![]() |
| Kesultanan Banten/kemendikbud.go.id |
Provinsi Banten dibentuk pada tanggal 4 Oktober 2000. Sebagai sebuah provinsi, Banten terbilang masih sangat muda. Namun, jika dilihat secara historis dan kultural, Banten memiliki jejak yang sangat jauh kebelakang.
Beragamanya tinggalkan budaya fisik maupun non fisik yang tersebar di wilayah Banten menjadi bukti tingginya peradaban Banten. Kekayaan itu membuktikan bahwa Banten telah melewati beberapa puncak peradaban yang berbeda-beda.
Banten Zaman Megalitik
![]() |
| Sumber foto: kemdikbud.go.id |
Tinggalan budaya megalitik masih dapat kita temui di banyak tempat di wilayah Banten. Tak hanya tinggalan fisik budaya megalitik saja, masyarakat Baduy di Leuwidamar juga menjadi bukti masyarakat Sunda yang menganut dan mengamalkan agama Sunda kuno pra Hindu.
Banten telah memiliki kebudayaan yang cukup tinggi. Inventarisasi dan penelitian peninggalan purbakala di Banten yang dimulai sejak abad ke-19 membuktikan akan hal tersebut, misalnya ditemukannya situs Lebak Sibedug di Cibeber dan Situs Kosala di cipanas Lebak Banten.
J.W.G I Prive, seorang kontrolir Belanda pada tahun 1896, seperti dikatakan Dr. Ali Fadilah, melaporkan adanya temuan bangunan kuno di dekat desa Citorek, Bayah yang kemudian dikenal sebagai bangunan punden berundak Lebak Sibedug tersebut.
Kemudian N.J. Krom yang dikutip Dr. Ali Fadillah dari buku berjudul Repotten Van der Oudheikudingen Dienst in Nederlandsch Indie tahun 1914 menyatakan bahwa diseputar Kabupaten Pandeglang ada peninggalan arkeologi berupa arca nenek moyang, beberapa kapak Batu dari hasil peninggalan arkeologi di Pamarayan (kolelet) dan Patung tipe polinesia di Tenjo.
Pendirian monumen-monumen Megalitik dengan beragam bentuk seperti punden berundak, arca, menhir, dolmen, dan batu bergores turut memperkaya budaya dan tradisi masyarakat Banten pada masa lalu.
Banten Masa Hindu-Budha
Kebudayaan Banten berkembang setelah bersentuhan dengan kebudayaan luar. Pengaruh kebudayaan dari luar tersebut datang dari India yang membawa ajaran Hindu-Budha. Dan masuknya pengaruh Hindu-Budha juga berdampak pada sistem sosial dan pemerintahan di Nusantara.
Menurut Dr. Ali Fadilah dalam buku berjudul Pusaka Budaya Banten, kerajaan Hindu pernah ada di Banten, yaitu kerajaan Banten Girang yang diperkirakan ada pada sekitar abad ke-10 dan abad ke-16. Namun, masuknya pengaruh Islam kemudian berdampak pada mundurnya pengaruh Hindu-Budha di Banten.
Banten Masa Kesultanan
![]() |
| Sumber foto: kemendikbud.go.id |
Kerajaan Banten Girang berada di bawah penguasa Islam, yang kemudian mendirikan kerajaan di sekitar Teluk Banten. Pusat kotanya dikenal dengan nama Surosowan yang kini disebut Banten Lama. Kerajaan Islam Banten ada dari abad ke-16 sampai dengan abad ke-19.
Dalam catatan-catatan lama, kota Banten Lama yang terletak di sekitar 10 km dari Kota Serang dahulu ramai dikunjungi oleh kapal dan para pedagang asing, dari Arab, Portugis, Cina, Persia, Suriah, India, Turki, Jepang, Filipina, Inggris, Belanda, Prancis, dan Denmark.
Selain, pedagang asing, pedagang-pedagang nusantara dari Maluku, Solor, Makasar, Sumbawa, Gersik, Juwana dan Sumatera ikut berdagang di Banten Lama.
Kini masa lalu Kesultanan Banten tersebut hanya menyisakan bukti-buktinya. Bukti peninggalan tersebut antara lain berupa bekas kompleks Keraton Surosowan yang dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanudin, Mesjid Agung Banten, Kompleks Makam Raja-Raja Banten dan keluarganya.
Kemudian, Mesjid Pecinaan Tinggi, Kompleks Keraton Kaibon, Mesjid Koja, Benteng Spelweejk, Kementerian Cina, Watu Gilang, Danau Tasikardi, Masjid dan Makam Sultan Kenari, Jembatan Rante dan lain sebagainya.
Selain peninggalan berbentuk bangunan, peninggalan dari Banten Lama juga berupa tinggalan-tinggalan lepas seperti keramik, (Cina, Jepang, Thailand, dan Eropa), tembikar, mata uang, dan lain-lain.
Kemunduran Kesultanan Banten
Kerajaan Islam Banten yang berbentuk kesultanan mengalami kemunduran setelah masuknya pengaruh VOC (Vereniging Oost Indie Compagnie), yaitu perkumpulan dagang Belanda di Indonesia (1602-1799) dan penjajahan kolonial Belanda.
Belanda kemudian menghancurkan pusat kota kesultanan dan memindahkan pusat pemerintahan ke Serang. Sedsngkan kekuasaan Belanda sendiri berakhir setelah mengalami kekalahan oleh Jepang pada tahun 1942.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)