![]() |
| Ilustrasi sejarah filsafat Stoikisme/pixabay.com |
Nasihat mengenai hidup secara sederhana, mungkin sering kita dengar. Dalam ilmu filsafat, nasihat termasuk dalam ajaran filsafat Stoikisme.
Ajaran Stoikisme sangat erat dengan emosi manusia, dimana dalam paham ini emosi negatif merupakan sumber ketidakbahagiaan.
Dosen filsafat dari program studi Bahasa dan Sastra Indonesia FIB Unair Dr. Listiyono Santoso SS, MHum menerangkan bahwa filsafat stoikisme mengajarkan kita hidup realistis, membaca diri, antisipasi diri, dan mengevaluasi diri.
Hidup manusia harus siap dengan tantangan dan hambatan. Realitas adalah proses riil yang harus dihadapi dengan sungguh-sungguh agar hidup manusia menjadi kebih baik dan lebih etis dari sebelumnya.
Sejarah Stoikisme
Stoikisme atau disebut juga Stoa adalah aliran atau mazhab filsafat Yunani kuno yang didirikan di kota Athena Yunani oleh Zeno dari Citium pada awal abad ke 3 Masehi.
Informasi tentang Zeno diperoleh dari tulisan Plato (filsuf ke 8) dalam bentuk dialog yaitu Parmenides. Dialog itu menggambarkan Paenides dan Zeno yang berkunjung ke Athena dan bertemu dengan Plato.
Saat itu usia Parmendides berusia sekitar 65 tahun, Zeno sekitar 40 tahun dan Sokrates digambarkan masih sangat muda. Aristoteles menyebut Zeno sebagai penemu dialektika dan Bertrand Russell menyebutnya sebagai peletak dasar logika modern.
Filsafat Stoikisme ada sejak 301 SM. Pencetusnya yakni para filsuf Yunani Kuno di Athena bernama Zeno. Kemudian dilanjutkan oleh filsuf Chrisippus, Cicero, Epictetus, yang berjuluk Sang Budak Pengajar Stoic, Marcus Aurelius atau Sang Kaisar dan Seneca dengan julukannya sebagai Sang Negarawan dan filsuf Stoic.
Penyebutan Sota adalah karena para filsuf tersebut berdialog di Stoa. Mereka membucarakan ragam isu, dan tema dari soal teologi, astronomi, fisika, logika hingga etika. Pembicaraan utamnya adalah mengenai filsafat kebajikan hidup dalam etika dan teologika. ***
