Iklan

Pertamina/foto:  career.pertamina

Saat ini Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) diberbagai tempat selalau penuh. Di Lebak, contohnya, di semua SPBU setiap hari selalu dipenuhi kendaraan antrian panjang.  

Mereka rela mengantri dan menunggu berjam-jam untuk mendapatkan BBM dengan harga yang lebih murah daripada harga eceran. Apalagi, yang BBM Pertalite tidak dijual belikan di pedagang eceran.

Jenis BBM yang saat ini masih terbilang terjangkau adalah pertalite dengan harga Rp10.000, sedangkan untuk pertamax Rp15.000. 

Untuk jenis Pertalite SPBU seringkali kehabisan, akibatnya masyarakat terpaksa harus membeli Pertamax, meskipun harganya jauh lebih mahal. 

Naiknga harga BBM benar-benar beban, dan nguras kantong. Yang biasanya hanya 25 ribu full untuk kendaraan roda dua, sekarang minimal harus mengisi 35 sampi 40 ribu rupiah. 

Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana yang di kampung yang jauh dari SPBU? Di kampung harga Pertamax jelas jauh lebih mahal daripada di SPBU. 

Seperti kita tahu, bahwa sebelumnya pemerintah telah menaikan BBM beberapa pekan lalu. Loncatnya harga ini sangat terasa, belum lagi harga bahan pokok yang mahal sebagai dampak domino dari kenaikan harga BBM.

Sebetulnya, di Indonesia, ada delapan jenis Bahan Bakar Minyak (BBM), diantaranya yaitu pertamax, pertalite, premium, dexlite dan lain-lain Dan hanya Pertalit dan Pertamaxlah yang memenuhi standar untuk rata-rata kendaraan.

Tapi, kita perlu tahu bahwa kualitas BBM jenis Pertamax dan Pertalite ini berbeda. Pertamax memang mahal tapi lebih irit dibandingkan Pertalite. Hal ini karena Pertamax dan Pertalite memiliki oktan yang berbeda. 

Seperti dikutip suardihistoria.com, dari finance.detik.com pada 29 September 2022, Pertalite memiliki research octane number (RON) 90, sedangkan pertamax, RON 92. Angka ini menunjukan bahwa besaran tekanan yang bisa diberikan sebelum pembakaran secara spontan. 

Seperti dijelaskan Pengamat Otomotif dan Akademisi dan Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus Pasaribu, alasan Pertamax disebut-sebut lebih irit dari Pertalite, karena dipengaruhi kandungan oktan pada BBM. 

"Semakin tinggi kompersi mesin, maka menuntut bahan bakar dengan oktan yang lebih tinggi. Pada mesin, bahan oktan tinggi akan lebih meningkatkan performa dan penghematan BBM," kata Yannes, yang dikutip dari tempo.co.

Yannes mengungkapkan, pengguna kendaraan harus menggunakan BBM sesuai dengan peringkat oktan yang disyaratkan. Hal ini karena pengguna BBM dengan oktan yang lebih rendah dapat menyebabkan kinerja mesin menjadi buruk dan dapat merusak mesin. 

Sementara itu, dipihak lain dosen dari Kelompok Keahlian Konversi Energi ITB Tri Yuswidjajanto Zaenuri berpendapat bahwa PT Pertamina (Persero), harus mengecek penyaluran pertalite di lapangan. 

Pasalnya, kita harus belajar dari kasus terjadi pada tahun 2010 silam. Kala itu terjadi distorsi kualitas bahan pompa bahan bakar kendaraan dari produsen yang merugikan konsumen. 

Kemudian, kata Tri, terjadi juga di Bali, Makasar dan Jember yaitu soal impor BBM yang menyebabkan kerusakan busi dan klep untuk mobil dan sepeda motor.***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama