![]() |
| Budaya dan Agama/ilustrasi/pixcel.com |
Kadang orang masih mempertanyakan antara budaya dan agama. Setiap orang memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap keduanya. Perbedaan itulah yang kemudian menimbulkan perdebatan. Masing-masing saling melempar pertanyaan dan memberikan jawaban menurut pemikirannya.
Salah satu pertanyaan yang memicu perdebatan tersebut bukan tentang budaya atau pun agama. Misalnya, apakah budaya itu? atau apakah agama itu? Tidak demikian, karena mereka menanggap pengertian agama dan budaya sudah memahaminya masing-masing.
Mereka langsung mempertanyakan keduanya, contoh, "duluan agama atau duluan budaya,?" Pertanyaan inilah yang seringkali saya temukan dalam kegiatan diskusi di lingkungan mahasiswa. Menurut saya, pertanyaan ini membutuhkan pemahaman terhadap keduanya.
Variabelnya ada dua yaitu budaya dan agama. Keduanya variabel ini sifatnya umum, artinya keduanya merupakan cabang ilmu pengetahuan yang memiliki objek kajiannya masing-masing. Namun agama dan budaya itu tidak bisa dipisahkan karena keduanya melekat dalam diri manusia.
Perdebatan dimulai dengan argumen dari pihak pro terhadap budaya, bahwa menurutnya budayalah terlebih dahulu, baru kemudian agama. Sedangkan dari pihak yang pro kepada agama, menurutnya agamalah yang terdahulu karena agamalah yang membentuk kebudayaan.
Kita mungkin pernah mendengar perdebatan semacam ini. Perdebatan semacam ini saya temukan pada saat saya diskusi di organisasi. Jika kita diskusi dengan teman kita soal ini, mungkin tensinya bisa semakin tinggi, tapi bagaimana jika diskusinya dengan senior kita? Saya yakin senior akan selalu benar dan tidak akan ada perdebatan panjang.
Saya pun dulu demikian, tapi melalui tulisan ini saya akan menyampaikannya yang insyaallah bisa dipertanggungjawabkan. "Sampaikanlah ilmu itu walaupun satu ayat," demikian hadistnya. Dan "Jadikanlah setiap tempat adalah sekolah, dan setiap orang adalah guru," ujar tokoh pendidikan kita, KH. Dewantara.
Untuk mencapai pemahaman bagaiaman kedudukan agama dan budaya dalam diri manusia, sudah saya katakan kita harus memahami keduanya. Pahami dan mengerti apa itu Budaya dan apa itu Agama,? baru kemudian kita akan mengetahui bagaimana hubungan keduanya,? Maknai keduanya dengan bijaksana, jangan hanya salah satu saja.
Yang saya temukan, memang kebanyakan orang ketika dihadapkan pada persoalan agama dan budaya, mereka akan cenderung menjelaskan bahwa budaya dilahirkan dari agama. Agamalah yang membentuk kebudayan dan peradaban manusia. Benarkah demikian, lalu bagaimana dengan mereka yang kita sebut sebagai ateis (tidak beragama), faktanya merekalah yang lebih maju.
Agama dan budaya hanya dimiliki oleh manusia. Agama dan budaya menjadi pembeda antara manusia dan hewan. Hanya manusialah yang memiliki agama dan hanya manusialah yang memiliki budaya. Manusia berbuat baik karena ia beragama, dan satu hal yang lebih penting yaitu hanya makhuk yang berbudayalah yang memiliki agama, yaitu manusia.
Baik, kita kerucutkan pada agama Islam, agar pembahasan kita mudah dimengerti. Islam memiliki pedoman yaitu kitab Al-Qur'an dan Hadist. Penjajahan Agama Islam dibagi kedalam Akidah (tauhid), Syariah (fiqih) dan Muamalah (tasawuf). Pertanyaan soal budaya dan agama akan kita bahas dalam sudut pandang Akidah dan Syariah.
Saya pernah mengikuti pesantren ngaji kitab kuning. Pada waktu itu saya ngaji kitab Kifayatul Awam, di mana kitab ini membahas tentang pokok-pokok agama yakni tauhid. Tauhid berarti mengimani sifat dan dzat Allah yang dikenal dengan sifat duapuluh (wajib, mustahil, dan jaiz). Dalam kitab ini disebutkan bahwa tentang metode atau cara memahami sifat-sifat tersebut.
Menurut Kitab tersebut, metode dalam memahami sifat-sifat Allah SWT itu ada tiga yaitu wajib akal, jaiz akal dan mustahil akal. Saya tidak akan menjelaskan ketiga-tiganya, tapi hanya salah satunya saja. Misalnya wajib akal, artinya wajib bagi akal untuk mengimani tentang sifat-sifat Allah. Artinya akal memiliki kedudukan pertama dalam bertuhan (beragama).
Akal adalah syarat wajib bagi manusia menuju iman. Maka tidak sah bagi seseorang yang tidak berakal untuk beriman. Siapa yang tidak berakal itu? misalnya, orang yang mengalami gangguan jiwa. Maka bagi orang yang memiliki gangguan jiwa (gila) iya tidak wajib mengimani. Menurut hukum syariah (fiqih) tidak wajib bagi orang yang tidak berakal untuk melaksanakan sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya.
Lalu bagaimana kesimpulannya?
Kesimpulannya jika logikanya orang yang beragama syaratnya harus berakal, maka budaya adalah syarat orang mengapa harus beragama. Budaya asal katanya "buddhayah" yang merupakan bentuk jamak dari buddhi artinya akal, atau hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dengan demikian, selain Budaya itu sendiri sebagai syarat orang beragama, budaya juga bisa memperindah seseorang dalam berbuat segala hal. Kata segala hal disini memberikan pengertian umum yang membentuk istilah "kebudayaan" yang mana kebudayaan itu mencakup segala aspek kehidupan manusia.
Koentjaraningrat dalam bukunya Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan membagi kebudayaan tersebut kedalam tujuh unsur kebudayaan yaitu sistem religi, sistem organisasi, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan.
Sedangkan wujud kebudayan menurut Koentjaraningrat yaitu ada empat yaitu kebudayaan sebagai nilai ideologis, kebudayaan sebagai sistem gagasan, kebudayaan sebagai sistem tingkah laku dan tindakan yang pola, dan kebudayaan sebagai benda fisik (artifak).
Secara garis besarnya kita bisa membagi kebudayaan itu menjadi dua yaitu fisik dan nonfisik. Keyakinan kita kepada Allah SWT itu non fisik karena merupakan sistem nilai, sedangkan sarana atau fasilitas yang kita gunakan seperti Masjid, pakaian, speaker, bedug, dan lain sebagainya maka itu adalah wujud kebudayan fisik.
Jadi antara budaya dan agama adalah satu kesatuan, yang harus ada dalam diri manusia. Al-Qur'an tidak mungkin kita pahami jika kita sendiri tidak memiliki akal, maka akal menjadi kunci agar kita bisa mengambil pelajaran (ilmu) dalam Al-Qur'an tersebut, yang akan menuntun kita kepada kehidupan yang bahagia dunia dan akherat.
Demikain,,, semoga bermanfaat...
