![]() |
| Dr. Soetomo/sumber foto:kemendikbud.go.id |
Unkapan yang dianggap sebagai penghinaan terhadap Islam dalam beberapa waktu yang lalu sempat menuai kemarahan umat Islam. Ungkapan penghinaan terhadap Islam adalah berupa penistaan terhadap agama Islam. Contoh penistaan terhadap agama bisa terlihat dalam kasus Ahok pada tahun 2017 yang lalu.
Namun, tahukah kita, kalau penghinaan terhadap Islam pernah tercatat dalam sejarah Indonesia. Ahmad Marsur Suryaengara dalam bukunya Api Sejarah Jilid 1 menuliskan bahwa terdapat penghinaan terhadap Islam dan Rosulullah SAW yang dilakukan oleh organiasi Budi Utomo.
Seperti yang kita ketahui bahwa organisasi Budi Utomo dalam sejarah Indonesia merupakan organiasi tertua yang berdiri pada tahun 1908. Ahmad Masyur Suryanegara dalam bukunya tersebut menjelaskan tentang bagaiamana bentuk penghinaan terhadap Islam itu dilancarakan oleh organiasi Budi Utomo.
Sejarawan dari Universitas Padjajaran tersebut mengungkapkan, dalam majalah Swara Oemoem, 18 Juni 1930 yang dipimpin oleh Dr. Soetomo melalui artikel yang ditulis oleh Homo Soem melancarkan aksi anti haji dan anti Islam. "Lebih baik dibuang ke Digul daripada pergi Naik Haji ke Mekkah," kata Homo Soem.
Melalui tulisan yang demikian, Ketua Budi Utomo Dr. Soetomo pun mendukung upaya pemerintah kolonial Belanda dengan Ordonasi Haji Tahun 1927 Stb. No 286 yang memperketat proses izin untuk Naik Haji dan larangan bagi Sultan dan Bupati untuk Naik Haji karena jika terjadi kontak Islam Indonesia dengan Islam Timur Tengah akan memperkuat gerakan kebangkitan kesadaran politik Islam yang dipelopori oleh Ulama.
Siapa Homo Soem yang menulis artikel tersebut? masih mengutip dari buku Api Sejarah, mengenai siapa Homo Soem dapat dilihat dari dialog antara Dr. Soetomo dengan K.H Mas Mansur yang dimuat dalam Majalah Pengandjoer No 6 Tahun dJULI 1938. Homo Soem itu ternyata nama samaran yang sebenarnya adalah Dr. Soetomo sendiri, pendiri Budi Utomo pada 20 Mei 1908.
Tak hanya itu, Parindra yang dipimpin oleh Dr. Soetomo melalui medianya Madjalah Bangoen, 15 Oktober 1937 juga mengangkat dan mendukung artikel Siti Soemandari yang melancarkan penghinaan terhadap Rosulullah. Tulisan ini mendukung Ordonasi Perkawinan 1937 yang dibuat oleh Belanda namun bertentangan dengan Syariah Islam.
Kenapa Dr Soetomo melakukan hal demikian, Karena Akidahnya yang salah?
Dr. Soetomo berani melakukan penghinaan terhadap Islam secara berulang kali. Menurut pengakuan Dr. Soetomo kepada K.H Mas Mansoer bahwa segenap benda di alam raya merupakan penjelmaan Tuhan dan manusia sebagai penjelmaan Tuhan yang paling akhir.
Secara hakikat menurut Soetomo tidak membenarkan keyakinan penjelmaan Tuhan, tidak perlu melakukan sholat seperti yang diajarkan oleh Rosulullah SAW. Adapun yang diutamakan adalah bertingkah laku rahman rahim sesama manusia.
Ahmad Masur Suryanegara memberikan argumen, jika yang diutamakan adalah tingkah laku, akan tetapi bagaimana sikapnya terhadap Islam dan Rosulullah SAW? Menurut Ahmad Mansur Suryanegara semestinya kalau Dr. Soetomo konsekuen dengan keyakinannya bahwa manusia diyakini sebagai penjelmaan Tuhan, maka harus disayangi.
"Kalau demikain keyakinan Dr. Soetomo, apakah mungkin buletin dan majalahnya berani melancarkan penghinaan terhadap Islam dan Rosulullah?," kata Mansur Suryanegara.***
.jpg)