Iklan

Ilustrasi/pixabay.com 

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII hingga saat ini masih eksis di berbagai kampus. Sebagai organisasi mahasiswa ia tetap konsisten dalam upaya menciptakan pemimpin unggul, intelektual dan berkarakter. 

Nilai-nilai kepemimpinan PMII berlandaskan pada ideologi Ahlusunnah Waljamaah dan Nilai-Nilai Dasar Pergerakan (NDP). Nilai-nilai itu kemudian dirumuskan menjadi semboyan organisasi dan menjadi tolok ukur pemimpin yang ideal bagi PMII. 

Ya, menurut saya, tolok ukur pemimpin ideal PMII terletak pada tiga semboyan itu yaitu apa yang sering kita sebut sebagai trimottto yaitu dzikir, pikir dan amal soleh; trikhidmat yaitu taqwa, intelektual profesional; dan trikomitmen yaitu kejujuran, keadilan dan kebenaran. 

Dalam kepemimpinan diharapkan melalui pendidikan di PMII, mereka bisa menjadi seorang pemimpin sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam semboyan tersebut. Semboyan tersebut hendaknya dilaksanakan oleh kader terutama oleh orang yang saat ini sedang menjabat sebagai pimpinan di masing-masing level PMII. 

Lalu seperti apa pemimpin ideal bagi PMII,? Pemimpin yang ideal bagi PMII adalah dia yang bisa menyeimbangkan antara ilmu dan amal. Ia tak hanya memahami hubungannya dengan tuhannya, tetapi ia peduli terhadap sosial dan lingkungannya. Ia juga bertanggungjawab dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Tolok ukur pemimpin ideal bagi PMIIi terletak pada setiap semboyannya. Semboyan pertama adalah trimotto yang terdiri atas dzikir, pikir dan amal soleh. Dzikir artinya amalan hati agar selalu mendekatkan diri kepada Allah dan agar kita juga senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. 

Pikir artinya berkaitan dengan aktivitas kita dalam mencari ilmu, artinya seorang pemimpin harus gandrung akan ilmu pengetahuan. Dia haruslah seorang pembelajar, senang diskusi, membaca buku dan terus menggali pengetahuan-pengetahuan baru. 

Selanjutnya amal soleh. Amal soleh memiliki kedudukan amat penting dalam organisasi. Munafik berbicara ideologi tanpa implementasi. Amal soleh berkaitan dengan perbuatan kita dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu hendaknya diamalakan dan amalan soleh adalah amalan yang didasari oleh ilmu dan cinta kebenaran. 

Antara trimoto, trikhidmat dan trikomitmen, adalah satu kesatuan yang saling berhubungan. Miris memang! Masalahnya masih banyak kader PMII yang belum memahami betul soal ini, kita terkadang terjebak pada pemikiran ideologi tapi tidak pernah sampai pada aksi. 

Dzikir korelasinya dengan tqwa, dan taqwa korelasinya dengan kejujuran. Pikir korelasinya dengan intelektual, dan intelektual korelasinya dengan keadilan. Amal soleh korelasinya dengan profesional dan profesional korelasinya dengan kebenaran. Maka ciri pemimpin ideal itu ada tiga. 

Pertama pemimpin bagi PMII hendaknya ia selalu berdzikir karena dengan dzikir ia akan bertaqwa dan dengan taqwa akan melahirkan perbuatan atau sikap jujur. "Kepemimpinan adalah inteligensi yang dibungkus dengan iman," demikian,,, kata Dean Tantyo.

Kedua, pemimpin ideal hendaknya ia selalau berpikir, dengan berpikir ia akan menjadi intelektual dan dengan intelektuaknya ia akan melahirkan perbuatan adil. "Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, dan jadikan setiap orang sebagai guru," demikain kata KH. Dewantara.

Ketiga, pemimpin harus senantiasa beramal soleh, dengan amal soleh ia akan profesional dan profesional akan melahirkan perbuatan benar. "Ilmu tanpa amalan bagaikan pohon tidak berbuah, beramalah meskipun sekecil ijazah,".

Sekali Lagi Soal Pemimpin Bagi PMII "Leadership Mentality"

Meskipun kita umpamanya bukan seorang pimpinan organisasi. Tapi ketauhilah bahwa setiap orang adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Suka tidak suka, setiap orang yang hidup sesungguhnya terlibat dalam proses kepemimpinan. Paling tidak ia dituntut untuk memimpin dirinya sendiri untuk survive. 

Leiden is Lijden. Memimpin adalah mengambil risiko hidup tak nyaman. Ia menjadi orang yang paling bertanggung jawab merubah keadaan, memberikan jalannya sejarah. Ia akan ditempa dan dicoba hingga daya tahan merubahnya jadi pemimpin yang benar-benar beda. Saat ia mampu melewati itu, saat itulah ia menjadi pemimpin besar.

Pemimpin juga soal mental. Semakin kuat mental, semakin mampu seseorang menghadapi ujian hidup. Semakin kuat jiwanya, Semakin kuat pula energi kepemimpinan. Barang siapa yang bersikap lunak pada dirinya, maka kehidupan akan bersikap keras pada dirinya. Barangsiapa yang keras pada dirinya, dunia akan lunak di harapannya. 

Bisakah kita bayangkan bagaimana jika kader PMII memiliki jiwa-jiwa pemimpin. Bukan sekedar berebut kursi PC, PKC atau PB, jiwa pemimpin itu beda dengan jiwa ambisi jabatan organisasi. Tapi manusia berjiwa besar sadar bahwa tugas kepemimpinan pertama adalah jiwanya sendiri. Ia tak akan pernah mampu mengubah orang lain, jika belum selesai dengan dirinya. Ia tak akan mampu memimpin orang lain jika tak mampu memimpin diri sendiri.

Pemimpin Lahir dari Tantangan 

Pak Natsir pernah berkata, tidak ada sekolah pemimpin, tak ada ijazah pemimpin. Pemimpin tak pernah lahir di dalam kelas, pemimpin lahir dari tantangan-tantangan. 

"Dimana-mana tidak ada sekolah pemimpin, tak ada ijazah pemimpin. Pemimpin tidak bisa dicetak, atau di SK-kan. Sebab, pemimpin itu tumbuh di lapangan, yakni setelah berinteraksi dengan tantangan di masyarakat. Bila seseorang memang berbayar menjadi seorang pemimpin dan mendapat tantangan, ia akan menggunakan seluruh kemampuan dan ilmu yang dikuasainya untuk menghadapi tantangan itu," (Mohamad Natsir). 

Pemimpin lahir setelah beinteraksi dengan tantangan, kemudian tumbuh dari mental yang ditempa. That the real leadership. Respon terhadap tempaan menjadi seleksi bagi seseorang yang menjadikannya Leader or loser, because leader is action, not position. 

Tahu Katsumoto di film Last Samurai? Ingat saat tentara Jepang tak menggubris perintah komandannya untuk menembak Katsumoto, seorang samurai yang berjuang mempertahankan bangsanya? Nilai Katsumoto terlanjur melambung tinggi. Daya mentalnya menembus hingga ke dada tentara yang saat itu menjadi lawannya. Terbukti ketika kematiannya para tentara memberikan penghormatan terakhir. 

Mental menjadi akar dari sebuah kepemimpinan, itulah yang kemudian membedakan pemimpin dengan pimpinan. Pimpinan dilahirkan dari posisi dan jabatan, tapi pemimpin lahir dari jiwa yang jatuh bangun ditabrak oleh kehidupan. 

Leadership Mentality adalah semacam daya penarik yang lahir dari dalam dada. Mereka yang memiliki daya penarik ini akan membuat orang-orang semakin lekat padanya tanpa dipaksa-paksa atau tanpa dibuat-buat, sehingga timbul hubungan yang kekal dan loyal. 

Saat kita memutuskan untuk memimpin, yakinlah bahwa magnet diri kita tergantung pada seberapa kuat mental kita. Tak perlu menjual diri agar orang mengikuti kehendak kita, pemimpin yang kokoh akan otomatis dipercaya oleh para pengikutnya. Trust me it work! .....

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama