Iklan

 

Ilustrasi negara/pixabay.com 

Max Stirner (1806-1856) memiliki nama lengkap Johann Kaspar Schmidt merupakan seorang filsuf Jerman yang terkenal dengan teorinya tentang individualisme radikal, terutama individualiame anarkisme. 

Mengutip populis.id, Stirner memberikan serangan besar-besaran terhadap dunia modern yang semakin didominasi oleh cara berpikir religius dan institusi sosial yang menindas. 

Stirner menentang, espektasi tentang bagaimana argumen politik dan filosofis harus dilakukan dan mengguncang kepercayaan pembaca pada superioritas moral dan politik peradaban kontemporer. 

Kock (1997) berpendapat bahwa penolakan individualistik Stiner terhadap landasan filosofis negara yang melampaui batas-batas filsafat Barat tradisional menghadirkan penolakan bagi epistemologi transendentalis.

Sementara itu Seul Newman dalam bukunya "Perang Melawan Negara" mengatakan Stiner menyingkap hubungan yang halus antara humanism (humanism), keinginan (desire), dan kekuasaan (power). 

Kritik Negara oleh Stiner

Seul Newman mengatakan Stiner melihat Negara sebagai sebuah abstraksi yang melampaui perbedaan manifestasi kongkritnya, namun secara bersamaan beroperasi melaluinya. 

Negara lebih dari sekedar institusi tertentu tang ada dalam tahap sejarah tertentu pula. Negara adalah prinsip abstrak dari kekuasaan dan otoritas yang selalu ada dalam berbagai bentuk berbeda, kadang kala lebih dari aktualisasi-aktualisasi khusus tersebut. 

Bagi Stiner, Negara pada dasarnya adalah bentuk institusi yang menindas. Menurut Stiner apa yang harus diwaspadai adalah gagasan tentang kekuasaan negara itu sendiri, prinsip berkuasa (ruling principle). 

Stiner menolak program-program revolusioner seperti dalam Marxisme, yang bertujuan untuk merebut kekuasaan negara ketimbang untuk menghancurkannya. 

Menurutnya negara pekerja Marxis hanya akan menjadi penegasan ulang atas negara melalui kedok yang berbeda (pergantian majikan). 

Menurut Stiner aksi revolusioner telah terjebak dalam paradigma negara. Aksi itu menyisakan perangkap dalam dialektika kekuasaan bahwa revolusi hanya berhasil mengganti satu bentuk otoritas dengan otoritas lainnya. 

Hal ini disebabkan karena teori revolusioner tidak pernah mempertanyakan hal yang mendasar yaitu gagasan tentang otoritas negara dan oleh karena itu teori revolusioner tetap berada dalam kekuasaannya. 

Stiner juga mengatakan bahwa negara tidak bisa direformasi karena negara tidak akan pernah bisa dipercaya. Stiner menolak gagasan Bruno Bauer tentang negara demokrasi yang tumbuh dari kekuatan rakyat. 

Bagi Stiner, Negara tidak akan pernah bisa dikendalikan oleh rakyat. Ia selalu memiliki logika dan agendanya sendiri yang mana hal tersebut sangatlah kejam dan akan segera berbalik melawan keinginan orang-orang yang bermaksud mewakilinya. 

Stiner mengemukakan bahwa ketika negara melindungi kepemilikan pribadi dan kepentingan borjuasi negara juga berdiri diatas dan mendominasi kekuatan-kekuatan tersebut.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama