Iklan


Macam-Macam Ritual Sesajen dalam Tradisi Masyarakat Banten 

Sebagai masyarakat yang multikultural, Indonesia memiliki banyak sekali tradisi dan kebudayaan, salah satunya tradisi sesajen. Saya pikir, tradisi sesajen hanya ada di masyarakat Jawa saja ternyata di Banten pun tradisi sesajen itu ada. Hal ini menarik, pasalnya, sesajen masih dianggap hal yang tabu oleh sebagian masyarakat. 

Sesajen sudah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak dulu. Namun sesajen masih menuai pro dan kontra di masyarakat. Bahkan ada yang menganggap bahwa tradisi ini sebagai hal yang sesat, tapi juga dianggap biasa oleh sebagian masyarakat lain. Akibatnya timbulah perdebatan, hingga penyelesaiannya harus di ranah hukum. 

Seperti peristiwa yang terjadi pada Januari 2022 yang lalu. Publik di media sosial dihebohkan oleh seorang pria yang menendang sesajen di Gunung Semeru Kabupaten Lumajang Jawa Timur. Pria itu menendang sesajen tersebut, dengan menuliskan kritikan. Hal ini pun membuat pria tersebut viral di media sosial dan dilaporkan ke polisi. 

Dalam caption yang diunggah dalam video tersebut, pria itu mengatakan: "Ini yang membuat murka Allah, jarang sekali disadari bahwa inilah yang mengundang murka Allah hingga menurunkan azabnya," kata pria yang bernisial HF itu yang dikutip dari kompas.com. 

Menurut saya, aksi tersebut tentu tidak pantas dilakukan. Kita harus menyadari, bahwa Indonesia memiliki banyak kebudayaan dan beragam tradisi sehingga hal itu lumrah dilakukan. Tradisi sesajen sudah dilakukan oleh masyarakat nenek moyang kita sejak dulu, sebagai bentuk kepercayaan keagamaan bahkan sebelum masuknya Hindu-Budha. 

Selanjutnya, ketika Islam masuk ke Nusantara (Indonesia) yang dibawa oleh para ulama pun juga tidak melarangnya, dan para Wali Songo saat itu justeru lebih bersikap toleran terhadap tradisi yang sudah ada sebelumnya. Islam masuk hanya merubah akidahnya, tanpa merubah tradisi yang ada. 

Aksi pria tersebut sangat tidak layak dilakukan, sikap yang harusnya dikembangkan oleh kita selaku bangsa Indonesia adalah toleransi dan saling menghormati. Bukannya menyalahkan satu sama lain, apalagi mengaitkan suatu musibah atau bencana dengan tradisi yang seolah sesajen dianggap penyebab musibah tersebut. 

Sesajen dalam Tradisi Masyarakat Banten  

Tradisi sesajen adalah ritual kepercayaan keagamaan terhadap adanya kekuatan gaib yaitu tuhan atau yang dianggap sebagai tuhan yang menguasai alam dan seluruh makhluk, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Keyakinan pada supranatural seperti roh, hantu, malaikat, alam gaib dan lain sebagainya memunculkan tindakan yang dilakukan oleh manusia untuk melakukan ritual-ritual tertentu. 

Hal tersebut dilakukan sebagai simbol kepatuhan, ketaatan, dan penghormatan terhadap supranatural tersebut. Sesajen biasanya digunakan dalam upacara adat dan tradisi keagamaan. Sesajen menjadi prasayarat penting yang harus ada dalam tradisi keagamaan tersebut. Sesajen memiliki banyak istilah seperti sajen, saji (Bahasa Indonesia). 

Dalam Bahasa Banten disebut Parawanten. Parawanten artinya makanan, yang bisa berupa buah, atau bunga dan lain sebagainya yang disajikan untuk makhluk halus (gaib) atau yang lainnya. Aryono Suyono dalam (Humaeni, 2021) menjelaskan sesajen atau sesaji sebagai suatu rangkaian makanan kecil, benda-benda kecil, bunga-bungaan serta barang hiasan yang disusun menuruti konsepsi keagamaan sehingga merupakan lambang atau simbol yang mengandung arti. 

Tradisi sesajen tak hanya dilakukan masyarakat Jawa secara umum. Tapi seluruh masyarakat Indonesia memiliknya termasuk Banten. Sebelum mendapatkan pengaruh Islam, Banten mengalami zaman Hindu-Budha, hal ini dibuktikan dengan ditemukannnya peninggalan-peninggalan situs sejarah salah seperti prasasti peninggalan pada masa kerajaan Tarumanegara. Kemudian juga prasasti munjul di Pandeglang Banten. Perjalanan historis Banten ini turut mempengaruhi tradisi dan kebudayaan yang ada.

Sesajen dalam Ritus Peralihan Masyarakat Banten

Apa itu ritus peralihan? Ritus Peralihan atau Ritus of pasage adalah serangkaian ritual yang membawa seseorang dari satu status sosial kepada status yang lain, seperti dari masa remaja ke dewasa, dari status single ke status menikah, dari status siswa ke sarjana, dari status magang ke status anggota pekerja buruh, dan dari kehidupan ke kematian. 

Sesajen dalam Ritus peralihan masyarakat Banten dikenal dalam berbagai tradisi yaitu sesajen dalam ritus masa hamil,  sesajen dalam ritus kelahiran, sesajen dalam ritus inisasi, sesajen dalam ritus perkawinan dan sesajen dalam ritus kematian. 

Misalnya, dalam sesajen ritus perkawinan yaitu terdapat sesaji dan ritual seperti tradisi saweran, pemasangan janur kuning, perebutan bakakak ayam oleh kedua mempelai, dan berbagai jenis makanan, lauk-pauk, kue dan buah-buahan disuguhkan dalam acara tersebut. Hal ini, juga merupakan bentuk dari sesajen. 

Sesajen dalam Ritus Laut

Masyarakat Banten juga mengenal sesajen lainnya yang disebut sesajen ritus laut. Ruwat Laut atau pesta laut merupakan tradisi tahunan masyarakat nelayan, seperti tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Carita Kecamatan Carita, Masyarakat Kabupaten Pandeglang dan masyarakat di Pantai Pasauran Kec. Cinangka Kabupaten Serang Banten. 

Tujuan dari Ruwat Laut ini adalah selain merupakan salah satu adat istiadat nelayan di kawasan pantai, juga merupakan cerminan rasa syukur kepada kebesaran Allah SWT atas hasil tangkapan ikan yang mereka dapatkan serta dalam rangka kelestarian budaya adat masyarakat. Ritual ini dilakukan setahun sekali. 

Tradisi sesajen Ruatan Laut sudah ada sejam zaman nenek moyang mereka. Namun, ruwat laut sekarang tidak ada makanan khusus, berbeda dengan dulu dimana kerbau, sesaji nasi kuning dan beberapa makanan khusus lain diharuskan ada. Sekarang tidak ada, oleh tokoh keagamaan menganggap ruwatan laut dengan membuang makanan ke laut itu mubazir dan bertentangan dengan ilmu atau kaidah keagamaan. 

Sesajen Ritus Sedekah Bumi

Ruwatan bumi merupakan salah satu upacara adat masyarakat agraris yang sampai saat ini masih dilakanakan oleh masyarakat Banten, tepatnya di kampung Kemuning Serang. Ruwatan berasal dari kata rawat atau merawat yaitu mengumpulkan seluruh masyarakat kampung serta mengumpulkan semua hasil bumi, baik yang masih mentah maupun yang sudah diolah. 

Sesajen dan bahan-bahan dan perlatan yang diperlukan dalam tradisi ini terdiri atas perlatan ritual (menyan, setangki, atau sejenisnya, bara api, air putih, kitab-kitab bacaan ritual); dan bahan-bahan masakan (peralatan masak, rempah-rempah, buceng, makanan ringan, kambing jawa berusia tiga tahun, dan padi/nasi). 

Sesajen dalam Ritus Ruwat Rumah

Masyarakat Banten memilki tradisi upacara adat tersendiri ketika hendak mendirikan rumah dan pindah rumah baru. Tradisi ini dilakukan dengan menggunakan peralatan dan prosesi tertentu, baik pada saat akan mendirikan rumah maupun rumah baru tersebut hendak ditempati. 

Seseorang yang mau melaksanakan ritual Ruwat Rumah, selain harus mempersiapkan peralatan atau keperluan pada saat acara berlangsung ada barang yang harus dipersiapkan oleh pelaku ritual yaitu "amcak". 

Amcak adalah penyebutan keseluruhan dari barang-barang yang akan digunakan pada saat acara berlangsung, akantetapi untuk meletakan amcak ini biasanya pelaku ataupun pemilik rumah memsangnya terlebih dahulu, dimana tempat peletakan yang digunakan adalah diatas atap rumah yang akan di Ruwat. 

Adapun barang-barang yang terdapat dalam Amcak yaitu batang tebu, buah jebug/buah pinang, pisang kepok, daun andong, kelapa muda, daun sirih dan apu. Tradisi ini sudah dilakukan secara turun temurun di beberapa wilayah Banten. ***

Referensi: Ayatullah Humaeni, 2021. Sesajen: Menelusuri Makna dan Akar Tradisi Sesajen Masyarakat Muslim Banten dan Masyarakat Hindu Bali, LP2M UNI SMH Banten. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama