![]() |
| Situs Arca Domas/sumber foto:wahanawisatabanten.blogspot.com |
Kabupaten Lebak memiliki banyak sekali peninggalan sejarah, salah satunya peninggalan sejarah pada mas Hndu Budha. Pada masa Hindu-Budha, Lebak menjadi salah satu wilayah kekuasan kerajaan Tarumanegara Raja Purnawarman, yang dimana pada waktu itu kerajaan Tarumanegara mencakup Pandeglang hingga Bogor, Tangerang, Jakarta, Bekasi dan Kerawang, sehingga Kabupaten Lebak diduga menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Tarumanegara.
Situs Arca Domas adalah salah satu situs peninggalan sejarah pada masa Hindu Budha tersebut. Situs Arca Domas atau yang disebut juga Sasaka Pada Ageung atau Sasaka Pusaka Buana terletak di Kampung Cikeusik, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Situs ini berada dibukit Pamuntulan di Hulu Sungai Ciujung, tepatnya di sisi barat Pegunungan Kendeng.
![]() |
| Situs Arca Domas/https://id-id.facebook.com/ |
Situs Arca Domas merupakan bangunan teras berundak (punden berundak) berbentuk piramida yang terbuat dari susunan batuan andesit. Bangunan ini terdiri atas tujuh teras dengan arah menghadap Utara, Selatan. Susuan undakannya menyerupai petak-petak sawah. Namun, sebagian besar pembatas undakan sudah tidak jelas karena batuan penyusunnya sudah lepas. Pada setiap undakan tersebut, terdapat dinding penahan longsor terbuat dari batu kali.
Sepeti dikutip Suardi Historia.com dari buku Sejarah Kabupaten Lebak, karya Nina Herlina Lubis, Situs Arca Domas ini terdiri atas tiga belas undakan. Pada teras pertama, merupakan teras terbesar di antara teras-teras lain. Teras kedua, terdiri atas tujuh undakan, teras kelima terdiri tiga undakan, dan teras keenam terdiri dari satu undakan, sehingga semuanya berjumlah tigas belas undakan.
Pada puncak punden atau teras berundak terdapat batu menhir (sasaka) dengan tinggi 250 cm dan diameter 75 cm, lumpang batu (Sanghyang Pangumbahan) dengan garis tengah sekitar 90 cm, dan arca (megalitik). Arca ini berbentuk manusia yang sedang bertapa dan sangat mungkin arca itulah yang disebut sebagai Arca Domas (arca suci).
Pleyte dalam Nina Herlina Lubis (2007) mengungkapkan bahwa ketigabelas undakan tersebut, dimasksudkan sebagai simbol tahapan yang harus ditempuh oleh roh nenek moyang untuk mencapai langit. Roh itu memulai perjalanannya dari undakan paling bawah menuju undakan kedua (lemah bodas).
![]() |
| Ilustrasi/sumber foto: Akun Facebook @Info_Lebak |
Roh yang telah sampai di lemah bodas berarti telah melalui prioses pensucian yang dilakukan di Lumpur Sibalagadagama (Leutak Sibalagadama) sehingga dengan melalui undakan-undakan selanjutnya roh akan bersatu dengan Batara Tunggal penguasa langit dan bumi yang bersemayam di puncak undakan.
Menurut Orang Baduy, Arca Domas adalah inti jagad raya, dimana ikisahkan bahwa bumi ini pada mulanya berwujud kental, bening dan hanya sebesar biji padi. Pada suatu titik mulai mengeras dan membesar yang merupakan awal terjadinya bumi yang disebut pancer bumi atau inti jagat dan juga sebagai pusat dunia.
Sementara itu, B. van Tricht (1929) menduga bahwa Arca Domas bagi masyarakat Baduy merupakan media pemujaan yang berkaitan dengan upacara untuk mendatangkan hujan. Tapi, ada juga yang menganggap sebagai media upacara menyatakan terima kasih ke Yang Maha Esa (Batara Tunggal).***

.jpg)
