya masih banyak lagi. Beberapa simpulan dari persoalan itu nanti dibuat semboyan seperti trimoto, trikhidmat, dan trikomitmen.
Selanjutnya yang terakhir adalah soal alam semesta. Alam semesta mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena kita hidup di alam semesta. Alam semesta itu terdiri dari unsur-unsur seperti udara (atmosfer), air (hidrosfer), tanah (pedosfer) dan semua unsur lain termasuk seisinya, baik nampak maupun tak nampak.
Alam semesta dulunya masih murni, artinya belum ada campur tangan manusia, dan berbagai kerusakannya. Manusia tidak bisa hidup jika alam yang ia singgahi ini rusak, manusia butuh tempat tinggal, manusia butuh makanan semua baik secara langsung maupun tidak langsung disediakan oleh alam. Jadi mustahil manusia tidak tergantung pada alam.
Bagaimana sikap PMII,? nah, seperti yang saya katakan tadi, bahwa sikap PMII atau Aswaja itu harus tawazun yang artinya berimbang. Manusia harus menyebimbangkan interaksinya dengan alam. Maka disini muncul ilmu hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya yang disebut ekologi. Kita harus bisa menjaga tempat tinggal kita demi keberlanjutan umat manusia, sekalipun kita memanfaatkan alam, tapi alam yang kita manfaatkan itu harus seimbang, agar bumi ini tidak rusak.
Tapi akhir-akhir ini kita mendapatkan informasi bahwa alam saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dunia menginformasikan soal akan terjadinya krisis iklim akibat pencemaran yang disebabkan oleh ulah manusia dari pabrik-pabrik. Satu-satunya harapan kita berupa tumbuhan, tapi ditebang juga oleh manusianya, alhasil tidak ada penyeimbang.
Inilah yang saya maksudkan Aswaja sebagai Manhaj tawazun, penggunanya disini. Kita harus optimis, tapi harus dibarengi berbuat, jangan sampai bumi kita rusak, meskipun surah Ar-rum menyebutkan: "Telah terjadi kerusakan di darat dan dilaut disebabkan oleh umat manusia,". Ayat ini adalah peringatan agar kita harus berjuang mempertahankan alam kita.
.jpeg)