Iklan

Ilustrasi/Imam Syafii saat menjelaskan tentang Iman, Qadha dan Qadar (sumber: Biografi Imam Syafi'i)

Saya pernah diskusi dengan teman saya saat masih aktif di organisasi Pergerakan Mahsiswa Islam Indonesia (PMII). PMII adalah organisasi Islam yang mengaku sebagai Ahlusunnah Waaljamaah. 

Salah satu yang sering dibincang di PMII adalah soal Islam yang menjadi dasar pergerakan organisasi PMII sendiri. PMII secara akidah sama seperti Nahdlatul Ulama (NU) karena PMII merupakan representasi NU itu sendiri.

Dalam akidah, PMII merujuk pada dua imam yaitu Imam Abul Hasan Al-Asy'ari dan Imam Mansyur Al-Maturidi. Dalam fiqihnya kepada empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali), dan tasawufnya kepada dua imam yakni Imam Junaedi Al-Baghdadi dan Imam Al-Ghozali. 

Ada satu pertanyaan yang menarik ketika saya diskusi. Salah satu kader PMII mempertanyakan akidah para fuqoha salah satunya Imam Syafii. Jadi apakah akidah imam Syafii itu? Bagaimana pendapatnya soal akdiah? 

Sebelumnya perlu kita ketahui, bahwa ada tiga hal penting yang menjadi ajaran pokok agama Islam yakni soal akidah (ilmu qalam), Syariah (fiqih) dan akhlak (tasawuf). 

Salah satu mazhab fiqih yang menarik untuk dikaji adalah soal mazhab Imam Syafii. Syafii adalah seorang intelektual muslim yang terkenal dengan keluasan ilmu dan ketinggian akhlaknya.

Imam Syafii hidup selama 54 tahun tepatnya diawal berdirinya Dinasti Abbasiyah. Pada masa ini kekuasaan sangat kokoh dan kondisi politiknya juga cukup stabil.

Pada masa ini  semua peradaban masa lalu saling bertemu seperti peradaban Hindu, peradaban Persia dan Yunani dibawah naungan agama baru. 

Tak hanya itu, pada masa ini  juga adalah masa kesuburan dan produktivitas akal, kebebasan berpikir, berbicara dan berpendapat. 

Kemunculan mazhab-mazhab dan aliran-aliran bisa dilihat pada masa ini. Filsafat, ilmu pengetahuan, sastra dan kebudayaan banyak dialih bahasakan dari bahasa Yunani dan Persia ke bahasa Arab. 

Masa Imam Sayfii merupakan masa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, masa pertemuan segala peradaban, kodifikasi ilmu dan masa penentuan kaidah-kaidah dasar setiap disiplin ilmu. 

Ini adalah masa kejayaan Islam yang paling gemilang di bidang peradaban dan ilmu pengetahuan. Syafii turut meramaiakan perhelatan ilmiah dan mulai menggeruk keuntungan dari khazanah ilmu yang mahakaya ini. 

Dengan membawa pendapat-pendapat dan mazhabnya, ia mulai menunjukan jati dirinya di tengah masyarakat yang hidup dinamis kala itu. 

Syafii dan Ilmu Kalam

Kemajuan ilmu pengetahuan menjadi ciri khas pada zaman Imam Syafii, tapi penyimpangan dalam pemikiran juga mulai bermunculan. Pada zaman Syafii, banyak bermunculan berbagai pemikiran dan aliran-aliran. 

Pada masa itu tumbuh satu disiplin ilmu yang disebut sebagai ilmu yang disebut sebagai ilmu kalam yang fondasi dasarnya didirikan oleh Mu'tazilah. 

Orang-orang mulai mengalami satu euphoria dalam ilmu kalam. Mereka mulai memperbincangkan tema kalam (berbicara): apakah "kata" merupakan salah satu sifat Allah atau bukan.

Dalam masalah Al-Qur'an, pendapat mereka juga saling bersebrangan satu sama lain. Ada yang berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah makhluk, ada pula yang berpendapat bahwa Al-Qur'an bukan makhluk. 

Mereka juga mulai merambah satu perdebatan tentang sifat-sifat Allah. Ada yang berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu sebenarnya hanya sekedar makna bukan zat Allah sendiri. 

Ada juga yang berkata bahwa sifat-sifat tersebut sama dengan zat Allah karena menurut mereka, Allah tidak bisa dikenali kecuali melalui sifat-sifat-Nya.

Orang-orang dari kelompok jabariah juga mulai berbicara tentang qadha dan qadar (keputusan dan ketetapan Allah), serta tentang kehendak dan keinginan manusia yang berjalan beriringan dengan ketetapan Allah. 

Belum lagi aliran-aliran politik yang juga bermunculan kala itu, seperti Syi'ah, Khawarij dan kelompok Abbasiyyin. Ada tiga pendapat Imam Syafii tentang Ilmu Kalam  yaitu sebagai berikut:

Al-Qur'an Bukan Makhluk

Syafii berpendapat seperti pendapat para fuqoha dan ahli hadist, yaitu Al-Qur'an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, dalil yang dijadikan sandaran adalah firman Allah, "Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung, (QS. An-Nisa: (4): 164). Keyakinan Imam Syafii tentang Al-Qur'an adalah ia kalam Allah, bukan makhluk atau tidak diciptakan. 

Kemungkinan Melihat Allah 

Sebagian besar ulama salaf sepakat bahwa ahli Surga kelak akan melihat Allah secara langsung, berdasarkan firman Allah, "Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat" (QS. Al-Qiyamah (75): 22-23).

Dalam hadist yang diriwayatkan Muslim dari Shuhaib, bahwa Rosulullah bersabda, "Jika ahli surga telah masuk ke surga, Allah akan berkata, "Apa kalian menginginkan tambahan dari-Ku?, mereka menjwab, "Bukankah Engkau telah membuat wajah kami berseri? Bukankah Engkau telah memasukan kami ke Sruga dan menyelematkan kami dari neraka?,". Rosulullah melanjutkan, "Allah lalu membuka hijab-Nya. Maka, mereka pun tidak diberikan sesuatu yang lebih mereka cintai dari kesempatan melihat wajah Tuhannya dengan langsung,". 

Pendapat imam Syafii tentang masalah ini sama dengan pendapat sebagian besar ulama salaf, yaitu para wali Allah akan melihat Tuhannya pada hari akhir. Syafii menuturkan, "Jika orang-orang kafir dihalangi tirai sehingga mereka tidak bisa melihat wajah Allah, tentu hal ini menunjukan bahwa para wali Allah akan diberi kesempatan melihat wajah-Nya dalam keridhoan,".

Pendapat imam Syafii sama dengan pendapat sebagian besar ulama, yaitu para wali akan melihat wajah Tuhannya pada hari akhir sebagai karunia dan penghormatan Allah terhadap mereka. Sementara orang-orang kafir akan dihalangi tirai sehingga mereka tidak bisa melihat Allah sebagai hukuman dan sanksi Allah kepada mereka.

Qadha dan Qadar

Syafii juga percaya adanya qadha dan qadhar, baik dan buruknya. Dari khutbah Syafii, al-Razi menyimpulkan Syafii berpendapat bahwa Allah menciptakan af'al (perbuatan-perbuatan) manusia dengan kehendak-Nya dan dengan usaha manusia sendiri. 

Al-Rabi meriwayatkan dari Syafii bahwa ia berkata, "Manusia tidak menciptakan perbuatannya sendiri, tetapi Allah-lah yang menciptakannya,". "Ia melandaskan pendapatnya dari ayat Allah, padahal Allahlah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian perbuat itu," (QS. Ash-Shaffat (37): 96).

Namun, Imam Syafii tidak menaifkan kebebasan manusia dalam berbuat. Atas dasar itulah hisab berlaku bagi setiap amal mereka. Manusia berhak memilih dan berkehendak, tetapi semuanya berada dalam kerangka kehendak Allah dan pilihan-Nya. Karena Allah adalah pencipta manusia dan pencipta perbuatannya.

Syafii berpendapat qadha dan qadhar Allah bersumber dari keimanannya kepada Allah. Ia berpendapat bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah, bukan kehendak atau ciptaan mereka sendiri. 

Iman

Syafii berkata, "Iman adalah kepercayaan yang disertai perbuatan,". Ia sangat mengukuhkan pendapatnya ini, bahkan menyeru semua orang untuk mengikutinya. Jika iman mencakup kepercayaan dan perbuatan maka ia akan bertambah atau berkurang tergantung kadar perbuatan. 

Syafii melandaskan pendapatnya ini dengan beberapa dalil, di antaranya adalah ketika Allah mengalihkan kiblat kaum Muslim dari Baitul Maqdis ke Mekkah, ada satu kaum yang berkata, "Bagaimana pahala sholat kita dahulu saat masih menghadap Baitul Maqdis? menjawab pertanyaan ini, Allah menurunkan ayat, "Dan sungguh pemindahan kiblat itu terasa amat berat, kecuali bagi beberapa orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan Allah tidak menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia," (QS. Al-Baqarah (2): 143).

Al-Rabi berkata, " Aku mendengar Syafii berkata, "Iman itu ucapan dan perbuatan". Ia bisa bertambah dan bisa pula berkurang,". 

Begtulah Syafii menegaskan akidahnya sekaligus pendapatnya dalam beberapa masalah yang banyak diperdebatkan oleh para ulama ilmu kalam, tanpa harus menggelutinya secara mendalam atau masuk ke dunia filsafat yang banyak menyesatkan pemahaman manusia dan membingungkan akal.***

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama