![]() |
| Tata Cara Upacara Pemujaan Arca Domas Masyarakat Suku Baduy/ilustrasi Baduy/pixabay.com |
Situs Arca Domas merupakan salah satu situs yang dianggap keramat oleh masyarakat Baduy. Menurut masyarakat Baduy Arca Domas atau Sasaka Domas adalah inti jagad rayat. Oleh karena itu masyarakat menjadikan Arca Domas sebagai tempat atau media pemujaan. Adapun bentuk pemujaan tersebut yaitu dengan mengadakan upacara pemujan di Arca Situs Domas.
Dalam upacara pemujaan Arca Domas tidaklah sembarangan. Masyarakat Baduy memiliki tata caranya sendiri, mulai dari penentuan waktu upacara, dan beberapa persyaratan yang harus dilakukan dalam memulai upacara pemujaan. Nah, untuk itu, mengutip Nina Herlina Lubis dalam buku Sejarah Kabupaten Lebak, berikut ini adalah tata pelaksanaan upacara Arca Domas masyarakat Baduy.
Jadi, upacara pemujaan Arca Domas (Sasaka Pada Ageung) dimulai pada tanggal 16, 17 18 bulan Kalima. Pada pagi hari tanggal 16, Puun Cikeusik disertai baris kolot berangkat menuju talahab, yaitu dangau-dangau (saung) terbuat dari bambu dan beratap rumbia yang sudah disiapkan sebelumnya. Dangau itu terletak di hilir sungai dan cukup jauh dari Arca Domas.
Pada tanggal 17, mereka mandi (mensucikan diri) di Sungai Ciujung dan baru kemudian menuju Arca Domas di sisi utara. Pada undakan pertama teras satu, mulailah puun memimpin upacaara pemujaan menghadap ke arah puncak Arca Domas dengan membaca mantra dan doa-doa tertentu. Pada saat tengah hari selesai, dilanjutkan dengan membersihkan dan membenahi pelataran undakan.
Selanjutnya pada teras tujuh, mereka mencuci muka, tangan, kaki di Sanghyang Pangumbahan. lumpang batu itu menjadi sumber alamat karena bila saat ditemukan dalam keadaan penuh dan bening, hal itu mengisyaratkan akan banyak hujan, iklim baik, dan panen berhasil. Sebaliknya, bila dangkal dan keruh, hal itu merupakan alamat kekeringan dan kegagalan panen.
Dari Sanghyang Pangumbahan, mereka menuju puncak punden tempat menhir dan Arca Domas berada. Mereka melihat Arca dan Menhir itu dengan perasaan cemas. Bila menhir dan Arca ini tertutup lumut, itu pertanda kesejahteraan dalam tahun itu. Sebaliknya, apabila tidak tertutup lumut, itu berarti batara sataranjang (batara telanjang), sautu pertanda akan tertimpa kesusahan dan bencana.
Lumut itu disebut Komala (permata) dan biasa dibawa pulang untuk berkah bagi mereka yang memerlukan. Kegiatan membersihkan sasaka dalam naskah Sanghyang Siksakandang Karesian disebut ngomeyan Sang Hyang. Selesai acara di puncak punden mereke kemudian turun. Sampai ke teras dua, mereka melakukan puja lagi dan mengikrarkan tetap setia pada agama Sunda (Wiwitan) dan akan menjauhi agama Islam.
Menurut Nina Herlina Lubis, pengingkaran ini sangat mungkin, berlaku setelah kerajaan Sunda runtuh dan agama Islamsudah menyebar ke masyarakat sekitar. Undakan kedua, bagian Utara disebut lemah bodas (tanah putih) karena dibagian ini terdapat sebidang lahan berwarna putih. Lemah Bodas dan komala merupakan tanda berkah yang akan diberikan kepada mereka yang memintanya pada saat turun hujan.
Nah, jadi begitu tata cara pemujaan Arca Domas dalam kepercayaan masyarakat Baduy. Banyak hal yang belum kita ketahui secara utuh tentang Baduy. Maka dari itu, penulisan tentang Baduy, harus terus dilakukan agar dapat memberikan pengetahuan kepada generasi mendatang, atau kepada mereka yang belum tahu banyak tentang masyarakat Baduy. ***
