![]() |
| Membiasakan membaca buku dari hal sederhana |
Pada hari ini Kamis, 3 November 2022 adalah jadwal saya piket di sekolah tempat saya mengajar. Seperti biasa sebelum berangkat saya selalu mempersiapkan buku apa yang akan saya bawa untuk dibaca. Pada hari ini saya membawa tiga buku, yang satu tentang jurnalistik, dua buku tentang pendidikan.
Buku pertama berjudul "Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran". Buku kedua, berjudul Pengembangan Kurikulum". Dan buku ketiga, berjudul "Jurnalisme Menggerakan: Teknik Menulis Berita Lingkungan yang Menarik".
Sebetulnya saya membawa buku bukan hanya ke sekolah saja, tapi kemanapun saya selalu membawanya didalam tas. Bukan untuk mencari perhatian, tapi kebiasaan ini sudah saya lakukan semenjak saya kuliah, karena menurut saya agar kita menyukai suatu hal yang sulit, bisa dilakukan dengan pembiasaan.
"Bisa karena biasa,"demikian kata orang tua zaman dulu.
Jujur, dulu saya tidak suka membaca buku, apalagi menulis. Membaca buku memang salah satu aktivitas baik tapi sangat membosankan, karena itulah kita malas untuk membacanya. Maka membaca itu membutuhkan kesadaran yang didasarkan pada keyakinan.
"Buah dari membaca adalah ilmu, sementara akarnya adalah akidah," demikian kata Abd Misno Mohd Djahri dalam artikel sebelumnya berujudul "Motivasi Membaca".
Apa yang membuat kita malas membaca buku, bisa jadi karena kita belum memiliki keyakinan yang kuat. Keyakinan adalah dasar kenapa kita harus membaca, sama hal nya alasan kenapa Rosulullah SAW harus berperang melawan ribuan pasukan, padahal pasukannya sedikit, tapi akhirnya ia menang juga. Ini karena kyakinan.
Ciri kuatnya keyakinan itu ada dalam niat kita. Apakah kita benar-benar niat membaca buku karena Allah SWT, atau niat hanya karena ingin menjadi cerdas, atau banyak pengetahuan. Ingat meskipun benar bahwa membaca adalah kuncinya ilmu pengetahuan, tapi niat kita jangan berpatokan pada bisa atau tidaknya.
Masalahnya banyak orang yang mencoba membiasakan membaca buku, tapi karena ia tidak paham apa yang dibacanya akhirnya ia membaca bukunya berhenti ditengah jalan. Ia menganggap "kok saya gak bisa-bisa ya,". Kenapa ini bisa terjadi? karena niatnya yang salah dan keyakinannya yang lemah.
Sama halnya ibadah alasannya karena ingin masuk surga, bukan karena ingin mencari ridho-Nya Allah SWT, padahal surga dan neraka itu milik Allah, maka sekalipun kita masuk neraka, apabila Allah tidak meridhoinya maka api neraka itu tidak akan terasa panas. Lagi pula Allah SWT maha bijaksana, untuk mendaptkan Ridho-Nya ada di orang tua kita.
“Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan kedua orang tua” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim)
"Menuntut ilmu itu hukumnya wajib, bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan” (HR. Muslim).
Jelas bahwa dalam hadist ini yang wajib adalah mencarinya bukan bisa atau tidaknya. Jangan ada niat bahwa mencari ilmu itu ingin cerdas, karena cerdas itu sebab dari perbuatan yang kita lakukan. Niatkan saja bahwa membaca buku adalah bagian dari ibadah, nanti juga kita akan merasakan manisnya buah dari ilmu itu.
Hukum sebab akibat adalah aliran filsafat kritis dari seorang filsuf Jerman bernama Imanuel Kant yang disebut hukum kausalitas (sebab-akibat). Dalam kitab "Tangkih Qaol" juga disebutkan "Likulli Syai'in Sababan" yang artinya setiap segala sesuatu pasti memiliki sebab. Ada pencipta ada yang diciptakan, ada anak karena ada orang tua, ada makhluk karena adanya khalik, dan seterusnya.
Saya dulu pernah mondok di salah satu pondok pesantren Salafi di kampung saya, kemudan karena kuliah saya pindah. Pada waktu itu saya kuliah pulangnya ke pondok. Saya ngaji kitab "Matan Ta'lim". Disana dijelaskan tentang tata cara mencari ilmu, salah satunya membahas tentang kewajiban menuntut ilmu dan soal niat.
Mungkin kita sudah pernah mendengar dalam hadist baik tentang kewajiban mencari ilmu maupun tentang keutamaan niat. Setiap amalan tergantung niatnya, amalan seperti apa yang dimaksudkan? yaitu amalan baik, bukan tentang habluminallah saja tetapi hablumniannas dan habluminalamnya juga.
Membaca adalah bagian dari mencari ilmu, dan mencari ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, baik tua maupun muda. Mencari ilmu juga dimulai dari kita lahir, hingga kita meninggal, karena meninggal adalah titik dimana terputusnya amalan kita di dunia.
Lukman Abunawas memegang teguh pesan Rasulullah SAW yakni "utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi". “Artinya, tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat,". Dalam menuntu ilmu, tidak ada batasan usia, dan pada kurikulum pendidikan, kita mengenalnya pendidikan sepanjang hayat.
Menjadikan Buku Sebagai Sahabat
![]() |
| Menjadikan buku sebagai sahabat yang menemani kita sepanjang hari |
Berdasarkan narasi di atas setidaknya ada tiga hal yang harus kita lakukan agar kita menyukai membaca buku, yaitu keyakinan, niat, dan pembiasaan. Kebiasaan membaca buku dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana, salah satunya menjadikan buku sebagai sahabat kita, dimanapun dan kapanpun.
Ini adalah pengalaman saya ketika kuliah. Saya awalnya tidak senang membaca buku, tapi karena saya membiasakan membawa buku kemanapun, akhirnya saya suka membaca. Dari awalnya sekedar melihat warna jilid, membaca judul, melihat daftar isi, dipegang hingga rikas akhirnya saya suka membaca.
Memang benar dalam sebuah sholawat berbahasa Sunda di kampung saya disebutkan bahwa ada enam syarat agar kita bisa berhasil menuntut ilmu salah atunya dengan menjaga pergaulan (memilih teman dan sahabat). Berikut ini adalah bunyi sholawatnya;
"Soli Wasalim Yarobi, Ala Nabi Sayidina, Muhamadin Wa'alihi, Wahsohbihi Ajma'in. Eling-eling kasadaya, nyiar elmu anu mulya, moal hasir rek timuna sehingga genep saratna; kahiji seukeut hatena, kadua temen ngajina, katilu gede sobarna, kaopat cukup bekelna, kalima pinter guruna, kagenep lila mangsana, eta kitu pertingkahna mun hayang hasil elmuna,"
Artinya: "Sadar-sadar semuanya, mencari ilmu adalah mulia, tapi tidak akan hasil suatu ilmu sehingga ada enam syaratnya: kahiji, sekeut hatena (pertama: kritis), kadua: temen ngajina (kedua: pergaulan), katilu gede sobarna (ketiga: harus sabar), kaopat cukup bekelna (ketiga: cukup biaya/modalnya), kaopat lila mangsana (keempat: lama belajarnya), kalima pinter guruna (kelima: pintar gurunya),".
Buku telah menjadi teman sekaligus sahabat saya zaman dulu. Meskipun buku adalah benda mati, tapi lambat laun akan membentuk identitas kita. Bagaimana tidak, karena saya sering membawa buku ke kampus ditenteng di tas kecil, akhirnya menggiring persepsi orang lain bahwa saya cerdas, bahwa saya pintar karena sering membawa buku.
Padahal, kita tahu bahwa membawa buku belum tentu dibaca, tapi kalau kita membiasakan dari sekedar membawa, pasti ada saja yang kita baca. Setidaknya saat kita bosan, duduk dikursi panjang depan kampus, kita bisa melihat lagi judulnya, warna covernya, kemudian nama penulisnya dan lain sebagainya.
Dalam menuntut ilmu, pergaluan menjadi sangat penting, karena pergaulan itu bisa mempengaruhi karakter dan identitas kita. Jika kita bergaul dengan Kyai maka orang akan memandang kita sebagai santrinya, jika kita bergaul dengan orang yang sedang mencangkul maka kita kan kecipratan lumpurnya, jika kita bergul dengan orang yang suka mencuri, maka meskipun kita tidak ikut mencuri, setidaknya kita akan ikut makan hasil curiannya meskipun kita tidak tahu.
Menjadikan buku sebagai sahabat, berarti kita punya pergaulan dengan buku. Meskipun saat kita membawa buku ditempat umum, apalagi dilingkungan mahasiswa yang tidak suka membaca buku, kadang ada saja yang mengejek bahwa kita membawa buku hanya ingin dikatakan pintar, atau kadang dikatakan cari muka didepan dosen.
Itu memang tantangannya, kuping kita harus kuat kalau ada teman kita atau siapapun itu yang berprasangka negatif terhadap kita. Maka, seperti yang sudah saya sebutkan diatas, membaca buku bukan saja membutuhkan mental tapi juga membutuhkan keyakinan dan niat yang tulus. Hiraukan saja apabila teman kita atau siapaun yang mengatakan negatif tentang kita, karena kita hanya ingin bersahabat dengan buku.
"Ikhlas dalam membaca buku menjadi sebab masuknya ilmu ke dalam diri kita," Abd Misno Mohd Djahri.
Sementara itu, persepsi orang bahwa yang mententeng-tenteng buku adalah pintar, bisa jadi persepsi mereka akan menjadi doa, sedangkan yang awalnya hanya kebiasaan kemudian bisa menjadi karakter kita. Kita akan kembali pada hukum sebab akibat, bahwa apa yang kita dapatakan bukan saja tentang apa yang kita tanam, tetapi kebiasaan baik apa yang kita rawat, maka kita akan mendapatkan hasilnya. Hasilnya apa? kita tetap akan membaca sepanjang hayat.
"Bila harus memilih apakah bersama dengan buku atau makanan? Maka aku memilih buku. Karena bersama buku hidup akan lebih bermutu. Bacalah dengan menyebut Rabbmu ...,"
Demikian semoga bermanfaat ...

