Iklan

Ilustrasi homo digitalis/pixabay.com

Saat ini, kapanpun dan dimanapun, harus diakui bahwa teknologi digital telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Di rumah, di jalan, di tempat kerja, di sekolah, di kampus, di pusat perbelanjaan, di tempat hiburan, bahkan di tempat ibadah teknologi digital selalu hadir mengisi setiap aspek kehidupan manusia. Inilah yang dimaksud era homo digitalis, yaitu era dimana manusia dibentuk oleh revolusi teknologi. 

Setiap individu kini akrab dengan berbagai teknologi digital. Nyaris setiap orang kini memiliki ponsel (telepon seluler) yang terhubung ke internet. Bahkan, ponsel pintar (smartphone) kini tidak lagi sekedar piranti komunikasi, namun juga piranti penyedia informasi, pengetahuan dan sekaligus hiburan. 

Perkembangan teknologi digital, tidak hanya sampai disitu. Penemuan teknologi komunikasi baru (the new communication technologies) misalnya, seperti fiber optics, jaringan internet pita lebar (broadband), satelit transmisi cepat (rapid satelite transmissions), virtual reality, hingga artificial intelligence (Al) telah memampukan manusia untuk menjalai episode kehidupan yang belum pernah kita alami sebelumnya.

Tanpa perlu meninggalkan rumah, sambil duduk santai pun, misalnya, dengan bantuan kacamata VR (virtual reality) Google Glass atau Samsung Gear, kita bisa berpartisipasi dalam aksi demonstrasi virtual di Jakarta, atau melakukan virtual tour ke Keraton Solo atau Galeri Seni Affandi di Yogyakarta.

Demikain halnya, teknologi keuangan baru (the new financial technologies) seperti internt banking, mobile banking, e-commerce, sistem transaksi NFC (near field communication), sistem kredit berbasis peer-to-peer lending yang menghilangkan peran bank, hingga munculnya sistem cryptocurrency seperti Bitcoin, Etherium dan Enigma telah memungkinkan manusia untuk melakukan aktivitas ekonomi dengan cara-cara baru secara lebih efektif dan efisien. 

Hanya berbekal ponsel pintar dan beberapa klik jemari tangan, misalnya, kini kita bisa melakukan transaksi perbankan atau membeli barang bernilai jutaan rupiah, mendonasikan uang melalui laman crowd funding seperti KickStarter.com, KitaBisa.com, hingga berinvestasi tanpa melibatkan bank dengan bantuan sistem mata uang digital cryptocurrency seperti Bitcoin. 

Ilustasi/pixabay.com

Bersama penemuan-penemuan teknologi lainnya, teknologi keuangan baru telah mengubah cara hidup kita, homo digitalis pascamodern secara berbeda dan revolusioner. 

Ada hal yang menarik mengenai homo digitalis (manusia digital) ini, yaitu bagaimana pandangan para pengkritik teknologi terhadap perkembangan tersebut. Adakah suatu pandangan yang mencerahkan kita semua, selaku masyarakat yang mungkin belum mengerti apa-apa tentang teknologi digital secara keseluruhan?

Baiklah, seorang pembawa acara bernama Helen Fares di acara TV berjudul homo digitalis yang disiarkan di Jerman sejak 2017, menelusuri jejak revolusi teknologi digital dan perubahan sosial yang diakibatkannya. Ia mewawancarai ilmuan, dosen, peneliti, dan praktisi pengembang teknologi digital mengenai masa depan masyarakat digital dengan segala dampaknya.

Kehdiran teknologi sebetulnya memunculkan tanggapan pro dan kontra dari para ahli. Banyak ahli yang mengkritik perkembangan teknologi digital ini dengan berbagai macam alasan dan argumentasinya. Namun, banyak juga para ahli yang menyatakan argumentasi kuat tentang hal positif kemajuan teknologi digital ini. 

Bermuka Dua

Yang cocok untuk menggambarkan teknologi seperti sekarang ini adalah, ia layaknya Dewa Janus yang sejatinya berwajah ganda. Teknologi bisa berdampak negatif, namun juga positif. Perubahan zaman seperti sekarang ini adalah keniscayaan yang tidak bisa kita hindari. Satu-satunya cara untuk menghadapi dari arus teknologi seperti sekarang ini adalah membangkitkan motivasi dan moralitas diri. 

Dengan memiliki motivasi untuk memanfaatkan teknologi secara bijaksana dan dengan dasar moral yang kuat, perkembangan teknologi akan membawa hikmah yang baik untuk kita semua. Di era teknologi digital ini kita harus menjadi pembelajar mandiri, dan mampu memanfaatkannya sebaik mungkin dan sebijaksana mungkin. 

Karena bermuka dua itulah, artinya tidak semua kemajuan mendatangkan dampak negatif, ia juga memiliki dampak positif. Sebuah penelitian terbaru juga menunjukan dengan argumentasi kuat bahwa perkembangan teknologi komunikasi  terutama penemuan media sosial, tidak semerta merta menggantikan atau menghilangkan pola interaksi tradisional berbasis tatap muka fisik, melainkan justeru melengkapi pola interaksi yang sudah ada.

Kemudian, penelitian-penelitian berikutnya juga menemukan bahwa pola komunikasi online yang sering disebut sebagai mediated communication ini justeru menguatkan hubungan antar individu, baik antarteman, ataupun antarkeluarga, membuka akses hubungan baru, serta membantu individu menyelesaikan masalah pribadinya. 

Tapi seperti yang disebutkan tadi, ia juga memiliki dampak negatif dan dampak negatif inilah yang menjadi tantangannya. Dampak negatif dari perkembangan teknologi digital cukup banyak. Para pengkritik teknologi mengungkapkan argumentasi berikut ini:

"Menjadi Budak Teknologi"

Para pengkritik teknologi menyatakan bahwa perkembangan teknologi terkini telah mengasai dan bahkan mengambil alih kehidupan manusia sebagai pencipta teknologi. Para ahli mengatakan manusia kini justeru menghamba kepada produk teknologi yang diciptakannya. Ungkapan "manusia adalah budak teknologi", dengan tepat menggambarkan kondisi manusia yang telah kehilangan kontrol terhadap teknologi. 

"Anti Sosial"

Alih-alih dengan kehadiran teknologi menjadikan interaksi sosial semakin erat, teknologi digital justeru menjadikan manusia seperti anti-sosial. Misalnya, semakin sering kita merasa cukup pantas untuk hanya menyampaikan ucapan selamat ulang tahun, atau selamat lebaran, kepada teman, keluarga melalui media sosial tanpa perlu bertatap muka. 

Para pengkritik media sosial juga mengatakan, alih-alih bersifat "sosial", media sosial justeru seringkali bersifat "anti-sosial" dan mengurung para penggunanya dalam sebuah echo chamber, yang, yang tertutup dan anti dialog. 

Mengutip (Alfiyatul Khairiyah, dkk, 2018), dalam realitas echo chamber di media sosial, seseorang cenderung hanya mau menerima informasi dari kelompoknya sendiri dan antipati terhadap kebenaran yang disampaikan kelompok lain. 

"Pengangguran Tinggi"

Perkembangan teknologi industri terkini juga dituduh akan mengancam banyak posisi tenaga manusia di dunia kerja. Angka pengangguran melesat karena tenaga manusia digantikan oleh teknologi robot dan mesin artificial intelligence. 

Sebagaimana laporan yang dirilis PBB pada tahun 2016, "On Financing Global Opportunity -The Learning Generation" menyatakan bahwa dengan percepatan perkembangan teknologi seperti saat ini hingga tahun 2030, sekitar 2 miliar pegawai di seluruh dunia akan kehilangan pekerjaan (Khasali, 2017). 

Pekerjaan-pekerjaan seperti kasir, teller perbankan, resepsionis, tukang pos, operator pintu tol, agen perjalanan, hingga juru parkir diperkirakan akan hilang dan digantikan oleh mesin-mesin cerdas buatan manusia. Pada saat itu, yang paling dikhawatirkan adalah munculnya konflik global berkaitan dengan dampak disrupsi teknologi terhadap kehidupan manusia.***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama