![]() |
| Body shaming/pixabay.com |
Salah satu bentuk cyberbullying yang ada di media sosial adalah body shaming. Istilah ini diartikan sebagai salah satu bentuk mempermalukan atau menghina bentuk tubuh atau anggota tubuh orang lain secara visual atau pun non-visual (texting).
Pada tulisan ini, saya akan membahas body shaming secara non-visual dalam bentuk komentar netizen (warganet) di media sosial Instagram. Di media sosial Instagram banyak sekali postingan-postingan yang menampilkan gambar-gambar secara visual.
Salah satu body shaming yang terjadi di media sosial yaitu dalam bentuk komentar di kolom komentar akun Instagram. Seperti dikolom komentar postingan Aurel Hermansyah.
Sempat ada gosip yang menggemparkan mengenai Aurel Hermansyah. Ia dituduh melakukan operasi plastik karena perubahan penampilannya semakin kurus, cantik dan seksi. Padahal, kenyataannya Aurel hanya melakukan diet dan perawatan wajah, serta lebih pandai merias wajah.
Kasus Aurel adalah salah satunya. Body shaming merupakan hal yang sudah dianggap biasa, pada lingkungan sehari-hari misalnya komentar mengenai bentuk tubuh, warna kulit, dan semua hal yang mengenai hal fisik seseorang.
Body shaming bisa dikatakan oleh siapa saja, bahkan orang tua kita sendiri. Suatu ketika saya pulang kerumah karena memang sudah lama saya belum pulang karena kuliah di kota.
Saya kuliah di Kota Rangkasbitung. Namun, saat pulang ke rumah orang tua saya memperhatikan saya, dan ia mengatakan; "kamu kurusan sekarang. Kamu jarang makan,". Inilah salah satu dari contoh body shaming dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kondisi tersebut mungkin kita biasa saja, dan tidak mempermasapahkannya. Tapi dalam kondisi tertentu, apalagi ungkapan itu dikatakan didepan orang banyak oleh teman kita umapamanya, tentu kita merasa sakit hati.
Menurut saya body shaming bukanlah suatu hal yang baik dan harus kita hindari. Body shaming juga tidak bisa dijadikan candaan, karena kita tidak pernah tahu bagaimana perasaan seseorang ketika kita membicarakan fisiknya.
Jadi kita harus bersikap toleran terhadap perbedaan. Jangan menjadikan fisik seseorang sebagai candaan apalagi jadi bahan tertawaan.
