Iklan

Pengakuan Pramoedya Ananta Toer
Soal Kudeta 1965 saat diwawancara Andre Vitchek dan Rossie Indira

Seorang penulis Tetralogi, dan sastrawan terkemuka Indonesia,  Pramoedya Ananta Toer memberikan informasi penting soal kudeta 1965. 

Pram digambarkan sosok yang ketika bicara tentang penindasan historis, politis, dan tak manusiawi, ia bicara tanpa tedeng aling-aling sebagai orang yang mengalami sendiri, berpendirian teguh dan bersemangat kemanusiaan. 

Saat diwawancara Andre Vitchek dan Rossie Indira dalam Buku "Saya Terbakar Amarah Sendirian," Pram mengungkapkan pandangannya soal tragedi kemanusiaan tahun 1965. Dan menurutnya kudeta 1965 bukanlah didalangi oleh PKI!.

Pram sebelumnya mengaku, awal dirinya mendengar berita itu dari radio. Pram merasa terheran-heran saat mendengar informasi kudeta 1965 didalangi oleh Partai Komunias Indonesia (PKI). Namun Pram menyadari, menurutnya pelakunya sendiri justeru merupakan militer sendiri. 

"Saya mendengar dari radio. Saya sangat terheran-heran, karena versi resminya yang dituduh melakukan kudeta tersebut adalah PKI (Partai Komunis Indonesia). Kok di tuduh PKI? Baru lama setelah itu saya menyadari bahwa yang melakukan hal ini adalah militer sendiri," ujar Pram. 

Menurut Pram, versi resmi kudeta 1965 yang menyatakan PKI-lah yang berusaha menggulingkan Soekarno, adalah versi yang aneh dan dinilannya sangat tidak realistik. Hal ini menurutnya, karena pada waktu itu PKI adalah partai yang sangat kuat dan juga partai yang mendukung Soekarno. 

"Ini malah dituduh melakukan pemberontakan. Pada waktu itu saya bingung sekali, dan selalu berpikir tentang hal ini sampai berbulan-bulan," ungkap Pram.

Seperti diketahui, kudeta 1965 memiliki banyak versi. Versi pertama, yang resmi adalah PKI-lah dalang G30S, bahwa PKI-lah yang menculik dan membunuh para jendral. Versi kedua adalah yang terwakili oleh "Cornell Paper," bahwa peristiwa G30S pada pokoknya merupakan konflik intern di tubuh angkatan darat. 

Namun demikian, ada pula versi lain yang sekarang mulai diadopsi oleh berbagai pihak di dunia, termasuk oleh para sejarawan terkemuka di Indonesia, bahwa kudeta tersebut dilakukan oleh salah satu faksi militer yang pro-Soeharto, dan didukung oleh Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. 

Mengenai hal tersebut, Pram setuju bahwa memang benar negara-negara barat ingin menggulingkan Soekarno karena Soekarno memegang erat prinsip anti-imperialisme, dan anti-kapitalisme. 

Pram mengatakan orang Barat benar-benar ingin menjatuhkan Soekarno, namun kemudian yang memiliki tujuan berkuasa memanfaatkan kesempatan dari adanya faksi di dalam militer yang terpecah antara pendukung Soekarno dan Soeharto.

Pram menjelaskan saat kudeta, salah satu faksi merencanakan dan melaksanakan pembenuhunan jendral-jendral, dan hal inilah yang memicu pembunuhan massal dan penekanan-penekanan yang dilakukan oleh pendukung Soeharto. 

"Korban-korban pada saat itu termasuk orang-orang komunis, Cina, dan pendukung Soekarno. Jadi menurut saya ini yang terjadi: Militer dan Soeharto melakukan kudeta dan kemudian menuduh orang lain yang melakukannya, kemudian mereka membunuh dua juta orang," jelas Pram. 

"Anda mengerti tidak? Mereka membunuh dua juta orang untuk balas dendam terhadap apa yang sebenarnya mereka lakukan sendiri," lanjutnya. 

Pram menggambarkan kudeta 1965 tersebut ibaratkan cerita tentang Kebo Ijo, Ken Arok, dan Tunggul Ametung pada Kerajaan Singasari. Setelah Tunggul Ametung dibunuh, Ken Arok mengambil-alih kekuasaan dan memerintahkan Kebo Ijo untuk dihukum mati. 

"Jadi memang sudah ada contohnya dari zaman dulu. Sejarahnya memang begitu," katanya. ***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama