Iklan


Desain Pertama Lambang Negara yang Dibuat oleh Sultan Hamid II

Tepat pada hari ini 1 Oktober 2022 diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Hari Kesaktian Pancasila merupakan hari nasional yang diperingati setiap 1 Oktober sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 153 Tahun 1967. Ini terjadi setelah Peristiwa Gerakan 30 September yang lebih dikenal sebagai G30S atau G30S/PKI.

Sudah banyak media yang menulis artikel tentang sejarah Hari Kesaktian Pancasila. Namun, pada artikel ini saya akan membahas bagaimana sejarah pembuatan lambang Garuda Pancasila, yang ternyata sosok Garuda dengan lima lambang perisainya itu muncul pertama kali tahun 1950, pasca pengakuan kedaulatan RI dalam konferensi Meja Bundar di Den Haag 1949.

Lalu bagaimana awal mula bentuk Garuda Pancasila dan Siapa yang membuatnya? 

Berawal dari Sayembara

Dirasa perlu adanya penyusunan lambang resmi negara, awal tahun 1950, pemerintah pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS) menyelenggarakan sayembara desain lambang negara yang kemudian dimenangkan oleh Sultan Hamid II, putra Sultan Pontianak ke-6. 

Desain pertama lambang garuda/dok.pribadi 

Desain pertama, seperti terlihat pada gambar di atas, dimaknai sebagai sosok garuda tunggangan suci dewa wisnu yang mengacu pada arca dan relief di candi-candi kuno seperti Perambanan, Mendut, Penataran, Sukuh dan lain sebagainya.

Sang garuda berdiri diatas tahta bunga teratai dengan dada terlindung oleh perisai. Pada perisai itu, perlambang yang digunakan berbeda dengan perlambang Pancasila yang kita kenal sekarang. 

Di sana tidak ada gambar bintang dan rantai. Yang kita temukan hanya gambar keris, pohon beringin, kepala banteng, dan tiga batang padi. Tidak kita temukan juga sehelai kain bertuliskan "Bhineka Tunggal Ika".

Perubahan Pertama Lambang Garuda

Setelah ditetapkan sebagai pemenang sayembara, Sultan Hamid II kemudian berdialog dengan Presiden Soekarno dan Mohamad Hatta. Soekarno meminta desain lambang itu diperbaiki dengan mencantumkan lima lambang negara yang kita kenal sekarang. 

Selain itu, ditambahkan juga sehelai kain yang bertuliskan "Bhineka Tunggal Ika". Sang garuda kini digambarkan memiliki sepasang tangan yang memegang erat-erat perisai Pancasila.  

Desain Lambang Garuda perubahan yang pertama/dok.pribadi

Perubahan Desain Kedua

Setelah mendapat beberapa masukan, maka lambang tersebut diperbaiki lagi. Kali ini gambar tangan ganda itu dihilangkan dan penggambaran kepalanya diperbaiki. Pada sebuah acara di Hotel Des Indes Jakarta, di tanggal 15 Februari 1950 Soekarno memperkenalkan desain itu pada masyarakat. Berikut adalah gambar lambang setelah perubahan yang kedua. 

Perubahan Lambang Garuda kedua 15 Februari 1950/dok.pribadi

Perubahan Ketiga Lambang Garuda

Desain lambang garuda itu dirasa kurang cukup. Penggambaran kepala garuda dianggap kurang mencerminkan kekhasan seperti dalam cerita-cerita rakyat yang berkembang di Nusantara, tetapi kepala garuda pada lambang tersebut mirip burung elang botak yang menjadi lambang negara Amerika Serikat.

Maka setelah mendapat masukan, kemudian ditambahkan jambul didepan dan belakang kepala garuda. Soekarno meminta kepada Dullah, pelukis istana, untuk menggambar ulang desain buatan Sultan Hamid II itu dengan itu dengan mengubah posisi cakar yang semula mencengkram dari belakang helai kain menjadi nampak dari depan helai kain.

Desain yang Telah Diperbaiki Dullah dan Sultan Hamid II serta
Disakan pada bulan Maret 1950

Lantas, Sultan Hamid II menjalankan penyelarasan akhir atas desainnya dengan memperbaiki tata warna dan skala. Versi terakhir inilah yang kemudian dijadikan sebauh patung perunggu berlapis emas yang ditempatkan di Ruang Kemerdekaan Museum Nasional dan dijadikan acuan resmi Garuda Pancasila sebagai lambang negara sampai sekarang.***

Referensi: 

Panitia Peringatan Hari Lahir Pancasila 2017, Kisah Pancasila, Direktorat Jendral Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama