![]() |
| Hadji Oemar Said Tjokroaminoto |
Hallo,,, teman-teman kembali lagi pada artikel saya kali ini. Semoga teman-teman tidak bosan dengan tulisan yang ancur ini, saya masih belajar menulis, semoga dapat maklum, tapi saya juga ingin berbagi pengetahuan ...
Kali ini kita akan membahas tentang salah satu tokoh pergerakan, pahlawan nasional Indonesia yakni H.O.S Tjokroaminoto. Kita mengenalnya ia adalah gurunya dari Soekarno, Simaun, dan Kartosuwiryo.
Tjokroaminoto memang luar biasa mampu melahirkan murid yang ketiganya memiliki jalan pikiran yang berbeda. Simaun yang kiri (sosialis-komunis), Kartosuwiryo yang kanan (agamis), dan Soekarno yang nasionalis.
Tapi bagaimana dengan Tjokroaminoto sendiri? Nah, inilah yang akan menjadi inti pembahasan kita. Tapi, sebelum membahasnya lebih lanjut, kita akan membahas terlebih dahulu tentang jejak hayat dan perjuangannya.
Siapa Tjokroaminoto itu?
Nama lengkap Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, kelahiran Ponorogo, Rabu, 16 Agustus 1882, Desa Bukur, Madiun, Jawa Timur. Tjokroaminoto menamatkan sekolah di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) tahun 1990.
H.O.S Tjokroaminoto pernah menjabat sebagai ketua Sarekat Islam (SI) sejak Mei 1912. Karena pergerakannya yang dianggap membahayakan, ia ditangkap Belanda pada Agustus 1921, lalu dibebaskan pada April 1922.
Pemikirannya Tjokroaminoto tertuang dalam artikel yang ditulisnya berjudul "Islam dan Sosialisme" di media Soeara Boemiputera. Dan ia menghembuskan nafas terakhirnya pada 17 Desember 1943.
Orang-orang Belanda menyebut HOS Tjokroaminoto sebagai Ongekroon van Java atau "Raja Jawa tanpa Mahkota". Sebutan ini tentu bukan tanpa alasan. Tjokroaminoto menjadi sosok paling berpengaruh pada masa itu, ketika ia memimpin organiasi kebangsaan bernama Sarekat Islam (SI).
Pemikiran Tjokroaminoto
Tjokroaminoto menjadi sosok yang paling bepengaruh dimasanya, terutama ketika ia menjabat sebagai pimpinan organisasi Sarekat Islam (SI). Pemikirannya tercermin dalam tulisannya tersebut "Islam dan Sosialisme". Pemikiran Tjokroaminoto semakin terlihat ketika ia merubah nama Saerkat Dagang Islam (SDI) menjadi SI. Menurutnya, kata "dagang" sangat membatasi ruang gerak organisasi.
Ia menginginkan organisasi tersebut, tak hanya berkecimpung dalam bidang ekonomi, melainkan juga bidang politik. Itulah yang menjadi alasan Tjokroaminoto, kenapa SDI diubah menjadi SI. Berdasarksn hal tersebut, nampak jelas bahwa Tjokroaminoto memiliki perhatian pada politik. Dan pada akhirnya, SI lebih banyak bergerak dalam bidang politik daripada menangani urusan ekonomi.
Tjokroaminoto meletakkan tiga dasar tujuan SI yaitu asas agama, kerakyatan, dan sosial-ekonomi. Asas ini kemudian dirumuskan olehnya menjadi tujuan SI yakni "Memajukan semangat perdagangan Bumiputra, membantu anggota-anggota yang kesulitan, memajukan perkembangan spiritual, dan minat dibidang materi di kalangan Bumiputra dan menentang salah paham terhadap Islam serta memajukan kehidupan beragama,".
Salah satu hasil pemikiran Tjokroaminoto yang paling terkenal adalah tentang perpaduan Islam dan Sosialisme, yang akhirnya bermuara pada konsep demokrasi. Gagasan tersebut merupakan reaksinya atas atas kondisi SI di Semarang di bawah Semaoen, Darsono, yang cenderung radikal dengan condong ke arah komunisme.
Menurut Tjokroaminoto Islam dan Sosialisme dapat berjalan beriringan karena mengusung tujuan serupa, yaitu membela manusia dari penindasan yang dilakukan oleh manusia lainnya. Baginya, tanpa dasar agama (Islam), sosialisme tidak akan bisa berjalan dengan baik, bahkan bisa menyesatkan dan membawa kerusakan kepada manusia.
Selain itu, HOS Tjokroaminoto juga ingin menunjukan bahwa menjadi seorang sosialis bagi seorang muslim tidak perlu menjadi seorang Marxis apalagi seorang komunis. Prinsip dari sosialisme menurut Tjokroaminoto bisa menjadi sempurna apabila tujuan hidup dari tiap-tiap manusia tidak hanya untuk mengejar keperluan dan kesenangan biasa, yaitu kesenangan dunia, tetapi manusia hendaklah mengejar tujuan hidup yang lebih tinggi.
Sosialisme menghendaki cara hidup satu untuk semua dan semua untuk satu. Tjokroaminoto menjelaskan tentang ini yaitu cara hidup yang hendak mempertunjukan kepada kita bahwa kita satu sama lain. Selanjutnya, Tjokroaminoto membagi sosialisme Islam pada tiga anasir yaitu kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan.
"Bahwa rasa persaudaraan dan persatuan dalam dunia Islam, aitu dasar yang sungguh-sungguhnya bagai sosialisme, tiada akan pernah mati bahkan akan selalu bertambah-tambah di dalam hati umat Islam. Bagi kita orang Islam, tidak ada sosialisme atau rupa-rupa isme yang lain-lainnya yang lebih baik, lebih elok, dan lebih mulia selain sosialisme yang berdasarkan Islam, itu saja," demikian katanya, seperti dikutip dari buku Tokoh Pemikir Karakter Bangsa, 2015.
